09 Oktober 2009

Sekedar Obrolan : iri



Orang Indonesia menyebutnya pintar. Genius kata orang bule, tensai kata orang Jepang, pintar, tahu banyak dalam segala hal. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari cerita orang-orang dan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.

Sepintas tidak ada yang menarik dari dirinya, tidak jauh beda dari orang kebanyakan, tidak berfisik sempurna, tidak berwajah sempurna. Tapi dia adalah siswa terbaik di sekolahnya, musisi paling handal di tempat lesnya, bocah dengan wawasan luas yang tidak biasa dibanding teman sebayanya, tidak pernah gagal menjawab bidang apapun yang ditanyakan padanya. Siapapun membicarakannya dan ingin mengenalnya lebih dekat. Mengenal sehingga, saat dia jadi orang penting kelak, mereka bisa bercerita bahwa mereka pernah kenal baik dengan si genius itu. Ada pula yang hanya sekedar ingin menimba seember pelajaran dalam bidang-bidang yang dia geluti.

Superb.

Hebat.

Mangagumkan.

Maka saya tertarik untuk mendekatinya, mencari tahu tentangnya, dan kini menjadi salah satu teman dekatnya.

”Hebat?”

Matanya mengerut tidak mengerti.

”Aku?”

Saya mengangguk. Dia tercenung sesaat.

“Aku hebat?” ulangnya. “Yang lebih hebat, banyak,” lanjutnya meniru sebuah iklan.

Saya mengerutkan dahi.

”Maksudmu?”

”Masa kau tidak pernah dengar kalimat ’selalu ada langit di atas langit’?”

Saya terdiam.

Tentu saja saya mengerti. Bagi saya yang tidak pernah bisa melihat kelebihan diri sendiri di banding para orang hebat yang saya tahu, maka istilah itu telah bergeser menjadi ’langit selalu ada di atas sana’, terlihat, namun tak pernah terjangkau. Dan itu sungguh meletihkan sekaligus memuakkan. Cukup sudah berceramah mengenai sikap rendah hati dan mawas diri. Saya sudah terlalu paham, hingga sakit rasanya memikirkan sebuah kemungkinan dimana saya tidak akan memiliki keberanian lagi untuk mengangkat dagu sebagai yang terbaik. Hanya tak pernah terpikirkan oleh saya, dia, yang tahu segala itu akan berkata demikian.

”Kata-kata itu apa masih berlaku untukmu?” tanya saya ingin tahu.

Dia tertawa.

”Tentu saja,” katanya. ”Kalau tidak, berarti aku mati.”

Saya tertegun.

”Tidak ada orang hebat. Bohong itu,” katanya lagi. ”Yang ada hanya orang-orang yang bekerja keras, mengorbankan banyak hal.”

”Aku tidak pernah melihatmu bekerja keras.”

”Berarti kamu tidak benar-benar mengenalku.”

Saya terdiam mendengar kata-katanya. Sungguh. Saya pikir ini omong kosong, mendengar dia yang selalu terlihat mampu melakukan hal-hal sulit dengan mudah berkata seperti itu. Saya membayangkan dia, dengan segudang kelebihan dan kesibukan yang dia miliki, masih selalu bisa tertawa saat bersama, bergosip banyak hal, dan melakukan hal-hal tidak penting lainnya.

Di mana kerja kerasnya?

Yang ada dia kembali membuat saya makin cemburu dengan kemudahan hidupnya.

”Tidak mungkin,” gumam saya.

Dia tersenyum.

”Mungkin,” ujarnya. Saya memandangnya. ”Anggap saja kita berada di langit yang berbeda.”

Saya mengerutkan dahi.

”Kamu sedang mengincar langitku, memandang dengan letih ke sana, sementara aku juga masih terduduk di dasar langitku, memandang kelelahan mereka yang mendahuluiku menuju langit di atasku.”

Dia menoleh dan memberikan cengiran polos sekaligus bangganya. Cengiran yang selalu membuat saya ingin meninjunya. Tapi tidak saya lakukan.

”Jadi, anggap saja sedang sama-sama berjuang.”

”Berarti aku tidak akan pernah bisa menyusulmu.”

Saya cemberut. Dia tertawa kecil.

”Bisa saja,” katanya ringan. ”Kalau kau terbang lebih cepat dariku. Tapi kan tidak harus begitu.”

Saya terdiam.

Mungkinkah untuk terbang lebih cepat darinya?

Saya memperhatikannya lagi dan baru menyadari lingkar-lingkar hitam itu menghiasi kelopak matanya samar-samar. Saya tahu dia pasti begadang lagi. Mungkin insomnianya kumat. Itu kebiasaannya. Saya lantas teringat dia selalu tidur larut karena baginya malam adalah saat terbaik untuk belajar. Dia bilang malam adalah saat terbaik untuk mencari inspirasi tulisan-tulisannya. Dia selalu bangun lebih awal karena menurutnya pagi buta adalah waktu yang tersisa baginya untuk melatih kemampuan musiknya. Dia selalu terlihat bersama buku karena dia menganggap membaca adalah sesuatu yang bisa dia lakukan di sela-sela kegiatan lainnya.

Baru saya sadari, dia memang selalu terlihat santai, tapi dia tidak pernah melupakan semua rutinitas itu. Dia bekerja lebih keras dari siapapun. Dia tidak sesantai perkiraan saya. Dia juga sama seperti saya dan lainnya.

Terus berkembang.

Terus hidup.

Tidak mati.

”Apakah kau pernah berpikiran sama?” tanya saya. ”Bahwa kau tidak akan pernah bisa menyamai mereka yang berada di atasmu?”

”Ya, dulu.”

”Sekarang?”

”Tidak terlalu. Aku mencoba menggerakkan kepala.”

”Menggerakkan?”

Dia mengangguk. Senyum itu belum hilang dari wajahnya.

”Manusia itu,” katanya. ”Punya kecenderungan untuk tidak berpuas diri. Tapi kalau terus melihat ke atas, leherku bisa salah urat. Jadi, kuputuskan untuk memandang ke bawah sesekali,” sambungnya lagi sambil mengambil sejumput mie ayam dari piring saya dengan garpunya.

Saya biarkan. Entah kenapa, walaupun sebal dengan gayanya, saya selalu ingin terus mendengar semua kata-katanya hingga akhir. Saya menemukan, walau dengan gaya seperti itu, dia selalu mampu mengemukakan pernyataan-pernyataan yang justru membuat saya merenung dan belajar.

Nah, lagi-lagi itu membuat saya iri.

”Kau juga bisa mencobanya,” sarannya. ”Supaya tidak salah urat,” cetusnya lagi dengan nada santai.

Mau tidak mau kalimat itu membuat saya tersenyum kecil. Dia benar. Capek rasanya menengadah terus-menerus. Saya memperhatikannya menikmati nasi gorengnya dengan santai. Menyebalkan memang berteman dengan seorang jenius. Tapi saya sadar, tanpa dia dalam hidup saya, belum tentu saya merasakan sebuah semangat untuk terus menjadi lebih baik. Saya tidak banyak bermimpi bisa mencapainya kelak, tapi setidaknya, saya boleh berharap dengan mengenalnya akan membuat saya menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Berkembang.

Hidup.

Kami masih mengobrol banyak hal. Dia masih menyebalkan dengan sikap santainya seperti biasa. Saya masih menggerutu atasnya. Tapi saya menikmati kalimat demi kalimat yang kami bagi bersama. Saya masih tetap memuja dan mengaguminya walaupun rasa iri itu masih tetap ada.

Read More..

26 September 2009

Malaikat Yang ingin Menjadi Manusiawi





Judul: Kau Memanggilku Malaikat
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia
Halaman: 217 halaman

“…………………. Itulah sayap mereka yang masih akan terus membuat terbang, melayang, membayangkan apa saja kadang dengan duka, kadang dengan air mata. Air mata, itulah sebenarnya sayap yang paling penuh makna. Aku berharap memilikinya.” (Kau memanggilku Malaikat, Arswendo Atmowiloto)

Kau Memanggilku Malaikat berkisah tentang seorang malaikat maut yang menjalankan tugasnya menjemput manusia-manusia yang mencapai ajalnya dan menemani mereka sebelum mereka berpindah ke suatu dimensi yang tidak diketahu, bahkan oleh sang malaikat itu sendiri . Dalam masa-masa pendampingan itulah sang malaikat terlibat dalam sejumlah pembicaraan-pembicaraan ringan yang berujung pada sebuah kontemplasi yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Sang malaikat mulai berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang sangat beruntung.

Ada yang berkata bahwa Tuhan menciptakan tiga makhluk dengan karakteristik yang berbeda dari sumber yang berbeda. Ada malaikat yang tercipta dari cahaya yang diatkdirkan untuk selalu patuh tanpa nafsu. Ada iblis yang tercipta dari api dan ditakdirkan memiliki karakter penentang, penuh nafsu dan hasrat. Terakhir, ada manusia yang terbuat dari tanah dengan karakter relatif dan unik, sebuah kombinasi antara hati nurani, nafsu, akal dan perasaan. Kombinasi yang mempertimbangkan hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah, sebuah karakter abu-abu yang tidak dapat ditebak. Mungkin itu pula sebabnya manusia diangkat sebagai makhluk paling mulia. Bahkan Sang Pencipta pun sangat menikmati hasil eksperimen yang satu ini.

Kesan itulah yang saya tangkap setelah membaca novel ini. Saya tidak berani menjamin apakah memang itu yang sedang dicoba untuk disampaikan oleh penulisnya atau bukan. Membaca lembar demi lembar kisah, saya seolah disuguhi berbagai ragam kehidupan manusia, pahit, manis, asam, getir, tutty-frutty istilahnya. Ada kejahatan, ada kebaikan, ada kegetiran, ada kehangatan, ada penyerahan, ada semangat. Semuanya membuat hidup manusia menjadi berwarna dan berarti.

