05 Desember 2009
Pengumuman Geje
Saya juga memindahkan semua postingan review nggak jelas (yang dianggap menuh-menuhin blog ini) ke tempat yang lebih permanen.
Sekalian memperkenalkan blog baru (narsis mode ON) :
- My Review : Review.. review..dan hanya review...
- My story: Coretan tidak Jelas dari Kepala
Kalo ada yang pengen baca-baca silakan saja. ^^
Narsis mode : ON Read More..
09 Oktober 2009
Sekedar Obrolan : iri

Orang Indonesia menyebutnya pintar. Genius kata orang bule, tensai kata orang Jepang, pintar, tahu banyak dalam segala hal. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari cerita orang-orang dan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Sepintas tidak ada yang menarik dari dirinya, tidak jauh beda dari orang kebanyakan, tidak berfisik sempurna, tidak berwajah sempurna. Tapi dia adalah siswa terbaik di sekolahnya, musisi paling handal di tempat lesnya, bocah dengan wawasan luas yang tidak biasa dibanding teman sebayanya, tidak pernah gagal menjawab bidang apapun yang ditanyakan padanya. Siapapun membicarakannya dan ingin mengenalnya lebih dekat. Mengenal sehingga, saat dia jadi orang penting kelak, mereka bisa bercerita bahwa mereka pernah kenal baik dengan si genius itu. Ada pula yang hanya sekedar ingin menimba seember pelajaran dalam bidang-bidang yang dia geluti. Superb. Hebat. Mangagumkan. Maka saya tertarik untuk mendekatinya, mencari tahu tentangnya, dan kini menjadi salah satu teman dekatnya. ”Hebat?” Matanya mengerut tidak mengerti. ”Aku?” Saya mengangguk. Dia tercenung sesaat. “Aku hebat?” ulangnya. “Yang lebih hebat, banyak,” lanjutnya meniru sebuah iklan. Saya mengerutkan dahi. ”Maksudmu?” ”Masa kau tidak pernah dengar kalimat ’selalu ada langit di atas langit’?” Saya terdiam. Tentu saja saya mengerti. Bagi saya yang tidak pernah bisa melihat kelebihan diri sendiri di banding para orang hebat yang saya tahu, maka istilah itu telah bergeser menjadi ’langit selalu ada di atas sana’, terlihat, namun tak pernah terjangkau. Dan itu sungguh meletihkan sekaligus memuakkan. Cukup sudah berceramah mengenai sikap rendah hati dan mawas diri. Saya sudah terlalu paham, hingga sakit rasanya memikirkan sebuah kemungkinan dimana saya tidak akan memiliki keberanian lagi untuk mengangkat dagu sebagai yang terbaik. Hanya tak pernah terpikirkan oleh saya, dia, yang tahu segala itu akan berkata demikian. ”Kata-kata itu apa masih berlaku untukmu?” tanya saya ingin tahu. Dia tertawa. ”Tentu saja,” katanya. ”Kalau tidak, berarti aku mati.” Saya tertegun. ”Tidak ada orang hebat. Bohong itu,” katanya lagi. ”Yang ada hanya orang-orang yang bekerja keras, mengorbankan banyak hal.” ”Aku tidak pernah melihatmu bekerja keras.” ”Berarti kamu tidak benar-benar mengenalku.” Saya terdiam mendengar kata-katanya. Sungguh. Saya pikir ini omong kosong, mendengar dia yang selalu terlihat mampu melakukan hal-hal sulit dengan mudah berkata seperti itu. Saya membayangkan dia, dengan segudang kelebihan dan kesibukan yang dia miliki, masih selalu bisa tertawa saat bersama, bergosip banyak hal, dan melakukan hal-hal tidak penting lainnya. Di mana kerja kerasnya? Yang ada dia kembali membuat saya makin cemburu dengan kemudahan hidupnya. ”Tidak mungkin,” gumam saya. Dia tersenyum. ”Mungkin,” ujarnya. Saya memandangnya. ”Anggap saja kita berada di langit yang berbeda.” Saya mengerutkan dahi. ”Kamu sedang mengincar langitku, memandang dengan letih ke sana, sementara aku juga masih terduduk di dasar langitku, memandang kelelahan mereka yang mendahuluiku menuju langit di atasku.” Dia menoleh dan memberikan cengiran polos sekaligus bangganya. Cengiran yang selalu membuat saya ingin meninjunya. Tapi tidak saya lakukan. ”Jadi, anggap saja sedang sama-sama berjuang.” ”Berarti aku tidak akan pernah bisa menyusulmu.” Saya cemberut. Dia tertawa kecil. ”Bisa saja,” katanya ringan. ”Kalau kau terbang lebih cepat dariku. Tapi kan tidak harus begitu.” Saya terdiam. Mungkinkah untuk terbang lebih cepat darinya? Saya memperhatikannya lagi dan baru menyadari lingkar-lingkar hitam itu menghiasi kelopak matanya samar-samar. Saya tahu dia pasti begadang lagi. Mungkin insomnianya kumat. Itu kebiasaannya. Saya lantas teringat dia selalu tidur larut karena baginya malam adalah saat terbaik untuk belajar. Dia bilang malam adalah saat terbaik untuk mencari inspirasi tulisan-tulisannya. Dia selalu bangun lebih awal karena menurutnya pagi buta adalah waktu yang tersisa baginya untuk melatih kemampuan musiknya. Dia selalu terlihat bersama buku karena dia menganggap membaca adalah sesuatu yang bisa dia lakukan di sela-sela kegiatan lainnya. Baru saya sadari, dia memang selalu terlihat santai, tapi dia tidak pernah melupakan semua rutinitas itu. Dia bekerja lebih keras dari siapapun. Dia tidak sesantai perkiraan saya. Dia juga sama seperti saya dan lainnya. Terus berkembang. Terus hidup. Tidak mati. ”Apakah kau pernah berpikiran sama?” tanya saya. ”Bahwa kau tidak akan pernah bisa menyamai mereka yang berada di atasmu?” ”Ya, dulu.” ”Sekarang?” ”Tidak terlalu. Aku mencoba menggerakkan kepala.” ”Menggerakkan?” Dia mengangguk. Senyum itu belum hilang dari wajahnya. ”Manusia itu,” katanya. ”Punya kecenderungan untuk tidak berpuas diri. Tapi kalau terus melihat ke atas, leherku bisa salah urat. Jadi, kuputuskan untuk memandang ke bawah sesekali,” sambungnya lagi sambil mengambil sejumput mie ayam dari piring saya dengan garpunya. Saya biarkan. Entah kenapa, walaupun sebal dengan gayanya, saya selalu ingin terus mendengar semua kata-katanya hingga akhir. Saya menemukan, walau dengan gaya seperti itu, dia selalu mampu mengemukakan pernyataan-pernyataan yang justru membuat saya merenung dan belajar. Nah, lagi-lagi itu membuat saya iri. ”Kau juga bisa mencobanya,” sarannya. ”Supaya tidak salah urat,” cetusnya lagi dengan nada santai. Mau tidak mau kalimat itu membuat saya tersenyum kecil. Dia benar. Capek rasanya menengadah terus-menerus. Saya memperhatikannya menikmati nasi gorengnya dengan santai. Menyebalkan memang berteman dengan seorang jenius. Tapi saya sadar, tanpa dia dalam hidup saya, belum tentu saya merasakan sebuah semangat untuk terus menjadi lebih baik. Saya tidak banyak bermimpi bisa mencapainya kelak, tapi setidaknya, saya boleh berharap dengan mengenalnya akan membuat saya menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Berkembang. Hidup. Kami masih mengobrol banyak hal. Dia masih menyebalkan dengan sikap santainya seperti biasa. Saya masih menggerutu atasnya. Tapi saya menikmati kalimat demi kalimat yang kami bagi bersama. Saya masih tetap memuja dan mengaguminya walaupun rasa iri itu masih tetap ada.
