
Orang Indonesia menyebutnya pintar. Genius kata orang bule, tensai kata orang Jepang, pintar, tahu banyak dalam segala hal. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari cerita orang-orang dan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Sepintas tidak ada yang menarik dari dirinya, tidak jauh beda dari orang kebanyakan, tidak berfisik sempurna, tidak berwajah sempurna. Tapi dia adalah siswa terbaik di sekolahnya, musisi paling handal di tempat lesnya, bocah dengan wawasan luas yang tidak biasa dibanding teman sebayanya, tidak pernah gagal menjawab bidang apapun yang ditanyakan padanya. Siapapun membicarakannya dan ingin mengenalnya lebih dekat. Mengenal sehingga, saat dia jadi orang penting kelak, mereka bisa bercerita bahwa mereka pernah kenal baik dengan si genius itu. Ada pula yang hanya sekedar ingin menimba seember pelajaran dalam bidang-bidang yang dia geluti. Superb. Hebat. Mangagumkan. Maka saya tertarik untuk mendekatinya, mencari tahu tentangnya, dan kini menjadi salah satu teman dekatnya. ”Hebat?” Matanya mengerut tidak mengerti. ”Aku?” Saya mengangguk. Dia tercenung sesaat. “Aku hebat?” ulangnya. “Yang lebih hebat, banyak,” lanjutnya meniru sebuah iklan. Saya mengerutkan dahi. ”Maksudmu?” ”Masa kau tidak pernah dengar kalimat ’selalu ada langit di atas langit’?” Saya terdiam. Tentu saja saya mengerti. Bagi saya yang tidak pernah bisa melihat kelebihan diri sendiri di banding para orang hebat yang saya tahu, maka istilah itu telah bergeser menjadi ’langit selalu ada di atas sana’, terlihat, namun tak pernah terjangkau. Dan itu sungguh meletihkan sekaligus memuakkan. Cukup sudah berceramah mengenai sikap rendah hati dan mawas diri. Saya sudah terlalu paham, hingga sakit rasanya memikirkan sebuah kemungkinan dimana saya tidak akan memiliki keberanian lagi untuk mengangkat dagu sebagai yang terbaik. Hanya tak pernah terpikirkan oleh saya, dia, yang tahu segala itu akan berkata demikian. ”Kata-kata itu apa masih berlaku untukmu?” tanya saya ingin tahu. Dia tertawa. ”Tentu saja,” katanya. ”Kalau tidak, berarti aku mati.” Saya tertegun. ”Tidak ada orang hebat. Bohong itu,” katanya lagi. ”Yang ada hanya orang-orang yang bekerja keras, mengorbankan banyak hal.” ”Aku tidak pernah melihatmu bekerja keras.” ”Berarti kamu tidak benar-benar mengenalku.” Saya terdiam mendengar kata-katanya. Sungguh. Saya pikir ini omong kosong, mendengar dia yang selalu terlihat mampu melakukan hal-hal sulit dengan mudah berkata seperti itu. Saya membayangkan dia, dengan segudang kelebihan dan kesibukan yang dia miliki, masih selalu bisa tertawa saat bersama, bergosip banyak hal, dan melakukan hal-hal tidak penting lainnya. Di mana kerja kerasnya? Yang ada dia kembali membuat saya makin cemburu dengan kemudahan hidupnya. ”Tidak mungkin,” gumam saya. Dia tersenyum. ”Mungkin,” ujarnya. Saya memandangnya. ”Anggap saja kita berada di langit yang berbeda.” Saya mengerutkan dahi. ”Kamu sedang mengincar langitku, memandang dengan letih ke sana, sementara aku juga masih terduduk di dasar langitku, memandang kelelahan mereka yang mendahuluiku menuju langit di atasku.” Dia menoleh dan memberikan cengiran polos sekaligus bangganya. Cengiran yang selalu membuat saya ingin meninjunya. Tapi tidak saya lakukan. ”Jadi, anggap saja sedang sama-sama berjuang.” ”Berarti aku tidak akan pernah bisa menyusulmu.” Saya cemberut. Dia tertawa kecil. ”Bisa saja,” katanya ringan. ”Kalau kau terbang lebih cepat dariku. Tapi kan tidak harus begitu.” Saya terdiam. Mungkinkah untuk terbang lebih cepat darinya? Saya memperhatikannya lagi dan baru menyadari lingkar-lingkar hitam itu menghiasi kelopak matanya samar-samar. Saya tahu dia pasti begadang lagi. Mungkin insomnianya kumat. Itu kebiasaannya. Saya lantas teringat dia selalu tidur larut karena baginya malam adalah saat terbaik untuk belajar. Dia bilang malam adalah saat terbaik untuk mencari inspirasi tulisan-tulisannya. Dia selalu bangun lebih awal karena menurutnya pagi buta adalah waktu yang tersisa baginya untuk melatih kemampuan musiknya. Dia selalu terlihat bersama buku karena dia menganggap membaca adalah sesuatu yang bisa dia lakukan di sela-sela kegiatan lainnya. Baru saya sadari, dia memang selalu terlihat santai, tapi dia tidak pernah melupakan semua rutinitas itu. Dia bekerja lebih keras dari siapapun. Dia tidak sesantai perkiraan saya. Dia juga sama seperti saya dan lainnya. Terus berkembang. Terus hidup. Tidak mati. ”Apakah kau pernah berpikiran sama?” tanya saya. ”Bahwa kau tidak akan pernah bisa menyamai mereka yang berada di atasmu?” ”Ya, dulu.” ”Sekarang?” ”Tidak terlalu. Aku mencoba menggerakkan kepala.” ”Menggerakkan?” Dia mengangguk. Senyum itu belum hilang dari wajahnya. ”Manusia itu,” katanya. ”Punya kecenderungan untuk tidak berpuas diri. Tapi kalau terus melihat ke atas, leherku bisa salah urat. Jadi, kuputuskan untuk memandang ke bawah sesekali,” sambungnya lagi sambil mengambil sejumput mie ayam dari piring saya dengan garpunya. Saya biarkan. Entah kenapa, walaupun sebal dengan gayanya, saya selalu ingin terus mendengar semua kata-katanya hingga akhir. Saya menemukan, walau dengan gaya seperti itu, dia selalu mampu mengemukakan pernyataan-pernyataan yang justru membuat saya merenung dan belajar. Nah, lagi-lagi itu membuat saya iri. ”Kau juga bisa mencobanya,” sarannya. ”Supaya tidak salah urat,” cetusnya lagi dengan nada santai. Mau tidak mau kalimat itu membuat saya tersenyum kecil. Dia benar. Capek rasanya menengadah terus-menerus. Saya memperhatikannya menikmati nasi gorengnya dengan santai. Menyebalkan memang berteman dengan seorang jenius. Tapi saya sadar, tanpa dia dalam hidup saya, belum tentu saya merasakan sebuah semangat untuk terus menjadi lebih baik. Saya tidak banyak bermimpi bisa mencapainya kelak, tapi setidaknya, saya boleh berharap dengan mengenalnya akan membuat saya menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Berkembang. Hidup. Kami masih mengobrol banyak hal. Dia masih menyebalkan dengan sikap santainya seperti biasa. Saya masih menggerutu atasnya. Tapi saya menikmati kalimat demi kalimat yang kami bagi bersama. Saya masih tetap memuja dan mengaguminya walaupun rasa iri itu masih tetap ada.