Dengan indah, melalui tokoh Di yang misterius dan Tesarini yang selalu ingin tahu dan mencari tahu saya merasa diingatkan kembali dengan pentingnya bermimpi dan berusaha untuk menjadi hidup. Seperti saat tokoh Tesarini mencoba menjelaskan kepada sang malaikat melalui teorinya menganai daya hidup, bahwa berbagai pertemuan yang dialami oleh malaikat dengan berbagai macam kematian manusia seharusnya mampu membuat dia merasakah sesuatu dan berempati. Melalui sikap spontannya pula si kecil Di mencoba menjelaskan pada malaikat bahwa usaha dibutuhkan untuk membuat sesuatu menjadi bermakna, bahwa takdir bukanlah sesuatu yang kaku, bahwa kita masih mempunyai ruang untuk mencoba, berjuang, dan bahwa merasakan pedih, puas dan gembira adalah sesuatu yang indah.

Bahwa menjadi manusiawi adalah suatu berkah yang maha Kuasa.
Read More..

Renungan Dalam Sebuah Tulisan




Judul: A Cat in My Eyes
Pengarang: Fahd Djibran
Tebal: 160 halaman
Penerbit: gagasmedia

Renungan terkadang mampu menghasilkan sebuah pemahaman atau konsep yang tidak kecil dan tidak biasa. Mungkin itulah yang ingin coba dibagi oleh Fahd Djibran kepada pembacanya dalam a Cat in My Eyes. Seperti penulisnya, saya pribadi lebih suka menyebut buku ini sebagai sebuah kumpulan tulisan daripada kumpulan cerpen. Kenapa? Karena tidak semua karya dalam buku ini berupa cerita pendek. Ada puisi, renungan pendek, bahkan penulisnya menuangkan sekedar curahan hatinya di sana. Membacanya seperti membaca kompilasi tulisan dalam sebuah blog.

A Cat In My Eyes terdiri dari 28 tulisan yang hampir semuanya padat berisi dan layak menjadi sebuah bahan renungan. Mungkin renungan memang menjadi benang merah dari semua tulisan-tulisan Fahd. Tidak peduli panjang atau pendek, saya seolah diajak untuk ikut meresapi renungan dan pemahaman seorang Fahd mengenai Tuhan, kerinduan, kehampaan, kekecewaan dan kenangan lainnya. Saya seperti mendapat sebuah refleksi dari setiap rangkaian katanya.

Benar kata Dee Lestari dalam endorsementnya. Ada kedalaman yang selalu dia (Fahd) sertakan di sana.
Read More..

Para Perempuan Yang Mencintai Perempuan




Judul: Club Camilan
Penulis: Donna Talitha, Bella Widjaya, Brigitta NS
Penerbit: Gramedia
Halaman: 327 halaman

Tema lesbian bisa dibilang kalah populer dengan tema gay yang sering diangkat dalam novel populer belakangan ini. Namun seperti novel-novel tema homoseksual berbobot lainnya, novel ini mampu menyuguhkan sebuah kisah dari dunia lesbian yang penuh dengan hikmah dan nilai-nilai humanis serta nilai-nilai cinta yang bersifat universal. Membaca novel ini membuat saya kenyang dan puas, seolah menikmati secangkir kopi hangat dengan donat, bolu dan brownies sebagai camilannya. Manis dan..mmm… yummy.

Club camilan adalah novel yang disusun dari postingan blog yang berisi potongan-potongan kisah hidup tiga perempuan lesbian, Donna, perempuan yang tidak pernah bisa memilih salah satud ari perempuan-perempuan yang dicintainya yang masih tetap mencoba menjadi anak yang berbakti pada keluarga dan agamanya, Bee yang selalu mencoba terlihat normal namun pada akhirnya harus menyerah pada kata hatinya, dan Nies yang selalu merasa ragu dan gamang karena bayang-bayang masa lalud an rasa bersalahnya. Mereka bertiga berbagi cerita tentang hidup, keluarga, cinta , pencarian jati diri dan perempuan-perempuan yang penting dalam kehidupan mereka.


“….Kalau saya pulang, saya akan menguraikan masalah saya satu persatu. Sekarang jika saya akan pergi meninggalkan Jakarta, maka saya akan meninggalkan masa lalu di belakang…”

Bagi Donna all out mengenai orientasi seksualnya di hadapan keluarganya benar-benar menjadi hal yang sangat rumit, serumit saat dia harus memilih kekasih yang paling dicintainya. Ibunya adalah segalanya dan Donna tidak ingin mengecewakannya, bahkan hingga detik-detik terakhirnya. Sikap Donna membuat saya berpikir misalkan lesbian adalah sebuah dosa besar, apakah ornag-orang seperti Donna yang begitu menyayangi ibunya dan tetap setia menjalankan ibadahnya akan tetap dilaknat oleh tuhan? Apakah segala kebaikan itu akan hangus hanya karena dia mencintai perempuan?

“……..Langit sudah benar-benar gelap ketika aku turun. Kubuka pintu kaca keluar di lobi, menunggu lelaki yang seharusnya menjadi pacarku di sana.”

Mengakui sesuatu yang pada awalnya kita anggap nista dan bertentangan dengan norma masyarakat bukan perkara yang mudah. Bee terombang-ambing pada situasi tersebut saat dia memutuskan orientasi seksualnya. Dia menyukai Rico, laki-laki pilihan ibunya sekaligus menyukai Eve, teman yang dikenalnya di suatu pesta. Pada akhirnya dia memutuskan memilih untuk tetap berada dalam daerah abu-abu, berlindung di balik sebuah ikatan kamuflase demi sebuah solusi yang aman.

“……….Hati selalu membutuhkan rumah untuk kembali. Tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lama. Selama ada harapan dan usaha untuk mewujudkannya, hanya perlu membuka pintunya dan membiarkannya terisi harapan dan kebahagiaan.”

Melupakan cinta masa lalu bukan sebuah hal mudah. Memutuskan untuk menggantinya dengan yang baru menjadi hal yang lebih sulit dilakukan, bahkan bagi seorang lesbian seperti Nies. Kata siapa lesbian mudah berganti pasangan? Kata siapa lesbian tidak bisa setia? Nies merasa hancur ketika cintanya memutuskan hubungan secara sepihak hanya karena perempuan itu tidak ingin mengecewakan keluarganya. Apa cinta memang harus mengalah pada norma masyarakat? Begitu nistanyakah orang-orang seperti dirinya? Alasan itulah yang membuat Nies menolak Aiko, gadis yang memutuskan untuk menjadi lesbian dan mencintai nies. Aiko tidak boleh jatuh dalam lubang yang sama dengannya. Di luar perkiraan keputusan itu justru menyakiti Aiko. Dalam kegamangan Nies kemudian menemukan jawaban dari seseorang yang tidak dia sangka.
Read More..

Autisme Bagi Seorang Remaja


Judul : The Boy Who Ate Stars
Pengarang : Kochka
Penerjemah : Sarah Adams
Halaman : 104 halaman
Penerbit : GPU

……………………………………..
Autistik: orang yang menderita autisme.
Autisme (dari bahasa Yunani autos, diri sendiri): penarikan diri patologis ke dalam dunia batin yang mengakibatkan hilangnya kontak dengan orang lain
…………………………………..
” (The Boy Who Ate Stars, Kochka)

Autisme adalah kondisi dimana seseorang sejak lahir atau saat balita tidak dapAT membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal, sehingga anak tersebut terisolasi dari manusi lain dan masuk dalam kehidupan repetitif (pengulangan), aktifitas dan minat yang obsesif (Baron Cohen, 1993 dalam wikipedia).

Menurut Power (1989) ada 6 macam gangguan autisme pada anak, yaitu: interaksi sosial, komunikasi-bahasa, perilaku emosi, pola bermain, gangguan sensoris, perkembangan tidak normal atau terhambat. Gejala autisme secara umum meliputi: hambatan dalam berkomunikasi. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan objek di sekitarnya, kesulitan dalam merangkai peristiwa-peristiwa yang terjadi, bermain dengan mainan atau benda lain secara tidak wajar, sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali, gerakan tubuh yang berulang atau pola-pola perilaku tertentu.

Di Indonesia sendiri penanganan terhadap anak-anak autisme masih dianggap sebagai masalah yang krusial. Hal-hal paling mendasar yang membutuhkan perhatian khusus seputar penanganan penderita autis meliputi minimnya tenaga ahli yang kompeten di bidang ini dan minimnya pengetahuan masyarakat dan para orang tua mengenai autisme dan penanganannya. Kurangnya panduan baku mengenai penanganan penderita autis dan belum tersedianya pendidikan terpadu bagi penderita autis juga menjadi masalah lain yang patut diperhatikan dalam menangani masalah aitisme. Umumnya penanggulangan terhadap penderita autisme dilakukan melalui sejumlah terapi terpadu meliputi terapi bahasa, terapi berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan dan sebagianya.

Buku The Boys Who eats Stars adalah sebuah cerita yang berkisah tentang sikap seorang anak remaja bernama Lucy yang mengetahui anak tetangganya,Mathew yang baru berumur 4 tahun memiliki suatu keunikan dalam berperilaku dan berkomunikasi. Dari ibu Mathew dia mengetahui bahwa keunikan tersebut disebut sebagai autis. Lucy mencoba mencari tahu arti kata tersebut dan mendapatkan bahwa kata itu merujuk pada nama sebuah penyakit. Namun Lucy percaya bahwa Mathew sama sekali tidak sakit. Dia hanya merasa Mathew agak istimewa. Maka Lucy mengajak theo, sahabatnya untuk lebih memahami dan mengenal seorang Mathew. Lucy menemukan pengalaman baru bahwa menjelajahi dunia seorang autisme ternyata tidak kalah seru.

Melalui buku ini Kocha seolah mencoba menggambarkan bagaimana reaksi orang-orang terhadap seorang anak autis. Ada yang bisa memahami, seperti ibu mathew, ada yang langsung mengambil jarak, seperti orang tua Lucy atau justru ingin mencari tahu seperti Lucy dan sahabatnya. Amanat lain yang mencoba untuk disampaikan dalam cerita ini adalah bahwa autis bisa dihadapi dan disembuhkan perlahan-lahan dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Penderita autis tidak sakit. Mereka hanya agak istimewa.




Read More..