20 Juli 2009
Guru Lisa episode : POIN
**********************
Di tempat Lisa mengajar ada kebijaksanaan memberi poin bagi murid yang rajin berlatih atau menghafal lagu. Poin tersebut dikumpulkan untuk ditukar dengan hadiah. Penuh semangat murid-murid berlomba mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Sebetulnya Lisa tidak terlalu menyetujuinya. Bukan karena dia tidak ingin memberi muridnya penghargaan, tapi,
“Kasih 20.000 poin baru aku main,” kata Diki yang berumur 8 tahun.
“Itu kebanyakan!” balas Lisa.
Diki berpikir sesaat.
“15.000, deh.”
“15.000 tapi kamu mainkan juga lagu sebelumnya.”
“Tambahin lagi kalau gitu.”
“Enggak!” kata Lisa tegas.
“Bonus 5000 kalau aku ulang PR kemarin, ya?” pinta Diki penuh harap.
Lisa mulai merasa seperti berada di emperan Malioboro.
**************************************
bersambung.........
Read More..
Epistolary

Epistolary adalah teknik bercerita menggunakan sejumlah dokumen yang berurutan. Dokumen-dokumen ini bisa berupa surat, catatan harian, artikel atau jurnal, termasuk postingan blog atau email. Dokumen-dokumen tersebut saling berhubungan sehingga membentuk sebuah plot cerita. Epistolary sendiri berasal dari kata Yunani, epistola, yang berarti surat. Beberapa menganggap bahwa penggunaan teknik epostolary pada penulisan novel atau cerita bisa membuat cerita jadi terasa lebih hidup dan nyata.
Penggunaan dokumen-dokumen dalam sebuah novel bisa bermacam-macam tingkatnya. Ada novel yang hanya memasukkan sejumlah surat, postingan blog atau email dalam ceritanya, ada pula novel yang benar-benar menggunakan penulisan secara epistolary dari awal sampai akhir. Metode penggunaan teknik epistolary total bisa dilihat dari novel Brams Strokers’s Draculla (teknik epistolary menggunakan surat dan catatan harian), Every Boys Gets One milik Meg Abbot (menggunakan catatan harian dan email) atau novel-novel remaja yang menggunakan teknik epistolary menggunakan diary. Sedangkan penggunaan epistolary sebagai selingan dapat dilihat dalam novel Un Homme et Une Femme karangan Stanley Dirgapradja.
Apakah ada perbedaan antara novel berteknik epistolary dengan buku-buku kompilasi blog? Menurut pengamatan saya hal itu dapat dilihat dari plot yang terjalin dari dokumen-dokumen itu. Epistolary adalah sebuah teknik bercerita, sehingga walaupun dokumen-dokumen ditulis seolah terpisah, namun memiliki rangkaian dan menyusun sebuah cerita dengan kronologis teratur (baik secara maju atau mundur). Kompilasi blog bisa terdiri dari tulisan-tulisan yang lepas dan tidak berhubungan sama sekali. Namun sebuah kompilasi pun bisa dimasukan dalam tipe epistolary ketika mampu membentuk sebuah cerita.
Pada dasarnya macam-macam tulisan epistolary bisa dibagi menjadi tiga, berdasarkan jumlah karakter yang terlibat. Pertama, monologic, adalah epistolary yang hanya memunculkan dokumen dari satu karakter. Dua, dialogic, adalah epistolary yang memunculkan dokumen dari dua karakter yang saling berhubungan. Tiga, polylogic, adalah epistolary yang memunculkan dokumen lebih dari satu karakter. Bram Stroker’s Dracula adalah penganut tipe epistolary ketiga.
Sejumlah penulis menganggap teknik epistolary bisa mengurangi kesan omniscient narrator (narrator yang tahu segala) dalam sebuah cerita, terutama yang menggunakan sudut pandang ketiga. Selain itu teknik ini juga bisa memunculkan efek lebih nyata dalam suatu cerita. Namun di lain pihak, terdapat juga kekurangan dari penggunaan teknik ini. Salah satunya adalah kebingungan pembaca dalam memahami informasi dan rangkaian plot sebuah cerita epistolary. Hal ini terutama bisa dirasakan bila cerita menggunakan teknik epistolaris-polylogic dengan alur flash back. Selain dirancukan oleh time settingnya, pembaca juga dipaksa harus jeli sedang membaca dokumen milik karakter yang mana.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, epistolary tetap menjadi salah satu teknik menulis yang patut dicoba.
Read More..