20 Juli 2009

Guru Lisa episode : POIN

Guru Lisa, adalah seorang guru piano di sebuah sekolah musik kecil di kota yang juga kecil. Sehari-hari dia selalu dikelilingi oleh murid-muridnya yang kecil. Bersama mereka dan teman-temannya guru Lisa banyak belajar pentingnya “bercermin” dan “memahami”.


**********************

Di tempat Lisa mengajar ada kebijaksanaan memberi poin bagi murid yang rajin berlatih atau menghafal lagu. Poin tersebut dikumpulkan untuk ditukar dengan hadiah. Penuh semangat murid-murid berlomba mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Sebetulnya Lisa tidak terlalu menyetujuinya. Bukan karena dia tidak ingin memberi muridnya penghargaan, tapi,

“Kasih 20.000 poin baru aku main,” kata Diki yang berumur 8 tahun.

“Itu kebanyakan!” balas Lisa.

Diki berpikir sesaat.

“15.000, deh.”

“15.000 tapi kamu mainkan juga lagu sebelumnya.”

“Tambahin lagi kalau gitu.”

“Enggak!” kata Lisa tegas.

“Bonus 5000 kalau aku ulang PR kemarin, ya?” pinta Diki penuh harap.

Lisa mulai merasa seperti berada di emperan Malioboro.

**************************************

bersambung.........
Read More..

Bila Putri Yakuza Menjadi Guru


Judul Dorama : GOKUSEN
Genre : action, drama-comedy, school crime

Menjadi guru bukan pekerjaan yang mudah. Butuh dedikasi dan pengorbanan yang tinggi agar bisa mendidik para siswanya dengan sempurna. Apalagi kalau murid-muridnya adalah para generasi muda yang penuh semangat dan di puncak rasa ingin tahu dan kreatifitasnya. Guru yang sesungguhnya bagi mereka tidak hanya sekedar orang-orang yang berdiri di depan mereka, menjelaskan dan menuliskan materi di papan tulis, memberi PR dan memeriksa tugas mereka, mengawasi ujian dan memberi nilai rapot.


Remaja dan anak-anak tidak sekedar membutuhkan orang yang bisa menjelaskan mereka materi pelajaran yang sulit. Terkadang mereka juga membutuhkan tempat untuk bisa berbagi dan belajar mengenai hidup, nilai persahabatan dan tanggungjawab. Membimbing mereka untuk menemukan jati diri, bersikap sportif dan berjuang. Menuntun mereka untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Menyemangati mereka untuk sebuah masa depan. Itulah yang sepertinya ingin digambarkan dalam dorama Jepang, Gokusen.

Gokusen bercerita tentang Yamaguchi Kumiko yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak umur tujuh tahun. Semenjak itu dia dibesarkan oleh kakeknya, seorang Yakuza dari keluarga Oedeo generasi ketiga. Sebetuknya kakeknya berharap Kumiko bisa meneruskan kekuasaan keluarganya dan menjadi pemimpin generasi keempat. Sayangnya, Kumiko sudah memiliki cita-cita sendiri, ingin menjadi seorang guru SMU seperti almarhum ayahnya. Kumiko akhirnya diterima menjadi guru di sebuah sekolah laki-laki bernama Shirokin Gakuen. Dia langsung diberi tugas sebagai wali kelas 3D yang, di luar dugaan, merupakan kelas buangan berisi murid-murid paling badung dan tidak berminat lagi dengan sekolah dan menghormati guru. Perlahan tapi pasti Kumiko mencoba mengembalikan semangat sekolah mereka dan menunjukkan bahwa merekapun bisa mempercayai guru.

Hal yang bisa dinikmati dari dorama ini adalah selain bisa melihat akting sejumlah actor muda Jepang macam Jun Matsumoto (Hana Yori Dango), Shun Oguri (Hanazakari Kimi Tachi e), Jin Nakashi dan Kame (personel boyband KAT-TUN) dan masih banyak lagi, Gokusen juga menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan remaja pria. Tawuran antar sekolah, genk, solidaritas dan sportifitas, percaya diri dan semangat untuk berjuang banyak dieksplorasi dalam plot ceritanya. Hal yang paling saya suka adalah saat Yankumi (nama panggilan Kumiko yang diberikan oleh murid-muridnya) berceramah mengenai nilai-nilai kehidupan setelah membantu murid-muridnya keluar dari masalah-masalahnya.

Gokusen mengusung tema drama-komedi sekolah. Sejauh ini Gokusen sudah dibuat hingga tiga season dimana setiap season bercerita tentang Yamaguchi kumiko di sekolah yang berbeda. Kesamaan dari setiap season adalah Kumiko selalu kebagian menangani kelas 3D yang terdiri dari gerombolan anak-anak bandel. Sejumlah pelajaran yang bisa dipetik dari dorama ini adalah bahwa ternyata di sekolah kita tidak hanya belajar mengenai hal-hal akademis, namun juga mengenai hidup, persahabatan, tanggungjawab dan perjuangan. Selain itu Gokusen juga menggambarkan pada kita bahwa tidak semua yang dianggap buruk itu buruk dan tidak bisa diharapkan.

Jangan berharap ada kisah romantis di dorama ini. Justru perkelahian remaja menjadi menu wajib pada tiap episodenya. Tapi dari segi pesan yang di bawakan, saya tidak ragu untuk merekomendasikan, terutama bagi mereka, para guru yang butuh tips untuk menghadapi murid SMA yang super-duper bandel.. ^^


Read More..

Epistolary



Epistolary adalah teknik bercerita menggunakan sejumlah dokumen yang berurutan. Dokumen-dokumen ini bisa berupa surat, catatan harian, artikel atau jurnal, termasuk postingan blog atau email. Dokumen-dokumen tersebut saling berhubungan sehingga membentuk sebuah plot cerita. Epistolary sendiri berasal dari kata Yunani, epistola, yang berarti surat. Beberapa menganggap bahwa penggunaan teknik epostolary pada penulisan novel atau cerita bisa membuat cerita jadi terasa lebih hidup dan nyata.


Penggunaan dokumen-dokumen dalam sebuah novel bisa bermacam-macam tingkatnya. Ada novel yang hanya memasukkan sejumlah surat, postingan blog atau email dalam ceritanya, ada pula novel yang benar-benar menggunakan penulisan secara epistolary dari awal sampai akhir. Metode penggunaan teknik epistolary total bisa dilihat dari novel Brams Strokers’s Draculla (teknik epistolary menggunakan surat dan catatan harian), Every Boys Gets One milik Meg Abbot (menggunakan catatan harian dan email) atau novel-novel remaja yang menggunakan teknik epistolary menggunakan diary. Sedangkan penggunaan epistolary sebagai selingan dapat dilihat dalam novel Un Homme et Une Femme karangan Stanley Dirgapradja.

Apakah ada perbedaan antara novel berteknik epistolary dengan buku-buku kompilasi blog? Menurut pengamatan saya hal itu dapat dilihat dari plot yang terjalin dari dokumen-dokumen itu. Epistolary adalah sebuah teknik bercerita, sehingga walaupun dokumen-dokumen ditulis seolah terpisah, namun memiliki rangkaian dan menyusun sebuah cerita dengan kronologis teratur (baik secara maju atau mundur). Kompilasi blog bisa terdiri dari tulisan-tulisan yang lepas dan tidak berhubungan sama sekali. Namun sebuah kompilasi pun bisa dimasukan dalam tipe epistolary ketika mampu membentuk sebuah cerita.

Pada dasarnya macam-macam tulisan epistolary bisa dibagi menjadi tiga, berdasarkan jumlah karakter yang terlibat. Pertama, monologic, adalah epistolary yang hanya memunculkan dokumen dari satu karakter. Dua, dialogic, adalah epistolary yang memunculkan dokumen dari dua karakter yang saling berhubungan. Tiga, polylogic, adalah epistolary yang memunculkan dokumen lebih dari satu karakter. Bram Stroker’s Dracula adalah penganut tipe epistolary ketiga.

Sejumlah penulis menganggap teknik epistolary bisa mengurangi kesan omniscient narrator (narrator yang tahu segala) dalam sebuah cerita, terutama yang menggunakan sudut pandang ketiga. Selain itu teknik ini juga bisa memunculkan efek lebih nyata dalam suatu cerita. Namun di lain pihak, terdapat juga kekurangan dari penggunaan teknik ini. Salah satunya adalah kebingungan pembaca dalam memahami informasi dan rangkaian plot sebuah cerita epistolary. Hal ini terutama bisa dirasakan bila cerita menggunakan teknik epistolaris-polylogic dengan alur flash back. Selain dirancukan oleh time settingnya, pembaca juga dipaksa harus jeli sedang membaca dokumen milik karakter yang mana.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, epistolary tetap menjadi salah satu teknik menulis yang patut dicoba.


Read More..

19 Juli 2009

Pada Sebuah Titik Saya Terhenti



Banyak orang yang saya kenal telah melaju selangkah demi selangkah dalam hidup mereka. Jenjang karier yang telah ditapaki, pernikahan yang telah dijalani, keluarga yang telah dimiliki dan berbagai kesempatan hidup yang telah didapati. Maka saya lantas bertanya pada diri sendiri, kapan saya seperti itu? Kenapa saya masih seperti ini, tanpa suatu perubahan yang berarti. Dari waktu ke waktu hanya sekedar mencoba untuk mengejar sesuatu yang baru. Begitu banyak yang harus dipahami dan didalami, seperti sumber air yang tidak pernah mati.


Saya menginginkan banyak hal yang belum sempat saya pelajari. Saya tidak ingin sesuatu yang setengah-setengah. Saya serius. Saya berkorban dan saya memulai semuanya dari nol. Saya habiskan sekian waktu dari saya untuk mendalami itu semua, menggapai mimpi-mimpi yang menggantung sangat tinggi di angkasa. Saya jatuh dan bangun. Saya terhimpit lalu mencoba lepas. Saya tidka mau menyerah. Saya hanya tahu satu hal, saya pasti bisa. Tapi impian itu masih tetap terlihat begitu jauh untuk diraih. Saya berpikir, kapan waktu itu tiba bagi saya mencapai, setidaknya, satu dari mimpi-mimpi di depan sana. Ketika saya tersadar, saya telah melupakan sekeliling. Saya telah menghabiskan waktu tanpa hasil yang pasti. Maka saya berpikir,

Apakah ini sebuah kesalahan besar?

Kadang saya menginginkan saat di mana saya tidak perlu bermimpi dan berambisi. Hidup damai mengikuti arus seperti para ahli spiritual itu. Tapi bukankah mereka memang telah mencapai ujung ambisi dan impian mereka? Saat di mana tak ada lagi sebuah ambisi. Kadang terpikir untuk apa berambisi bila pada akhirnya tidak akan pernah mencapai titik yang memuaskan. Kenapa harus memilih mengikuti kata hati yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru? Kenapa harus mengais tanah dan membuat jalan sendiri bila sudah ada jalan lurus yang siap ditapaki walaupun tidak menarik hati? Mengapa harus berambisi bila tidak bisa memiliki?

Satu-persatu mereka mendahuli saya, membuat saya mempertanyakan untuk apa perjuangan selama ini. Kenapa saya tidak memilih mengikuti jalan yang mereka tempuh. Ketika seorang teman berkeluarga, ketika mereka mapan dalam bekerja, ketika mereka melalui jalan yang dulu ingin saya lalui, salahkah saya bila merasa iri dan tidak tidak adil? Saya merasa hidup sekedar berputar seperti gasing tanpa tujuan yang jelas. Apakah yang sebenarnya saya cari?

Kenapa? Ada apa dengan saya?

Apakah saya tengah menjalani sebuah karma ketika saya selalu dibenturkan pada kenyataan selalu ada langit di atas langit yang telah saya daki. Kapan pencapaian ini berakhir? Apakah kekalahan-kekalahan harus terus saya jalani? Apakah sudah saatnya saya untuk berhenti? Menyerah dan putus asa?

Apa yang harus saya lakukan?

Saya tahu meratap tidak menyelesaikan masalah. Saya mengerti putus asa dan menyerah adalah sebuah kekalahan besar. Saya paham batas antara mawas diri, ikhlas menerima dan menyerah hanyalah layaknya benang yang sangat tipis. Saya tahu saya harus bangkit dari kegagalan dan mencoba untuk terus berjuang. Saya sadar doa (mungkin) bisa membantu mempermudah segalanya. Tapi sampai kapan saya akan terus berlari mengejar ambisi-ambisi ini?

Maka akhirnya saya berpikir,

akan jauh lebih baik bila sejak awal saya tidak pernah memikirkan sebuah ambisi.



Read More..

11 Juli 2009

Sebuah Dunia Remaja


Judul Buku: Lovasket
Penulis: Luna Torashyngu

Ketika saya bertanya pada seorang murid saya tentang novel teenlit yang layak baca, dia merekomendasikan sejumlah buku yang menurutnya menarik. Salah satunya Lovasket. Seperti novel teenlit kebanyakan, Lovasket juga bercerita tentang dunia remaja yang penuh dengan permasalahan sekolah, persahabatan, cinta dan keluarga. Gaya penyampaian Luna yang tetap berpaku pada kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan tidak meninggalkan kekhasan dunia remaja yang gaul dan santai membuat novel ini (menurut saya) tetap enak dibaca oleh berbagai kalangan.

Lovasket menawarkan sebuahh kisah kehidupan seorang remaja bernama Vira, seorang anak kaya yang tadinya bersekolah di sekolah elit, Altavia. Ketika ayahnya dituduh korupsi, Vira dan keluarganya terpaksa harus rela kehilangan seluruh harta kekayaan yang disita negara. Vira dan keluarganya terpaksa pindah ke lingkungan yang biasa-biasa saja dan masuk ke sekolah negri pinggiran. Vira mendapatkan sikap teman-teman elit yang selama ini dikenalnya mendadak berubah. Sementara di sekolah yang baru, Vira disibukkan oleh Niken, ketua OSIS yang terus saja membujuk Vira agar bersedia menghidupkan kembali klub basket sekolah itu. Perjuangan Vira bukannya tanpa liku. Tantangan terakhirnya adalah membawa tim sekolah barunya berhadapan dengan raksasa basket, tim basket Altavia, sekolah lamanya.

Plot semacam ini bisa dibilang bukan plot asing lagi dalam kisah-kisah teenlit. Saya merasa diingatkan dengan plot film Hollywood "Bring it On 2" yang secara garis besar mirip dengan kisah ini. Bedanya, Lovasket bermain-main dengan basket sementara "Bring it On 2" bermain-main dengan dunia cheerleader. Saya nyaris meremehkan cerita ini dan berkomentar “Ih, niru film barat nih…” Untuk membuktikan hipotesa itu saya mencoba bertahan dengan terus membaca novel sampai selesai. Dan ternyata saya keliru.

Luna betul-betul pandai dalam membangun plot cerita. Awalnya plot yang ditawarkan memang mirip dengan tema kebanyakan. Namun Pengembangan plot yang kaya dan cantik membuat kesan itu makin pudar setiap kita membuka halaman demi halaman novel ini. Cara Luna mendeskripsikan basket dan menjalin masalah demi masalah khas remaja sungguh oke. Kisah tambahan Niken dan ancaman pembubaran ekskul basket oleh kepala sekolah baru Vira saya anggap sebagai twist yang kreatif dari sebuah plot klise.

Selama ini saya selalu meremehkan novel-novel tema teenlit. Tapi untuk Luna dan Lovasketnya, sepertinya saya harus melakukan standing ovation seperti yang dilakukan oleh Stephanie, mantan kapten basket Altavia terhadap Vira dan tim basket barunya. Dengan gaya ringan khas teenlit, Lovasket mampu menyampaikan pesan-pesan bagi para remaja tentang persahabatan, kompetisi dan prestasi.

Buat yang suka cerita teenlit yang berbobot dan mengalir tanpa lovey-dovey stuff yang kental, Lovasket benar-benar saya rekomendasikan. Eh, saya dengar katanya ini sudah dibuat versi FTVnya. Ada yang udah nonton? Sama asyiknya dengan novelnya kah?

Read More..

Belajar menulis : English Story

Belakangan ini saya makin bersemangat untuk belajar menulis cerita berbahasa Inggris, dalam hal ini fanfic. Ternyata hal itu bukan sesuatu yang mudah. kendala kosakata dan tata bahasa menjadi hal yang paling krusial. Satu tips penting yang saya dapat dari beta-reader saya di komunitas penulis fanfic adalah menulis cerita berbahasa Inggris tidak sama dengan menulis cerita bahasa Indonesia yang di-Inggriskan. Ada sejumlah logika kalimat dan susunan kata yang berbeda dalam kalimat bahasa Indonesia dan kalimat bahasa Inggris. Ketika saya meminta saran perbaikan atas kendala tersebut, maka teman saya hanya memberi saran "Banyak-banyaklah membaca cerita berbahasa Inggris sehingga kamu bisa mendapatkan the sense of English language." Saya hanya bisa nyengir menanggapinya.

Sementara untuk mengatasi masalah gramatikal dasar, ini ada oleh-oleh artikel yang dikirimkan oleh beta-reader saya untuk saya pelajari. Mungkin artikel ini tidak terlalu banyak membantu mereka yang ingin meningkatkan skor TOEFL atau IELTS, tapi minimal cukup membantu bagi mereka yang ingin memahami rambu-rambu EYD-nya bahasa Inggris dalam menulis.


Verb Tense Consistency

Brought to you by the Purdue University Online Writing Lab.

Throughout this document, example sentences with nonstandard or inconsistent usage have verbs in bold.

A. Controlling Shifts in Verb Tense

Writing often involves telling stories. Sometimes we narrate a story as our main purpose in writing; sometimes we include brief anecdotes or hypothetical scenarios as illustrations or reference points in an essay. Even an essay that does not explicitly tell a story involves implied time frames for the actions discussed and states described. Changes in verb tense help readers understand the temporal relationships among various narrated events. But unnecessary or inconsistent shifts in tense can cause confusion. Generally, writers maintain one tense for the main discourse and indicate changes in time frame by changing tense relative to that primary tense, which is usually either simple past or simple present. Even apparently non-narrative writing should employ verb tenses consistently and clearly.

General guideline: Do not shift from one tense to another if the time frame for each action or state is the same.

Examples:

1. The ocean contains rich minerals that washed down from rivers and streams.
Contains is present tense, referring to a current state; washed down is past, but should be present (wash down) because the minerals are currently continuing to wash down.
Corrected: The ocean contains rich minerals that wash down from rivers and streams.

2. About noon the sky darkened, a breeze sprang up, and a low rumble announces the approaching storm.
Darkened and sprang up are past tense verbs; announces is present but should be past (announced) to maintain consistency within the time frame.
Corrected: About noon the sky darkened, a breeze sprang up, and a low rumble announced the approaching storm.

3. Yesterday we had walked to school but later rode the bus home.
Had walked is past perfect tense but should be past to maintain consistency within the time frame (yesterday); rode is past, referring to an action completed before the current time frame.
Corrected: Yesterday we walked to school but later rode the bus home.

General guideline: Do shift tense to indicate a change in time frame from one action or state to another.

Examples:

1. The children love their new tree house, which they built themselves.
Love is present tense, referring to a current state (they still love it now;) built is past, referring to an action completed before the current time frame (they are not still building it.)

2. Before they even began deliberations, many jury members had reached a verdict.
Began is past tense, referring to an action completed before the current time frame; had reached is past perfect, referring to action from a time frame before that of another past event (the action of reaching was completed before the action of beginning.)

3. Workers are installing extra loudspeakers because the music in tonight's concert will need amplification.
Are installing is present progressive, referring to an ongoing action in the current time frame (the workers are still installing, and have not finished;) will need is future, referring to action expected to begin after the current time frame (the concert will start in the future, and that's when it will need amplification.)

B. Controlling Shifts in a Paragraph or Essay

General guideline: Establish a primary tense for the main discourse, and use occasional shifts to other tenses to indicate changes in time frame.