19 Juli 2009
Pada Sebuah Titik Saya Terhenti

Banyak orang yang saya kenal telah melaju selangkah demi selangkah dalam hidup mereka. Jenjang karier yang telah ditapaki, pernikahan yang telah dijalani, keluarga yang telah dimiliki dan berbagai kesempatan hidup yang telah didapati. Maka saya lantas bertanya pada diri sendiri, kapan saya seperti itu? Kenapa saya masih seperti ini, tanpa suatu perubahan yang berarti. Dari waktu ke waktu hanya sekedar mencoba untuk mengejar sesuatu yang baru. Begitu banyak yang harus dipahami dan didalami, seperti sumber air yang tidak pernah mati.
Saya menginginkan banyak hal yang belum sempat saya pelajari. Saya tidak ingin sesuatu yang setengah-setengah. Saya serius. Saya berkorban dan saya memulai semuanya dari nol. Saya habiskan sekian waktu dari saya untuk mendalami itu semua, menggapai mimpi-mimpi yang menggantung sangat tinggi di angkasa. Saya jatuh dan bangun. Saya terhimpit lalu mencoba lepas. Saya tidka mau menyerah. Saya hanya tahu satu hal, saya pasti bisa. Tapi impian itu masih tetap terlihat begitu jauh untuk diraih. Saya berpikir, kapan waktu itu tiba bagi saya mencapai, setidaknya, satu dari mimpi-mimpi di depan sana. Ketika saya tersadar, saya telah melupakan sekeliling. Saya telah menghabiskan waktu tanpa hasil yang pasti. Maka saya berpikir,
Apakah ini sebuah kesalahan besar?
Kadang saya menginginkan saat di mana saya tidak perlu bermimpi dan berambisi. Hidup damai mengikuti arus seperti para ahli spiritual itu. Tapi bukankah mereka memang telah mencapai ujung ambisi dan impian mereka? Saat di mana tak ada lagi sebuah ambisi. Kadang terpikir untuk apa berambisi bila pada akhirnya tidak akan pernah mencapai titik yang memuaskan. Kenapa harus memilih mengikuti kata hati yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru? Kenapa harus mengais tanah dan membuat jalan sendiri bila sudah ada jalan lurus yang siap ditapaki walaupun tidak menarik hati? Mengapa harus berambisi bila tidak bisa memiliki?
Satu-persatu mereka mendahuli saya, membuat saya mempertanyakan untuk apa perjuangan selama ini. Kenapa saya tidak memilih mengikuti jalan yang mereka tempuh. Ketika seorang teman berkeluarga, ketika mereka mapan dalam bekerja, ketika mereka melalui jalan yang dulu ingin saya lalui, salahkah saya bila merasa iri dan tidak tidak adil? Saya merasa hidup sekedar berputar seperti gasing tanpa tujuan yang jelas. Apakah yang sebenarnya saya cari?
Kenapa? Ada apa dengan saya?
Apakah saya tengah menjalani sebuah karma ketika saya selalu dibenturkan pada kenyataan selalu ada langit di atas langit yang telah saya daki. Kapan pencapaian ini berakhir? Apakah kekalahan-kekalahan harus terus saya jalani? Apakah sudah saatnya saya untuk berhenti? Menyerah dan putus asa?
Apa yang harus saya lakukan?
Saya tahu meratap tidak menyelesaikan masalah. Saya mengerti putus asa dan menyerah adalah sebuah kekalahan besar. Saya paham batas antara mawas diri, ikhlas menerima dan menyerah hanyalah layaknya benang yang sangat tipis. Saya tahu saya harus bangkit dari kegagalan dan mencoba untuk terus berjuang. Saya sadar doa (mungkin) bisa membantu mempermudah segalanya. Tapi sampai kapan saya akan terus berlari mengejar ambisi-ambisi ini?
Maka akhirnya saya berpikir,
akan jauh lebih baik bila sejak awal saya tidak pernah memikirkan sebuah ambisi.
Read More..
11 Juli 2009
Belajar menulis : English Story
Belakangan ini saya makin bersemangat untuk belajar menulis cerita berbahasa Inggris, dalam hal ini fanfic. Ternyata hal itu bukan sesuatu yang mudah. kendala kosakata dan tata bahasa menjadi hal yang paling krusial. Satu tips penting yang saya dapat dari beta-reader saya di komunitas penulis fanfic adalah menulis cerita berbahasa Inggris tidak sama dengan menulis cerita bahasa Indonesia yang di-Inggriskan. Ada sejumlah logika kalimat dan susunan kata yang berbeda dalam kalimat bahasa Indonesia dan kalimat bahasa Inggris. Ketika saya meminta saran perbaikan atas kendala tersebut, maka teman saya hanya memberi saran "Banyak-banyaklah membaca cerita berbahasa Inggris sehingga kamu bisa mendapatkan the sense of English language." Saya hanya bisa nyengir menanggapinya.
Sementara untuk mengatasi masalah gramatikal dasar, ini ada oleh-oleh artikel yang dikirimkan oleh beta-reader saya untuk saya pelajari. Mungkin artikel ini tidak terlalu banyak membantu mereka yang ingin meningkatkan skor TOEFL atau IELTS, tapi minimal cukup membantu bagi mereka yang ingin memahami rambu-rambu EYD-nya bahasa Inggris dalam menulis.
Brought to you by the Purdue University Online Writing Lab.
Throughout this document, example sentences with nonstandard or inconsistent usage have verbs in bold.
A. Controlling Shifts in Verb Tense
Writing often involves telling stories. Sometimes we narrate a story as our main purpose in writing; sometimes we include brief anecdotes or hypothetical scenarios as illustrations or reference points in an essay. Even an essay that does not explicitly tell a story involves implied time frames for the actions discussed and states described. Changes in verb tense help readers understand the temporal relationships among various narrated events. But unnecessary or inconsistent shifts in tense can cause confusion. Generally, writers maintain one tense for the main discourse and indicate changes in time frame by changing tense relative to that primary tense, which is usually either simple past or simple present. Even apparently non-narrative writing should employ verb tenses consistently and clearly. General guideline: Do not shift from one tense to another if the time frame for each action or state is the same. Examples: 1. The ocean contains rich minerals that washed down from rivers and streams. 2. About noon the sky darkened, a breeze sprang up, and a low rumble announces the approaching storm. 3. Yesterday we had walked to school but later rode the bus home. 1. The children love their new tree house, which they built themselves. Semoga bermanfaat bagi yang ingin belajar menulis cerita dalam bahasa Inggris.