Hints:

• Rely on past tense to narrate events and to refer to an author or an author's ideas as historical entities (biographical information about a historical figure or narration of developments in an author's ideas over time).
• Use present tense to state facts, to refer to perpetual or habitual actions, and to discuss your own ideas or those expressed by an author in a particular work. Also use present tense to describe action in a literary work, movie, or other fictional narrative. Occasionally, for dramatic effect, you may wish to narrate an event in present tense as though it were happening now. If you do, use present tense consistently throughout the narrative, making shifts only where appropriate.
• Future action may be expressed in a variety of ways, including the use of will, shall, is going to, are about to, tomorrow and other adverbs of time, and a wide range of contextual cues.

C. Using Other Tenses in Conjunction with Simple Tenses

It is not always easy (or especially helpful) to try to distinguish perfect and/or progressive tenses from simple ones in isolation, for example, the difference between simple past progressive ("She was eating an apple") and present perfect progressive ("She has been eating an apple"). Distinguishing these sentences in isolation is possible, but the differences between them make clear sense only in the context of other sentences since the time-distinctions suggested by different tenses are relative to the time frame implied by the verb tenses in surrounding sentences or clauses.

Example 1: Simple past narration with perfect and progressive elements

On the day in question...

By the time Tom noticed the doorbell, it had already rung three times. As usual, he had been listening to loud music on his stereo. He turned the stereo down and stood up to answer the door. An old man was standing on the steps. The man began to speak slowly, asking for directions.
In this example, the progressive verbs had been listening and was standing suggest action underway at the time some other action took place. The stereo-listening was underway when the doorbell rang. The standing on the steps was underway when the door was opened. The past perfect progressive verb had been listening suggests action that began in the time frame prior to the main narrative time frame and that was still underway as another action began.
If the primary narration is in the present tense, then the present progressive or present perfect progressive is used to indicate action that is or has been underway as some other action begins. This narrative style might be used to describe a scene from a novel, movie, or play, since action in fictional narratives is conventionally treated as always present. For example, we refer to the scene in Hamlet in which the prince first speaks (present) to the ghost of his dead father or the final scene in Spike Lee's Do the Right Thing, which takes place (present) the day after Mookie has smashed (present perfect) the pizzeria window. If the example narrative above were a scene in a play, movie, or novel, it might appear as follows.

Example 2: Simple present narration with perfect and progressive elements

In this scene...

By the time Tom notices the doorbell, it has already rung three times. As usual, he has been listening to loud music on his stereo. He turns the stereo down and stands up to answer the door. An old man is standing on the steps. The man begins to speak slowly, asking for directions.
In this example as in the first one, the progressive verbs has been listening and is standing indicate action underway as some other action takes place. The present perfect progressive verb has been listening suggests action that began in the time frame prior to the main narrative time frame and that is still underway as another action begins. The remaining tense relationships parallel those in the first example.
In all of these cases, the progressive or -ing part of the verb merely indicates ongoing action, that is, action underway as another action occurs. The general comments about tense relationships apply to simple and perfect tenses, regardless of whether there is a progressive element involved.
It is possible to imagine a narrative based on a future time frame as well, for example, the predictions of a psychic or futurist. If the example narrative above were spoken by a psychic, it might appear as follows.

Example 3: Simple future narration with perfect and progressive elements

Sometime in the future...

By the time Tom notices the doorbell, it will have already rung three times. As usual, he will have been listening to loud music on his stereo. He will turn the stereo down and will stand up to answer the door. An old man will be standing on the steps. The man will begin to speak slowly, asking for directions.
In this example as in the first two, the progressive verbs will have been listening and will be standing indicate ongoing action. The future perfect progressive verb will have been listening suggests action that will begin in the time frame prior to the main narrative time frame and that will still be underway when another action begins. The verb notices here is in present-tense form, but the rest of the sentence and the full context of the narrative cue us to understand that it refers to future time. The remaining tense relationships parallel those in the first two examples.

D. General guidelines for use of perfect tenses

In general the use of perfect tenses is determined by their relationship to the tense of the primary narration. If the primary narration is in simple past, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in past perfect. If the primary narration is in simple present, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in present perfect. If the primary narration is in simple future, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in future perfect.

Past primary narration corresponds to Past Perfect (had + past participle) for earlier time frames

Present primary narration corresponds to Present Perfect (has or have + past participle) for earlier time frames

Future primary narration corresponds to Future Perfect (will have + past participle) for earlier time frames

The present perfect is also used to narrate action that began in real life in the past but is not completed, that is, may continue or may be repeated in the present or future. For example: "I have run in four marathons" (implication: "so far... I may run in others"). This usage is distinct from the simple past, which is used for action that was completed in the past without possible continuation or repetition in the present or future. For example: "Before injuring my leg, I ran in four marathons" (implication: "My injury prevents me from running in any more marathons").

Time-orienting words and phrases like before, after, by the time, and others--when used to relate two or more actions in time--can be good indicators of the need for a perfect-tense verb in a sentence.

By the time the Senator finished (past) his speech, the audience had lost (past perfect) interest.
By the time the Senator finishes (present: habitual action) his speech, the audience has lost (present perfect) interest.
By the time the Senator finishes (present: suggesting future time) his speech, the audience will have lost (future perfect) interest.

After everyone had finished (past perfect) the main course, we offered (past) our guests dessert.
After everyone has finished (present perfect) the main course, we offer (present: habitual action) our guests dessert.
After everyone has finished (present perfect) the main course, we will offer (future: specific one-time action) our guests dessert.

Long before the sun rose (past), the birds had arrived (past perfect) at the feeder.
Long before the sun rises (present: habitual action), the birds have arrived (present perfect) at the feeder.
Long before the sun rises (present: suggesting future time), the birds will have arrived (future perfect) at the feeder.

E. Sample paragraphs

The main tense in this first sample is past. Tense shifts are inappropriate and are indicated in bold.

"The gravel crunched and spattered beneath the wheels of the bus as it swung into the station. Outside the window, shadowy figures peered at the bus through the darkness. Somewhere in the crowd, two, maybe three, people were waiting for me: a woman, her son, and possibly her husband. I could not prevent my imagination from churning out a picture of them, the town, and the place I will soon call home. Hesitating a moment, I rise from my seat, these images flashing through my mind." (adapted from a narrative)

Inappropriate shifts from past to present, such as those that appear in the above paragraph, are sometimes hard to resist. The writer becomes drawn into the narrative and begins to relive the event as an ongoing experience. The inconsistency should be avoided, however. In the sample, will should be would, and rise should be rose.

The main tense in this second sample is present. Tense shifts--all appropriate--are indicated in bold.

"A dragonfly rests on a branch overhanging a small stream this July morning. It is newly emerged from brown nymphal skin. As a nymph, it crept over the rocks of the stream bottom, feeding first on protozoa and mites, then, as it grew larger, on the young of other aquatic insects. Now an adult, it will feed on flying insects and eventually will mate. The mature dragonfly is completely transformed from the drab creature that once blended with underwater sticks and leaves. Its head, thorax, and abdomen glitter; its wings are iridescent in the sunlight."(adapted from an article in the magazine Wilderness)

This writer uses the present tense to describe the appearance of a dragonfly on a particular July morning. However, both past and future tenses are called for when she refers to its previous actions and to its predictable activity in the future.

Exercises on verb tense consistency are available at http://owl.english.purdue.edu/handouts/print/grammar/g_tensecEX1.html.

Semoga bermanfaat bagi yang ingin belajar menulis cerita dalam bahasa Inggris.

Read More..

Konsep-konsep Relationship yang Bersifat Universal



Judul Buku: Heterophobia
Penulis: Fa
Penerbit: Grasindo
Tebal buku: 167 halaman

HeteroPhobia : Konsep-konsep Relationship yang Bersifat Universal


Sejak bergaul dengan komunitas fanfic dan terbiasa membaca kisah-kisah slash(hubungan sejenis), tema homoseksual menjadi hal yang lumrah bagi saya. Saya jadi bisa menilai ternyata kisah-kisah homoseksual itupun ada yang lame (murahanan dan klise) ada juga yang worth enough untuk dibaca. Biasanya plot-plot cerita angsty atau melodrama yang lebih menekankan pada penggalian karakter dan perasaan adalah tipe-tipe fiksi yang layak untuk diintip. Bukan mencoba memberikan pembelaan terhadap dunia pergaulan semacam itu, tapi para penulis yang piawai menuangkan idenya mengenai ini setidaknya mampu memberi sebuah gambaran yang realistis mengenai dunia tersebut. Bagaimanapun para homoseksual itu bukan pesakitan dan orang-orang yang tidak waras. Mereka juga manusia biasa yang juga mengalami pergulatan perasaan dan emosi yang tidak berbeda dengan heteroseksual.

Heterophobia adalah salah satu buku tema queer yang bisa saya rekomendasikan untuk dinikmati. Mengusung genre buku kompilasi blog, Heterophobia berisi potingan-postingan blog yang dibuat oleh seorang gay sejati bernama Fa. Tidak heran isinya benar-benar mengulas dunia para gay, membuat kita bisa mengerti bagaimana kehidupan sosial dan cara berpikir mereka. Fa membawakannya dengan gaya santai dan gaul sekali (bahkan cenderung bergaya sissy ^^, well..that’s him anyway). Pemikirannya yang smart, terkadang sinis sekaligus bitchy mengajak pembaca berpikir dan mengerti bahwa gay (mungkin juga lesbi) juga manusia norma yang kebetulan memiliki perbedaan orientasi seksual.

Dalam penuturannya Fa sama sekali tidak memperlihatkan kesan agar kita ikut prihatin atau memahami (apa yang kata orang disebut) derita hidup para gay. Bagi seorang Fa, sepertinya homosexuality is not a miserable faith. He enjoys it very much as the ordinary people enjoy their ordinary life. Masalah atau perasaan down diakui memang kadang menerpa. But hey, that’s life. People get problems and fall down sometime. Fa bisa menunjukkan sikap positif dan optimis tanpa harus menjadi pihak yang mendayu-dayu dan melankolis. Ada satu quote Fa yang sangat saya sukai dari buku ini :

“Aku sudah mencapai level dimana aku tidak lagi mempermasalahkan dan mempertanyakan ke-gay-anku ini. Aku sudah mencapai titik dimana aku bisa menertawakan dan membuat lelucon pada dunia yang aku pilih.”

Keputusan Fa untuk menjadi homo sejati, ketidaksukaan dia pada orang-orang hetero yang usil, keengganan dia mengobrol dengan perempuan maupun kekesalan dia dengan para gay melankolis yang masih mencari-cari jati diri dan banyak juga yang tidak tahu diri mampu membuat saya senyum-senyum sendiri. You’ve got good point there, Fa ^^. Selain itu, konsep-konsep yang dituturkan Fa mengenai makna sebuah hubungan, pertemanan dan cara-cara Fa menghadapi sebuah masalah sangat bersifat universal. Bahkan konsep-konsep itupun bisa diterapkan pada sebuah hubungan heteroseksual.

Memang ada sedikit ironis ketika pada beberapa bagian Fa mengulang-ulang bahwa pada kenyataannya, dia adalah tipe pemalu dan pendiam. Dia juga menekankan bahwa pada kehidupan nyata dia jarang menonjolkan sifat sissy-nya walaupun dia juga berkata bahwa act normal in front of people somewhat is miserable. Tapi itulah Indonesia, budaya timur, budaya yang tidak bsia menerima hal-hal semacam itu dengan terbuka. Budaya yang tidak memungkinkan mereka yang dianggap menyimpang dari tatanan masyarakat bergerak bebas. Budaya yang penuh dengan basa-basi dan kepura-puraan. Seperti juga Fa yang masih tetap belum memiliki keberanian untuk all out di depan orang tuanya (mggak tahu kalau sekarang.. ^^). Fa menunjukkan sisi dirinya sebagai salah satu mamusia dengan budaya timur dan dia tidak mencoba untuk menyalahkan situasi, menjudge masyarakat dan norma. Ironis dengan apa yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat dengan topik homoseksualitas.

Maka sayapun tidak akan mencoba untuk menilai buku ini sebagai sebuah buku minor yang tidak normal. Hetrephobia hanyalah sebuah buku mengenai kumpulan pemikiran seorang Fa, yang kebetulan adalah seorang gay.

Bagi mereka yang ingin membaca sebuah prespektif baru, mungkin bisa coba diintip isi buku dengan nuansa gaul ini.. ^^

Read More..

Kitchen



Judul Buku: Kitchen
Penulis: Banana Yoshimoto
Penerjemah: Dewi Anggraeni
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal buku: 204 halaman



“Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur. Dimanapun, seperti apapun, sepanjang tempat itu gunanya untuk memasak makanan, bagiku tidak masalah. Sebisa mungkin tempat itu fungsional dan sering dipakai. Ada berhelai-helai lap bersih dan ubin putih berkilau. Aku suka sekali dapur yang kotor….”.

Paragraf tersebut adalah pembukaan novel Kitchen karya Banana Yoshimoto, novelist perempuan asal Jepang yang telah memperoleh sejumlah penghargaan atas karya-karyanya. Novel ini terdiri dari dua buah cerita lepas yaitu, Kitchen yang terdiri dari dua bagian (Kitchen dan Moonlight) serta cerpen Moonlight Shadow.

Kitchen bercerita tentang Mikage Sakurai yang harus hidup sendirian setelah ditinggal mati oleh keluarganya satu persatu. Seorang pemuda bernama Yuichi Watanabe lalu menawarinya tinggal bersama di apartemennya. Yuichi adalah pegawai toko bunga langganan almarhum nenek Mikage. Yuichi tinggal di apartemen bersama Reiko, ibu sekaligus ayahnya, seorang perempuan transeksual yang mempesona.

Mikage selalu menyukai dapur karena di situlah Mikage menemukan kenyamanan dan tidak pernah merasa kesepian. Mikage lalu belajar memasak sehingga dia makin sering berada di dapur. Ketika Eriko Watanabe meninggal Mikage menjadikan dapur sebagai pengalihan atas kesedihan dan kehilangannya. Dia juga mendapatkan dirinya dan dapurlah yang kemudian membantu Yuichi melupakan kesedihannya. Berdua mereka sama-sama bangkit dari kehampaan duka cita yang mendalam dan saling menyadari kalau mereka telah saling jatuh cinta dan mengisi.

Moonlight Shadow bercerita tentang Satsuki, perempuan yang tenggelam dalam duka cita mendalam setelah kematian kekasihnya, Hitoshi. Teman berbagi dukanya adalah Shu, adik laki-laki Hitoshi yang harus kehilangan kakak laki-lakinya dan Yumiko, kekasihnya dalam waktu bersamaan. Untuk menunjukkan rasa duka cita dan ke
hilangannya, Shu gemar mengenakan seragam kelasi milik Yumiko dan berdandan seperti perempuan. Suatu hari Satsuki bertemu dengan Urara, perempuan misterius yang kemudian membantunya keluar dari kesedihan atas kematian Hitoshi.

Cerpen-cerpen dalam Kitchen disampaikan dengan menggunakan sudut pandang orang kesatu dan gaya bertutur yang sarat dengan nuansa kehampaan. Yoshimoto-san seolah ingin mengajak pembacanya untuk terlibat jauh ke dalam konflik batin, kebingungan dan kesunyian yang dirasakan oleh tokoh-tokoh ceritanya. walaupun sarat dengan nuansa hampa, cerpen-cerpen dalam Kitchen selalu berakhir dengan sebauh kesimpulan yang melegakan. Yoshimoto-san seolah ingin menyampaikan amanat bahwa, "There is always hope there and there must be someone whom you can share with in this world".

Ada sejumlah hal yang sama dan menonjol dari cerpen-cerpen dalam Kitchen. Kedua cerpen sama-sama bercerita tentang kematian, kehilangan mendadak dan perjuangan bagaimana keluar dari kesedihan itu. Kedua cerpen juga memasukkan karakter pria yang melakukan cross dressing (berpakaian perempuan), seperti Eriko (perempuan transeksual) dan Shu (yang gemar memakai pakaian sekolah almarhum pacarnya). Kehadiran karakter-karakter semacam itu tentu bukan muncul tanpa alasan. Ending kedua cerpen juga sama-sama tentang bangkit dari keterpurukan. Maka, saya jadi bertanya-tanya apakah Yoshimoto-san sedang mencoba membagi sesuatu yang dia rasakan saat menulis buku itu kepada para pembaca?

Read More..

Ke jepang Bersama Natsuka

Judul Buku: Natsuka
Penulis: Destika
Penerbit: Grasindo
Tebal buku: 167 halaman

Saat seorang teman memberitahu dia melihat sebuah novel teenlit bersetting Jepang, saya langsung nitip beli. Setting Jepang memang menjadi daya tarik nomor satu bagi saya untuk merobek cover buku dan membaca isinya..^^

Natsuka bercerita tentang kehidupan seorang remaja blasteran Padang-Jepang pasca kematian kedua orang tuanya. Natsuka terpaksa menerima tawaran paman dari pihak ibunya yang ingin merawatnya setelah mengetahui keluarga ayahnya di Padang sama sekali tidak bisa diharapkan (mengingat ayahnya telah dikucilkan dari marganya, sementara bibinya, satu-satunya orang yang mendukung Natsuka masih belum mampu mebiayai hidupnya). Memenuhi tawaran pamannya berarti sebuah lembaran hidup baru di negeri asing, Jepang.

Kisah bergulir menggambarkan bagaimana Natsuka susah payah menyesuaikan diri dengan keluarga baru, teman-teman dan lingkungan baru, dan terutama dengan bahasa dan budaya yang benar-benar asing baginya. Masalah muncul silih berganti, ketika Natsuka harus terlibat ketidak cocokan dengan saudara barunya maupun terlibat konflik dengan teman-teman di sekolahnya. Tidak ketinggalan kisah cinta pun dimunculkan, termasuk keberadaan tokoh pelindung macam Kei niisan. Destika benar-benar menggambarkan sebuah fenomena kehidupan remaja pada umumnya.

Sejumlah hal yang membuat saya menyukai novel ini adalah selain plot mengalir dan gaya cerita dengan sudut pandang orang pertama yang enak diikuti, Destika benar-benar tidak mengecewakan saya dalam menyajikan setting Jepang yang dijanjikan. Destika seolah mengajak saya berkunjung ke negeri sakura, berkenalan dengan kehidupan remaja dan keluarga di sana, melihat fenomena gencet-menggencet di sekolah menengah, keberadaan genk motor atau jalan-jalan ke sejumlah tempat macam Shinjuku maupun festival kembang api. Natsuka menuturkan semua itu dengan tidak meninggalkan ke-Indonesiaan yang dia miliki serta tanpa melupakan di mana dia sedang berada. Semuanya terasa pas, seolah melihat sebuah film dorama dengan lakon orang Indonesia.

Four thumps up for Destika, deh.

For those who like teen lit story plus Japan setting, This book is highly recommended.. ^^



Read More..

Kisah cinta romantis (nan tragis?)


Judul Buku: Bellamore
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 263 halaman

Saya memutuskan untuk membaca buku ini ketika seorang teman baik merekomendasikan nama penulisnya pada saya. Mengusung tema cinta kisah Bellamore dirangkai dengan karakteristik metropop yang umum macam, plot yang ringan dan mengalir, setting dunia kerja di kota besar, karakter utama yang sempurna (cantik, smart, berkarier cemerlang namun masih memegang prinsip budaya timur), cowok tampan dan gambaran kehidupan hedonis lainnya.

Bellamore berkisah tentang masalah Lana yang selalu bubaran dengan pacar-pacarnya hanya karena dia menolak untuk memberikan keperawanannya sebelum mereka menikah. Masalah itu semakin runyam dengan munculnya Fabian, an eligible Italiano man, partner kerja Lana yang terus-menerus menggoda Lana dengan isu keperawanannya hingga membuat Lana uring-uringan. Cerita terus bergulir menggambarkan sebuah nuansa lovehate (benci tapi cinta) yang menggemaskan sekaligus romantis antara Lana dan Fabian.