Contains is present tense, referring to a current state; washed down is past, but should be present (wash down) because the minerals are currently continuing to wash down.
Corrected: The ocean contains rich minerals that wash down from rivers and streams.
Darkened and sprang up are past tense verbs; announces is present but should be past (announced) to maintain consistency within the time frame.
Corrected: About noon the sky darkened, a breeze sprang up, and a low rumble announced the approaching storm.
Had walked is past perfect tense but should be past to maintain consistency within the time frame (yesterday); rode is past, referring to an action completed before the current time frame.
Corrected: Yesterday we walked to school but later rode the bus home.
General guideline: Do shift tense to indicate a change in time frame from one action or state to another.
Examples:
Love is present tense, referring to a current state (they still love it now;) built is past, referring to an action completed before the current time frame (they are not still building it.)
2. Before they even began deliberations, many jury members had reached a verdict.
Began is past tense, referring to an action completed before the current time frame; had reached is past perfect, referring to action from a time frame before that of another past event (the action of reaching was completed before the action of beginning.)
3. Workers are installing extra loudspeakers because the music in tonight's concert will need amplification.
Are installing is present progressive, referring to an ongoing action in the current time frame (the workers are still installing, and have not finished;) will need is future, referring to action expected to begin after the current time frame (the concert will start in the future, and that's when it will need amplification.)
B. Controlling Shifts in a Paragraph or Essay
General guideline: Establish a primary tense for the main discourse, and use occasional shifts to other tenses to indicate changes in time frame.
Hints:
• Rely on past tense to narrate events and to refer to an author or an author's ideas as historical entities (biographical information about a historical figure or narration of developments in an author's ideas over time).
• Use present tense to state facts, to refer to perpetual or habitual actions, and to discuss your own ideas or those expressed by an author in a particular work. Also use present tense to describe action in a literary work, movie, or other fictional narrative. Occasionally, for dramatic effect, you may wish to narrate an event in present tense as though it were happening now. If you do, use present tense consistently throughout the narrative, making shifts only where appropriate.
• Future action may be expressed in a variety of ways, including the use of will, shall, is going to, are about to, tomorrow and other adverbs of time, and a wide range of contextual cues.
C. Using Other Tenses in Conjunction with Simple Tenses
It is not always easy (or especially helpful) to try to distinguish perfect and/or progressive tenses from simple ones in isolation, for example, the difference between simple past progressive ("She was eating an apple") and present perfect progressive ("She has been eating an apple"). Distinguishing these sentences in isolation is possible, but the differences between them make clear sense only in the context of other sentences since the time-distinctions suggested by different tenses are relative to the time frame implied by the verb tenses in surrounding sentences or clauses.
Example 1: Simple past narration with perfect and progressive elements
On the day in question...
By the time Tom noticed the doorbell, it had already rung three times. As usual, he had been listening to loud music on his stereo. He turned the stereo down and stood up to answer the door. An old man was standing on the steps. The man began to speak slowly, asking for directions.
In this example, the progressive verbs had been listening and was standing suggest action underway at the time some other action took place. The stereo-listening was underway when the doorbell rang. The standing on the steps was underway when the door was opened. The past perfect progressive verb had been listening suggests action that began in the time frame prior to the main narrative time frame and that was still underway as another action began.
If the primary narration is in the present tense, then the present progressive or present perfect progressive is used to indicate action that is or has been underway as some other action begins. This narrative style might be used to describe a scene from a novel, movie, or play, since action in fictional narratives is conventionally treated as always present. For example, we refer to the scene in Hamlet in which the prince first speaks (present) to the ghost of his dead father or the final scene in Spike Lee's Do the Right Thing, which takes place (present) the day after Mookie has smashed (present perfect) the pizzeria window. If the example narrative above were a scene in a play, movie, or novel, it might appear as follows.
Example 2: Simple present narration with perfect and progressive elements
In this scene...
By the time Tom notices the doorbell, it has already rung three times. As usual, he has been listening to loud music on his stereo. He turns the stereo down and stands up to answer the door. An old man is standing on the steps. The man begins to speak slowly, asking for directions.
In this example as in the first one, the progressive verbs has been listening and is standing indicate action underway as some other action takes place. The present perfect progressive verb has been listening suggests action that began in the time frame prior to the main narrative time frame and that is still underway as another action begins. The remaining tense relationships parallel those in the first example.
In all of these cases, the progressive or -ing part of the verb merely indicates ongoing action, that is, action underway as another action occurs. The general comments about tense relationships apply to simple and perfect tenses, regardless of whether there is a progressive element involved.
It is possible to imagine a narrative based on a future time frame as well, for example, the predictions of a psychic or futurist. If the example narrative above were spoken by a psychic, it might appear as follows.
Example 3: Simple future narration with perfect and progressive elements
Sometime in the future...
By the time Tom notices the doorbell, it will have already rung three times. As usual, he will have been listening to loud music on his stereo. He will turn the stereo down and will stand up to answer the door. An old man will be standing on the steps. The man will begin to speak slowly, asking for directions.
In this example as in the first two, the progressive verbs will have been listening and will be standing indicate ongoing action. The future perfect progressive verb will have been listening suggests action that will begin in the time frame prior to the main narrative time frame and that will still be underway when another action begins. The verb notices here is in present-tense form, but the rest of the sentence and the full context of the narrative cue us to understand that it refers to future time. The remaining tense relationships parallel those in the first two examples.
D. General guidelines for use of perfect tenses
In general the use of perfect tenses is determined by their relationship to the tense of the primary narration. If the primary narration is in simple past, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in past perfect. If the primary narration is in simple present, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in present perfect. If the primary narration is in simple future, then action initiated before the time frame of the primary narration is described in future perfect.
Past primary narration corresponds to Past Perfect (had + past participle) for earlier time frames
Present primary narration corresponds to Present Perfect (has or have + past participle) for earlier time frames
Future primary narration corresponds to Future Perfect (will have + past participle) for earlier time frames
The present perfect is also used to narrate action that began in real life in the past but is not completed, that is, may continue or may be repeated in the present or future. For example: "I have run in four marathons" (implication: "so far... I may run in others"). This usage is distinct from the simple past, which is used for action that was completed in the past without possible continuation or repetition in the present or future. For example: "Before injuring my leg, I ran in four marathons" (implication: "My injury prevents me from running in any more marathons").