Ending yang tidak biasa menjadi kelebihan dari cerita ini selain gaya bahasa mengalir yang enak diikuti. Alternatif plot yang dipilih penulisnya membuat kisah cinta ini menjadi sebuah kisah cinta menyentuh yang layak untuk diikuti sampai akhir. Taburan kalimat romantis juga layak untuk disimpan atau diabadikan minimal di blog pribadi ^^

Satu hal yang sedikit mengganjal adalah gambaran adegan yang sangat berkesan dilebihkan. Saking romantisnya saya sampai membayangkan adengan opera sabun atau drama cinta kuno yang super dramatis menguras emosi. Teman saya menyebutnya shappy. Tapi mungkin hal itu penting juga untuk mempengaruhi pembaca. Saya sendiri merasa terlalu keberatan.

Untuk para penggemar novel love story yang mengharu-biru, novel ini layak untuk dimasukan dalam koleksi ^^

Read More..

Life Is.....

Life is like a game,
where we have to collect the score ‘til the end
Goodness is like a gain,
That can yield the reward then
Badness is like a loss,
Which will reduce the point most
Death is like a deadline,
when we have to stop to try
Angel is like the officer,
who will do their duty forever
God is like the center owner,
who will count and decide the present
Heaven and hell are like the prize,
which we will get soon later
Thus, is it wrong if I say
That world is just a timezone area? Read More..

Petualangan Cinta dalam Dunia Kinanthi



Judul Buku: Galaksi Kinanthi
Penulis: tasaro GK
Penerbit: Salamadani
Tebal buku: 432 halaman

“Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta; engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya, Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh….”

Kalimat di atas adalah penggalan dari paragraf pembukaan novel Galaksi Kinanthi. Saya tertarik dengan novel ini karena barisan endorsement yang saya baca di cover dan bagian belakangnya (metode yang juga saya terapkan saat memilih film-film bermutu). Nama-nama macam Dee Lestari, Ahmad Tohari, Helvy Tiana Rossa dan Gola Gong yang tidak diragukan lagi kualitasnya adalah beberapa penyumbang endorsement buku ini, dan semuanya berkata “well done.” Belum lagi deretan prestasi di bidang penulisan yang dimiliki si penulis makin membuat saya penasaran untuk membaca novel ini. Dan saya tahu saya tidak kecewa.

Galaksi Kinanthi bercerita tentang perjalanan hidup Kinanthi, seorang gadis yang lahir dan tumbuh di desa miskin di daerah Gunung Kidul. Dengan kepiawaiannya, penulis (yang notabene berasal dari daerah yang sama) berhasil menghidupkan sebuah nuansa kolot dan ndesani dari daerah terpencil tersebut. Seolah terisolasi dari gegap gempita globalisasi dan modernisasi, desa Kinanthi muncul dengan segala budaya animisme dinamisme yang telah beralkulturasi dengan Islam adat. Gaya hidup, gaya bicara dan sudut pandang warga yang terlokalisasi tergarap apik, mengingatkan kita pada komunitas kolot masyarakat pedesaan di Jawa.

Kinanthi, yang dikenal sebagai anak keluarga tidak beres dan miskin, bersahabat baik dengan Ajuj, anak rohis desa yang cukup terpandang. Kisah cinta yang tidak disetujui ala Romeo dan Juliet pun bergulir apik di antara lapisan gambaran mengenai sebuah kebudayaan tradisional yang ironis. Tasaro bukan hanya sekedar mengisahkan sebuah roman percintaan picisan semata, lebih dari itu, beliau berhasil menceritakan sebuah perjalanan hidup dari seorang perempuan, tidak hanya dari sisi percintaan, namun juga dari segi perjuangan hidup yang dramatis dan pergulatan batin yang menguras emosi.

Kisah hidup Kinanthi yang berikutnya harus terdampar sebagai TKW di Arab Saudi memberi cakrawala baru bagi pembacanya mengenai dunia TKW yang miris. Bagaimana para TKW Indonesia diperlakukan di sana, bagaimana pemerintah yang tidak begitu peduli (atau sudah terlalu repot) dengan masalah keluhan TKW atau mereka yang melarikan diri dijelaskan dengan gamblang. Belum lagi pihak-pihak ketiga yang sengaja memancing di air keruh bahkan terhadap saudara setanah airnya sendiri. Memang tidak semua kisah para TKW kita sedramatis kisah Kinanthi, tapi setidaknya Tasaro telah memberikan sebuah gambaran kehidupan saudara kita yang patut kita renungkan.

Kehidupan post-misery Kinanthi berikutnya juga bukan hal yang main-main. Penulis telah berhasil menunjukkan keahliannya dalam menggambarkan sebuah dunia modern di sebuah negara adikuasa. Tasaro menulisnya dengan proporsi yang tepat, tidak melebihkan namun cukup menggambarkan luasnya pengetahuan dan daya imajinasinya. Gaya bahasa asing, pembicaraan mengenai alien, agama, gaya hidup new yorkers, fenomena dunia publisher dan penggambaran kegiatan Prof. Kinanthi Hope sebagai salah satu dari penulis best seller dunia berhasil membuat saya terbang dari kesahajaan desa Gunung Kidul dan kekerasan hidup di negeri timur tengah ke suasana kesibukan dan gempita Park square dan Manhattan. Tidak ada kata lain yang bisa saya katakan selain "Menakjubkan!".

Bagian akhir juga terasa tidak main-main ketika Kinanthi kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Tasaro kembali memainkan emosi para pembaca dalam sebuah penyelesaian kisah cinta dan penantian cinta yang sangat panjang. Tiap paragraf terasa sarat dengan emosi. Alur cerita terangkai dengan perkembangan yang mengalir, membuat penasaran dan dramatis pada sejumlah klimak. Ending yang sulit ditebak membuat saya semakin suka dengan kisah ini. Tasaro berhasil menulis sebuah kisah cinta yang biasa menjadi begitu tidak biasa. Kemampuan ini yang selalu saya kagumi dari seorang penulis. Menulis kisah yang tidak biasa memang sulit, namun menulis kisah biasa menjadi tidak biasa adalah sesuatu yang jauh lebih sulit.

Terlepas dari semua nilai positif yang saya rasakan dalam novel ini, ada beberapa pertanyaan yang sedikit mengganggu pikiran saya. Apakah mungkin orang Indonesia bisa menjadi sehebat itu di negara seperti Amerika Serikat? Persidangan kasus Kinanthi juga menjado sebuah tanda Tanya lain, mungkinkah pemerintah Amerika menjatuhkan keputusan semanis itu bagis seorang TKW Indonesia macam Kinanthi? Penulis seolah menunjukkan secara tidak langsung bahwa masyarakat barat masih jauh lebih baik daripada timur. Lalu bagaimana dengan kelanjutan nasib sejumlah tokoh yang sempat muncul sebagai malaikat penyelamat Kinanthi. Memang Kinanthi berhasil bertemu lagi dengan malaikat penolongnya di Amerika. Tapi bagaimana dengan malaikat pelindungnya di timur tengah? Saya tidak menemukan penyelesaian kemunculan Borte yang seolah terkesan sengaja dimunculkan supaya ada pihak yang akan menolong Kinanthi di Kuwait dan membantunya menuju KBRI.

Saya tidak bermaksud mencari jawaban untuk semua pertanyaan itu. Toh hal itu menjadi hak bagi penulisnya dan tidak mengganggu kenikmatan membaca cerita ini. Galaksi Kinanthi memang lebih menitikberatkan pada kisah pencarian cinta seorang perempuan dan saya sudah cukup puas dengan apa yang saya baca. Bagi saya, novel ini layak disebut masterpiece dan dapat disejajarkan dengan novel cinta besar macam Supernova milik Dee Lestari atau novel-novel indah milik Habibbul Rahman.

Dengan kata lain, saya rekomendasikan total novel ini bagi mereka yang ingin mencari novel roman dengan mutu yang tidak diragukan lagi.

Read More..

17 Mei 2009

Are We That Annoying?



Jadi semalam saya bersama teman saya memutuskan untuk menghadiri sebuah konser paduan suara yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Universitas negeri di kota kami. Kebetulan slah satu teman saya didaulat sebagai salah satu pianis dalam acara tersebut. Maka berangkatlah kami dengan misi untuk melihat hasil latihan mati-matian dirinya selama hampir dua minggu di sela-sela jam mengajar kami.

Ketika melihat nama teman saya terpampang sebagai pianis konser tersebut, saya berkelakar pada teman saya, “Gila aja, ntar bisa-bisa dia lebih beken sebagai pianis pop dari pada profesi aslinya dong.”

Teman saya tertawa. Agak ironis memang, karena di sekolah musik kami, kami berdualah yang kebagian mengajar piano sedangkan dia (si pianis konser teman saya itu) adalah guru biola. Ternyata istilah keahlian belum tentu sama dengan profesi tidak hanya berlaku di dunia kerja formal ^^.

Jujur, sejak datang, menonton konser memang tujuan kami. Bukan bermaksud mencela, tapi kami sudah bisa menebak sejauh mana konser yang akan kami lihat nanti. Dan kalau boleh jujur, kami sadar itu bukan sebuah pertunjukkan yang cukup membuat kami terpesona dan melongo. Penampilan teman kamilah yang menjadi daya tarik utama.

Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika memasuki gedung konser adalah tata panggung yang cukup artistik. Dari segi performance cukup menarik karena saya jarang menikmati konser seperti itu. Format acara dibuat formal dengan dress code night dress and suit untuk para pendukung acaranya. Pembawa acara juga membawakan susunan acara dengan formal. Hiburan yang disajikan terdiri dari lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara, vokal group dan solo. Musisi pendukung hanya terdiri dari piano dan bass serta gitar di beberapa lagu. Koreografi para penyanyi juga dibuat cukup menarik walaupun sejumlah kelemahan juga masih terlihat di sana-sini, seperti gerakan koreografi yang kurang rapi (melatih koreografi memang lebih baik dilakukan dalam studio dengan kaca-kaca di berbagai sisi sehingga minimal kita bisa melihat keseragaman gerakan antar pemain) atau beberapa suara yang menghilang (saya kira ini karena faktor teknis peralatan saja). Tapi selebihnya saya bisa bilang pertunjukkan yang ditampilkan cukup menghibur dan bagus.