Time-orienting words and phrases like before, after, by the time, and others--when used to relate two or more actions in time--can be good indicators of the need for a perfect-tense verb in a sentence.
By the time the Senator finished (past) his speech, the audience had lost (past perfect) interest.
By the time the Senator finishes (present: habitual action) his speech, the audience has lost (present perfect) interest.
By the time the Senator finishes (present: suggesting future time) his speech, the audience will have lost (future perfect) interest.
After everyone had finished (past perfect) the main course, we offered (past) our guests dessert.
After everyone has finished (present perfect) the main course, we offer (present: habitual action) our guests dessert.
After everyone has finished (present perfect) the main course, we will offer (future: specific one-time action) our guests dessert.
Long before the sun rose (past), the birds had arrived (past perfect) at the feeder.
Long before the sun rises (present: habitual action), the birds have arrived (present perfect) at the feeder.
Long before the sun rises (present: suggesting future time), the birds will have arrived (future perfect) at the feeder.
E. Sample paragraphs
The main tense in this first sample is past. Tense shifts are inappropriate and are indicated in bold.
"The gravel crunched and spattered beneath the wheels of the bus as it swung into the station. Outside the window, shadowy figures peered at the bus through the darkness. Somewhere in the crowd, two, maybe three, people were waiting for me: a woman, her son, and possibly her husband. I could not prevent my imagination from churning out a picture of them, the town, and the place I will soon call home. Hesitating a moment, I rise from my seat, these images flashing through my mind." (adapted from a narrative)
Inappropriate shifts from past to present, such as those that appear in the above paragraph, are sometimes hard to resist. The writer becomes drawn into the narrative and begins to relive the event as an ongoing experience. The inconsistency should be avoided, however. In the sample, will should be would, and rise should be rose.
The main tense in this second sample is present. Tense shifts--all appropriate--are indicated in bold.
"A dragonfly rests on a branch overhanging a small stream this July morning. It is newly emerged from brown nymphal skin. As a nymph, it crept over the rocks of the stream bottom, feeding first on protozoa and mites, then, as it grew larger, on the young of other aquatic insects. Now an adult, it will feed on flying insects and eventually will mate. The mature dragonfly is completely transformed from the drab creature that once blended with underwater sticks and leaves. Its head, thorax, and abdomen glitter; its wings are iridescent in the sunlight."(adapted from an article in the magazine Wilderness)
This writer uses the present tense to describe the appearance of a dragonfly on a particular July morning. However, both past and future tenses are called for when she refers to its previous actions and to its predictable activity in the future.
Exercises on verb tense consistency are available at http://owl.english.purdue.edu/handouts/print/grammar/g_tensecEX1.html.
Life Is.....
where we have to collect the score ‘til the end
Goodness is like a gain,
That can yield the reward then
Badness is like a loss,
Which will reduce the point most
Death is like a deadline,
when we have to stop to try
Angel is like the officer,
who will do their duty forever
God is like the center owner,
who will count and decide the present
Heaven and hell are like the prize,
which we will get soon later
Thus, is it wrong if I say
That world is just a timezone area? Read More..
17 Mei 2009
Are We That Annoying?

Jadi semalam saya bersama teman saya memutuskan untuk menghadiri sebuah konser paduan suara yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Universitas negeri di kota kami. Kebetulan slah satu teman saya didaulat sebagai salah satu pianis dalam acara tersebut. Maka berangkatlah kami dengan misi untuk melihat hasil latihan mati-matian dirinya selama hampir dua minggu di sela-sela jam mengajar kami.
Ketika melihat nama teman saya terpampang sebagai pianis konser tersebut, saya berkelakar pada teman saya, “Gila aja, ntar bisa-bisa dia lebih beken sebagai pianis pop dari pada profesi aslinya dong.”
Teman saya tertawa. Agak ironis memang, karena di sekolah musik kami, kami berdualah yang kebagian mengajar piano sedangkan dia (si pianis konser teman saya itu) adalah guru biola. Ternyata istilah keahlian belum tentu sama dengan profesi tidak hanya berlaku di dunia kerja formal ^^.
Jujur, sejak datang, menonton konser memang tujuan kami. Bukan bermaksud mencela, tapi kami sudah bisa menebak sejauh mana konser yang akan kami lihat nanti. Dan kalau boleh jujur, kami sadar itu bukan sebuah pertunjukkan yang cukup membuat kami terpesona dan melongo. Penampilan teman kamilah yang menjadi daya tarik utama.
Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika memasuki gedung konser adalah tata panggung yang cukup artistik. Dari segi performance cukup menarik karena saya jarang menikmati konser seperti itu. Format acara dibuat formal dengan dress code night dress and suit untuk para pendukung acaranya. Pembawa acara juga membawakan susunan acara dengan formal. Hiburan yang disajikan terdiri dari lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara, vokal group dan solo. Musisi pendukung hanya terdiri dari piano dan bass serta gitar di beberapa lagu. Koreografi para penyanyi juga dibuat cukup menarik walaupun sejumlah kelemahan juga masih terlihat di sana-sini, seperti gerakan koreografi yang kurang rapi (melatih koreografi memang lebih baik dilakukan dalam studio dengan kaca-kaca di berbagai sisi sehingga minimal kita bisa melihat keseragaman gerakan antar pemain) atau beberapa suara yang menghilang (saya kira ini karena faktor teknis peralatan saja). Tapi selebihnya saya bisa bilang pertunjukkan yang ditampilkan cukup menghibur dan bagus.
Sayangnya, bukannya menunjukkan sikap penonton yang sudah terbiasa dengan acara konser sejenis, atau minimal menunjukkan sikap penonton yang baik (minimal mematuhi peraturan utnuk tidak membuat kegaduhan selama konser berlangsung), saya justru sibuk membahas tentang penampilan teman kami bersama teman saya yang lain, sesekali kami membahas kelemahan pertunjukan yang disajikan dan sedikit bergosip di sela-sela pembicaraan.
Sungguh, bukan maksud kami untuk mengganggu penonton lainnya. Saya hanya merasa sayang melewatkan kesempatan mengobrol dengan teman-teman saya hanya sekedar untuk menjaga image dengan berpura-pura menikmati sebuah pertunjukkan yang (sebetulnya) tidak terlalu menarik minat kami (tanpa bermaksud merendahkan kualitas konser yang sedang kami lihat). Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami tidak pantas untuk duduk tenang menghadap panggung konser. Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami yang tidak tahu diri mengkritik di sana-sini lebih pantas ditendang keluar. Tapi tidak bisakah orang lain menganggap itu sebagai sebuah cara untuk berapresiasi dan mengemukakan pendapat? Lagipula apa yang kami bahas bukan hal yang tidak berdasar.
Ya, mungkin kami memang keterlaluan. Mungkin tingkah kami memuakkan. Untuk itu kami mohon maaf… ^^ Tapi kami hanyalah orang luar yang sekedar menjadi penonton. Bukan simpatisan, bukan anggota organisasi yang bersedia membela mati-matian harga diri komunitas. Kami hanya sekedar orang yang sedang cari hiburan yang berhubungan dengan dunia kami. Ketika kami merasa itu belum cukup menarik perhatian kami, apakah salah ketika mencoba mengapresiasi sesuatu dengan bebas?
Untuk para penonton dan panitia unit paduan suara universitas tercinta yang merasa terganggu dengan tingkah kami semalam, saya mohon maaf. Bagaimanapun, pertunjukkan yang telah ditampilkan patut diacungi jempol. Four thumbs up for the committee…….Dan sayapun terjatuh.
GUBBRAAKK!! Duhh!!
Read More..
Mengenai Reinkarnasi

Kali ini temanya agak berat (eh, mungkin nggak juga sih.. ^^). Jadi semuanya berawal dari obrolan santai dengan teman saya di sela-sela mengajar. Kami membahas tentang konsep reinkarnasi (yang kebetulan sama-sama kami percayai) serta pro dan kontranya.
Apakah reinkarnasi? Ada yang menyebutkan reinkarnasi sebagai suatu proses terlahir kembali atau penitisan yang berulang ke dunia sebagai bentuk pencucian dosa atau pembersihan jiwa sebelum mencapai moksa (sempurna). Reinkarnasi berhubungan dengan karma seseorang dalam kehidupan sebelumnya. Baik buruknya karma seseorang akan mempengaruhi tingkat kehidupan pada reinkarnasi berikutnya.
Bagi mereka yang mempercayai reinkarnasi, kehidupan dianggap sebagai sebuah siklus kelahiran dan kematian roh yang terus berlangsung (saya pribadi percaya siklus ini akan terus berlangsung hingga kiamat tiba). Siklus kehidupan ini akan membuat manusia berpikir tentang hukum sebab-akibat dan karma sehingga untuk mencapai kehidupan akan datang yang lebih baik maka manusia harus bisa menjaga dan meningkatkan derajat kebersihan jiwanya di kehidupan sekarang.
Konsep reinkarnasi terutama dipercayai dalam sejumlah agama timur seperti Budha, Hindu, Konghuchu dan ajaran Tao, sementara kaum barat lebih tertarik untuk mempelajarinya sebagai sebuah bahan kajian yang menarik. Dalam agama Islam sendiri konsep reinkarnasi tidak dibicarakan dengan jelas. Bahkan saya kira, konsep reinkarnasi termasuk dalam konsep-konsep yang tabu dibicarakan karena (mungkin) dianggap (dapat) mengganggu konsep-konsep tauhid yang sudah akrab dengan masyarakat muslim. Saya pribadi menganggap perihal reinkarnasi sebagai sebuah konsep yang sama sekali tidak mengganggu kepercayaan saya terhadap agama yang saya anut. Saya bahkan menemukan sejumlah logika yang saling berkaitan yang justru membuat saya makin yakin dnegan ajaran agama yang saya anut.
Ada sebuah surat dalam Al-Qur’an yang menarik perhatian saya sehubungan dengan konsep reinkarnasi. Surat Al-Baqarah ayat 28 berbunyi : ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Pengulangan kata dimatikan dna dihidupkan menggelitik rasa penasaran saya. Pernyataan terakhir bahwa perulangan itu akan diakhiri dengan pengembalian tiap (roh) manusia kepada-Nya seolah menunjukkan pengakhiran sebuah proses yang berulang. Apakah ayat ini mencoba menegaskan bahwa sebuah konsep reinkarnasi (mati-lahir kembali-mati- lahir kembali) pun diakui dalam Islam?
Terlepas dari segala kekaburan maupun pro dan kontra tentang reinkarnasi, saya kembali mengakui bahwa saya termasuk orang yang percaya reinkarnasi, sama seperti kepercayaan saya terhadap kehidupan lain di luar bumi. Maka iseng saya bertanya pada teman saya (yang berkata kalau dia memiliki kemampuan untuk ”melihat” kehidupan sebelumnya).
”Kalau gitu gimana dengan kehidupan aku di masa lalu? Siapa aku sehingga sampai sekarang belum dapat jodoh?”
Jawabnya, ”Kamu menanggung karma masa lalu”
”Oya? Karma apa?”
”Di kehidupan sebelumnya kamu adalah seorang istri yang tidak bisa menghargai suami. Maka sekarang kamu harus menjalani karmamu.”
Saya tersenyum pahit. Jadi karena karma, ya? Terlepas dari benar tidaknya kata-kata dia, setidaknya saya mendapatkan sebuah gambaran apa yang harus saya perbaiki dari kehidupan saya sebelumnya.
Read More..
09 Mei 2009
Kartun (dan Komik) : Benarkah Selalu Untuk Anak-anak?

Selama ini saya masih banyak menemukan orang-orang yang menganggap kartun identik dengan anak kecil. Padahal kalau mereka mau sedikit lebih jeli mengamati kartun-kartun (terutama kartun Jepang) akan terlihat sekali tidak semua kartun layak dikonsumsi anak kecil. Banyak kartun yang sebetulnya dibanjiri dengan dialog-dialog ”aneh” bin “ajaib” yang menurut saya tidak akan dimengerti oleh anak-anak. Kartun yang mendidik semacam Dora the explorer atau Dora emon mungkin bisa diikuti oleh anak-anak karena susunan dialog yang cukup sederhana. Tapi bagaimana dengan Shin-chan atau bahkan Sponge Bob yang bagi kita (remaja dan orang dewasa) sangat lucu itu.