Sayangnya, bukannya menunjukkan sikap penonton yang sudah terbiasa dengan acara konser sejenis, atau minimal menunjukkan sikap penonton yang baik (minimal mematuhi peraturan utnuk tidak membuat kegaduhan selama konser berlangsung), saya justru sibuk membahas tentang penampilan teman kami bersama teman saya yang lain, sesekali kami membahas kelemahan pertunjukan yang disajikan dan sedikit bergosip di sela-sela pembicaraan.

Sungguh, bukan maksud kami untuk mengganggu penonton lainnya. Saya hanya merasa sayang melewatkan kesempatan mengobrol dengan teman-teman saya hanya sekedar untuk menjaga image dengan berpura-pura menikmati sebuah pertunjukkan yang (sebetulnya) tidak terlalu menarik minat kami (tanpa bermaksud merendahkan kualitas konser yang sedang kami lihat). Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami tidak pantas untuk duduk tenang menghadap panggung konser. Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami yang tidak tahu diri mengkritik di sana-sini lebih pantas ditendang keluar. Tapi tidak bisakah orang lain menganggap itu sebagai sebuah cara untuk berapresiasi dan mengemukakan pendapat? Lagipula apa yang kami bahas bukan hal yang tidak berdasar.

Ya, mungkin kami memang keterlaluan. Mungkin tingkah kami memuakkan. Untuk itu kami mohon maaf… ^^ Tapi kami hanyalah orang luar yang sekedar menjadi penonton. Bukan simpatisan, bukan anggota organisasi yang bersedia membela mati-matian harga diri komunitas. Kami hanya sekedar orang yang sedang cari hiburan yang berhubungan dengan dunia kami. Ketika kami merasa itu belum cukup menarik perhatian kami, apakah salah ketika mencoba mengapresiasi sesuatu dengan bebas?

Untuk para penonton dan panitia unit paduan suara universitas tercinta yang merasa terganggu dengan tingkah kami semalam, saya mohon maaf. Bagaimanapun, pertunjukkan yang telah ditampilkan patut diacungi jempol. Four thumbs up for the committee…….Dan sayapun terjatuh.

GUBBRAAKK!! Duhh!!


Read More..

Kebrutalan Sebuah Sekolah



Tidak seperti novel teenlit kebanyakan, saya dibuat terkesima ketika membaca Devils Wear Uniform karangan Irvan Nasili. Brutal, miris dan mengenaskan adalah kesan yang saya dapat setelah membaca novel ini. Apalagi bagi saya, yang pada dasarnya memang tidak menyukai kisah-kisah yang brutal. Novel ini cukup membuat saya gemetar karena mual. Saya terpaksa memberikan julukan pada penulis Irvan dengan sebutan “penulis berdarah dingin” bukan dalam arti positif, melainkan karena kemampuannya mencabik-cabik rasa kemanusiaan saya dan mengguncang pandangan saya atas realita pendidikan dan pergaulan remaja yang mengerikan saat ini.


Devils Wear Uniform bercerita tentang sebuah sekolah asrama yang menyimpan banyak rahasia pelanggaran di luar batas kemanusiaan yang terjadi di antara murid-muridnya. Aksi premanisme, balas dendam, kekerasan, kenakalan remaja, bullying, drug, pejabat sekolah yang korupsi digambarkan semua oleh si penulis. Sempat saya tertegun, apakah sekolah semacam ini ada di Indonesia?

Bagian yang paling mengerikan bagi saya adalah adegan-adegan penyiksaan antara siswa yang berkuasa dengan korbannya. Senjata macam rantai baja, satan belati, bacok-membacok hingga darah yang berceceran (mengingatkan saya pada fdrama..ilm-film sadis ala Jepang) membuat saya merinding. Apakah praktek semacam ini juga ada dalam realitas? Atau penulisnya hanya sekedar melebih-lebihkan sebuah adegan cerita? Kenapa pihak sekolah tidak mengetahui pelanggaran-pelanggaran itu? Puncaknya adalah ketika terjadi adegan pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan berulang-ulang. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan novel ini selain kata SADIS.

Inti cerita dari novel ini sebetulnya tentang kehidupan remaja. Masalah-masalah percintaan, persahabatan, setia kawan, persaingan dan permusuhan antar siswa menjadi pengembang plot novel ini. Sayangnya, penulis seperti terkesan terlalu mencurahkan perhatian pada adegan-adegan sadisnya dibanding penekanan pada plot dramanya (apalagi saya ini penggemar berat drama….^^). Apakah karena penulisnya seorang remaja laki-laki? (Oh, memangnya gender mempengaruhi gaya bercerita gitu?)

Secara garis besar, novel ini mengingatkan saya pada film-film dengan tema kebrutalan remaja sejenis dari luar negeri. Jujur, saya yang berasal dari SMU lokal yang biasa-biasa saja masih agak kesulitan membayangkan hal ini mungkin saja bisa benar-benar terjadi di sekolah-sekolah Indonesia. Tapi berita-berita mengenai kekerasan dalam pendidikan yang masih sering saya dengar seperti apa yang dulu menimpa STPDN, atau aksi-aksi tawuran, genk dan premanisme remaja, atau aksi kekerasan para guru terhadap murid membuat saya berpikir, mungkin saja apa yang tergambar dalam novel ini memang terjadi di dunia nyata.

Membayangkan itu membuat saya ikut melontarkan pertanyaan yang serupa dengan Irvan, penulis devils Wear Prada, ”Dimana peran sekolah sebagai institusi pendidikan dan peran guru sebagai pengajar? Mau jadi apa generasi-generasi brutal semacam itu kelak?”

Damned, Irvan! You really have messed my mind up through your story. Saya tidak tahu apa saya harus memberikan pujian pada penulisnya atau mengumpat. Yang jelas saya merasa sangat bersyukur telah bersekolah di sebuah SAM daerah yang memilikilingkungan dan teman-teman yang baik, jauh sekali dari potret sekolah yang tergambar dalam Devils Wear Uniform.

Oh, dan silakan baca ringkasan lengkapnya di sini :

http://penerbitmmp.blogspot.com/2009/03/buku-devil-wears-uniform-iblis.html
Read More..

Mengenai Reinkarnasi



Kali ini temanya agak berat (eh, mungkin nggak juga sih.. ^^). Jadi semuanya berawal dari obrolan santai dengan teman saya di sela-sela mengajar. Kami membahas tentang konsep reinkarnasi (yang kebetulan sama-sama kami percayai) serta pro dan kontranya.

Apakah reinkarnasi? Ada yang menyebutkan reinkarnasi sebagai suatu proses terlahir kembali atau penitisan yang berulang ke dunia sebagai bentuk pencucian dosa atau pembersihan jiwa sebelum mencapai moksa (sempurna). Reinkarnasi berhubungan dengan karma seseorang dalam kehidupan sebelumnya. Baik buruknya karma seseorang akan mempengaruhi tingkat kehidupan pada reinkarnasi berikutnya.


Bagi mereka yang mempercayai reinkarnasi, kehidupan dianggap sebagai sebuah siklus kelahiran dan kematian roh yang terus berlangsung (saya pribadi percaya siklus ini akan terus berlangsung hingga kiamat tiba). Siklus kehidupan ini akan membuat manusia berpikir tentang hukum sebab-akibat dan karma sehingga untuk mencapai kehidupan akan datang yang lebih baik maka manusia harus bisa menjaga dan meningkatkan derajat kebersihan jiwanya di kehidupan sekarang.

Konsep reinkarnasi terutama dipercayai dalam sejumlah agama timur seperti Budha, Hindu, Konghuchu dan ajaran Tao, sementara kaum barat lebih tertarik untuk mempelajarinya sebagai sebuah bahan kajian yang menarik. Dalam agama Islam sendiri konsep reinkarnasi tidak dibicarakan dengan jelas. Bahkan saya kira, konsep reinkarnasi termasuk dalam konsep-konsep yang tabu dibicarakan karena (mungkin) dianggap (dapat) mengganggu konsep-konsep tauhid yang sudah akrab dengan masyarakat muslim. Saya pribadi menganggap perihal reinkarnasi sebagai sebuah konsep yang sama sekali tidak mengganggu kepercayaan saya terhadap agama yang saya anut. Saya bahkan menemukan sejumlah logika yang saling berkaitan yang justru membuat saya makin yakin dnegan ajaran agama yang saya anut.

Ada sebuah surat dalam Al-Qur’an yang menarik perhatian saya sehubungan dengan konsep reinkarnasi. Surat Al-Baqarah ayat 28 berbunyi : ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Pengulangan kata dimatikan dna dihidupkan menggelitik rasa penasaran saya. Pernyataan terakhir bahwa perulangan itu akan diakhiri dengan pengembalian tiap (roh) manusia kepada-Nya seolah menunjukkan pengakhiran sebuah proses yang berulang. Apakah ayat ini mencoba menegaskan bahwa sebuah konsep reinkarnasi (mati-lahir kembali-mati- lahir kembali) pun diakui dalam Islam?

Terlepas dari segala kekaburan maupun pro dan kontra tentang reinkarnasi, saya kembali mengakui bahwa saya termasuk orang yang percaya reinkarnasi, sama seperti kepercayaan saya terhadap kehidupan lain di luar bumi. Maka iseng saya bertanya pada teman saya (yang berkata kalau dia memiliki kemampuan untuk ”melihat” kehidupan sebelumnya).

”Kalau gitu gimana dengan kehidupan aku di masa lalu? Siapa aku sehingga sampai sekarang belum dapat jodoh?”

Jawabnya, ”Kamu menanggung karma masa lalu”

”Oya? Karma apa?”

”Di kehidupan sebelumnya kamu adalah seorang istri yang tidak bisa menghargai suami. Maka sekarang kamu harus menjalani karmamu.”

Saya tersenyum pahit. Jadi karena karma, ya? Terlepas dari benar tidaknya kata-kata dia, setidaknya saya mendapatkan sebuah gambaran apa yang harus saya perbaiki dari kehidupan saya sebelumnya.

Read More..