Di Jepang sendiri, kartun (dan komik) sudah memiliki kode khusus yang menunjukkan untuk konsumsi siapa kartun (atau komik) itu dibuat. Kode-kode rating macam untuk anak, untuk remaja, bimbingan orang tua, untuk dewasa pun menjadi hal biasa dalam kartun. Rating dewasa biasanya diberikan untuk kartun yang mengumbar adegan sadis, adegan seks, plot dewasa atau plot minor lainnya. Salah satu contohnya adalah kartun boyslove berjudul Junjo Romantica. Kartun ini diputar di Jepang pada jam tayang lewat tengah malam untuk konsumsi dewasa. Bayangkan kalau kartun macam ini secara sembrono diletakkan di jam tayang dimana anak-anak bisa melihatnya.
Saya juga pernah menemukan sebuah komik yang berisi adegan seks yang cukup graphic. Walaupun komik itu terkesan “echi” (istilah Jepang untuk porno), namun ternyata komik tersebut termasuk salah satu komik tema edukatif. Komik itu dibuat untuk konsumsi para pengantin baru sebagai buku panduan dalam bercinta. Selain itu masih banyak cerita komik atau kartun yang kalau diperhatikan jalan ceritanya tidak mungkin dikonsumsi oleh anak-anak.
Jadi mungkin, memang sudah seharusnya kita tidak lagi mengkulturkan kartu dan komik sebagai sebuah media hiburan anak-anak. Karena pada perkembangannya, media inipun telah digunakan untuk berbagai kepentingan dengan sasaran yang bervariasi. Sebagai orang tua, ada baiknya juga mengikuti karun-kartun atau komik yang dilihat atau dibaca putra-putri kita. Setidaknya bila kitapun mengerti isinya, maka kita bisa merekomendasikan apakah kartun atau film tersebut cukup layak dinikmati oleh anak seumuran mereka, tidak layak, atau boleh asalkan dengan bimbingan dan dampingan dari anda.
Read More..
19 April 2009
Secangkir Moccachino

Hampir setiap hari saya bekerja tanpa jeda selama beberapa jam, dari kelas satu ke kelas yang lain. Berjumpa dengan murid satu ke murid yang lain. Menyampaikan materi satu ke materi lain. Kadang seolah lupa dengan kebutuhan diri demi melayani para klien kecil saya tersebut. Waktu makan siang berlalu begitu saja, bahkan sholatpun jadi terburu-buru. Masih lebih baik kalau jadwal saya menyatu dalam satu lokasi....Yang repot adalah kalau harus mengejar di beberapa tempat yang berbeda dalam satu hari. Bayangkan harus menempuh jarak sekian km dalam menit seminimal mungkin. Beruntung saya tinggal di kota kecil tanpa momok macet yang menghantui lalu lintasnya. Setiap lokasi memang bisa dijangkau dalam hitunagn menit. Tapi harus meminimalisir menit yang dibuang selama perjalanan ke lokasi lumayan membuat gugup juga.
Hari inipun tidak jauh beda. Saya harus mengajar di tiga tempat berbeda tanpa waktu toleransi untuk perjalanan. Akibatnya saya seperti berkejaran dengan waktu demi memuaskan para klien saya (Waktu yang terbuang selama perjalanan kadang menghasilkan keluhan dari mereka). Saya tiba di sekolah musik itu sekitar 7 menit kemudian. Begitu datang, murid sudah menunggu di kelasnya. Kejadian sama terjadi di sekolah musik sebelumnya dan di rumah murid privat saya sebelumnya lagi. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan rekan selain tersenyum ramah dan menyapa mereka sekilas. Harus segera masuk kelas untuk mengajar, meminimalisir waktu yang terbuang karena jam berikutnya harus "terbang" lagi ke tempat yang lain. Tidak ada saat untuk bersantai bahkan sekedar beristirahat mengatur nafas.
Tapi hari ini sesuatu membuat saya menyadari satu hal penting di tengah kejaran waktu tersebut. Saat itu saya baru menyelesaikan setengah sesi mengejar saya. Saya minta ijin pada murid saya untuk ke toilet dan memberinya tugas untuk melatih lagu yang barusan kami pelajari bersama. Keluar dari toilet, seorang teman tiba-tiba mendekati saya.
"Mbak, belum makan siang, kan?"
Saya menggeleng.
"Itu saya buatkan kopi. Diminum, ya?"
Saya memandang arah yang ditunjuk teman saya. Sebuah baki bundar terhidang di atas meja transit para guru. Ada dua cangkir di situ. Satu berisi kopi hitam (saya kira itu milik teman saya, karena dia penggemar berat kopi), satu berisi moccacino (saya tebak itulah minuman yang teman saya tawarkan untuk saya). Terdorong rasa tidak enak, saya mengiyakan, mengucapkan terima kasih dan segera mendekati minuman yang ditawarkan teman saya. Mungkin murid saya bersedia berlatih semenit dua menit lagi sementara saya mencoba menghargai perhatian teman saya itu.
Di luar dugaan, ketika menyesapnya, moccacino itu terasa begitu nikmat mengalir di lidah saya. Moccacino itu tidak memiliki ramuan khusus. Hanya moccacino instan yang biasa saya lihat di warung-warung atau gerai supermarket. Tapi entah kenapa, mungkin karena takaran air yang pas, atau kehangatan air seduhnya yang tepat, atau mungkin juga karena otak saya sedang membutuhkan "colling downer" (^_^ istilah apa pula itu...), saya merasa moccacino ini begitu enak. Rasa manisnya dengan segera menenangkan syaraf saya yang tegang setelah bekerja dari pagi. Kehangatannya membuat saya nyaman. Sesaat saya seolah lupa kalau sedang mengajar. Alih-alih kembali ke kelas, saya justru menyempatkan diri untuk duduk dan menyesap habis moccacino tersebut sedikit demi sedikit sambil memandang keramaian lalu lintas di depan sekolah musik saya. Oh, rasanya menyenangkan sekali. Walhasil saya kembali ke hadapan murid saya sekitar 7 menit kemudian. Cukup lama, namun saya kembali dengan suasana yang lebih fresh.
Tanggung jawab memang perlu dalam tugas. Berusaha memuaskan customer atau klien juga penting. Tapi jauh lebih penting dari semua itu adalah menyempatkan sedikit waktu untuk menenangkan diri sejenak dan menyegarkan pikiran di tengah-tengah kesibukan yang melelahkan sepanjang hari. Bukan dilihat dari kuantitas waktu yang diluangkan, namun lebih kepada kualitas refreshing yang dilakukan. Mungkin hanya sekedar duduk memandang lalu lintas selama beberapa menit sambil menyesap secangkir moccacino sudah cukup untuk memulihkan energi dan suasana hati yang mulai terkuras selama setengah hari.
Mungkin saya patut berterima kasih dengan teman saya yang sudah berbaik hati "mengingatkan" saya pentingnya refreshing diri melalui Moccacino buatannya.
. Read More..
Cerpen inggris pertama saya
Menulis cerita bukan hal baru bagi saya. Semenjak saya memutuskan untuk bergabung dengan Kemudian.com, maka saya banyak belajar dari teman-teman di sana mengenai apa dan bagaimana itu menulis. Mengetahui kegemaran saya itu, salah satu teman dari fanfiction memberi saran, "Jadi kenapa tidak mencoba menulis fanfic dengan bahasa Inggris?" Saya merasa tertantang.
Saya menyukai fanfic. Saya juga sudah pernah menulis fanfic (tapi dalam bahasa Indonesia). Saya (merasa) cukup paham dengan bahasa Inggris. Saya pernah aktif di klub bahasa Inggris, saya pernah mengajar bahasa Inggris untuk beberapa siswasaya pernah memegang beberapa kelas TOEFL dan wawancara kerja berbahasa Inggris. Saya berpikir menulis fanfic berbahasa Inggris akan menjadi sebuah tolak ukur tersendiri atas penguasaan saya terhadap dua bidang tersebut, menulis dan bahasa Inggris.
Di luar dugaan, saat saya mencoba menuangkan ide di depan monitor komputer, saya justru mendapatkan diri saya kebingungan untuk mulai dari mana. Membuat paragraf pembuka dan memilih kata-kata dalam bahasa ibu adalah hal yang jauh lebih mudah bagi saya dibanding memilih kata dalam bahasa Inggris. Tiba-tiba saya terbentur dengan segala permasalahan yang biasanya saya kemukakan di hadapan murid-murid Inggris saya. Saya takut membuat salah dari segi tata bahasa, saya lupa perbendaharaan kata, saya bahkan tidak tahu mau menulis apa. Ternyata menulis bahasa inggris jauh lebih sulit daripada berbicara.
Saya tidak mau membuang waktu. Maka saya mencoba menulis dengan bahasa Indonesia yang kemudian saya coba terjemahkan. Setelah itu, cerita tersebut saya kirimkan ke "editor" bahasa dhadhakan saya. Di luar dugaan, komentarnya benar-benar membuat saya mempertanyakan kapasitas kemampuan bahasa Inggris saya yang sesungguhnya.
"Yosi, lebih dari 50% pemilihan dan penyusunan katamu kacau.*
Maka dimulailah, satu minggu kursus kilat untuk memperbaiki susunan kata dan gaya bahasa saya dalam cerita tersebut. Pengalaman itu membuat saya berpikir ternyata kemampuan bahasa asing saya pun masih belum ada apa-apanya. Saya harus banyak belajar lagi.
Ada saat dimana kita berhak merasa puas dengan keahlian atau kemampuan yang kita miliki. Itu membuat kita menjadi sedikit lebih menghargai diri sendiri. Namun bila ingin merasa hidup, jangan pernah merasa bahwa kita sudah "cukup" dengan apa yang kita miliki. Selalu berpikir bahwa masih ada langit di atas langit dan ada tujuan lebih jauh yang akan diraih. Itu yang membuat kita berpikir untuk selalu menjadi lebih baik, menjadi dinamis, bergerak, berubah dan kemudian HIDUP.
Read More..
Study Tour Seorang Steve
Pemberitahuan itu disampaikan oleh salah satu murid saya, Sebut saja namanya Steve tadi siang. Sepintas tidak ada yang istimewa dengan pengumuman “pergi ke sawah” itu. Tapi ceritanya jadi lain kalau yang berkata adalah seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah swasta elit dengan fasilitas tiga bahasa pengantar, kurikulum standar internasional, bertempat tinggal di real estate paling elit di kota ini, memiliki orang tua yang keduanya pengusaha super sibuk, setiap hari diantar jemput supir dan kemana-mana ditemani pengasuh. Begitulah gambaran sosok seorang Steve kecil.
Tidak heran kegiatan “berjalan-jalan ke sawah” menjadi sebuah pengalaman baru baginya karena dia memang belum pernah melakukannya. Sebagai salah satu program pendidikan tahunan di sekolah Steve, berkunjung ke sawah bukan lagi menjadi kegiatan tidak penting. Porsinya menjadi sejajar dengan acara-acara studi tour atau field trip macam berkunjung ke balai penelitian, museum, institusi-institusi pendidikan dan tempat-tempat edukatif lainnya yang nilainya mampu menunjang nilai akademik siswa.
Steve lalu dengan antusias bercerita betapa menyenangkan berjalan di atas pematang sawah. Ketika saya tanya mengenai kerbau dan Pak tani (gambaran yang entah kenapa selalu diasosiasikan dengan sawah), maka Steve mengiyakan dengan gembira. Dia bilang dia sudah melihat sendiri kerbau dan Pak tani. Dia juga berkata bahwa dia takut naik kerbau. Menurut Steve, setelah puas berkeliling sawah, dia lalu berkumpul bersama teman-teman (beserta pengasuh atau orang tua masing-masing) dan guru-gurunya di sebuah gubuk yang lebar untuk bersantap siang. Entah kenapa saya jadi membayangkan sebuah suasana akrab yang sederhana. Bagi anak-anak yang terbiasa dimanjakan dengan fasilitas lengkap dan permainan modern, atau terbiasa dengan hiburan berduit macam TimeZone, Kidsania, Pameran dinosaurus atau minimal makan-makan di food court mall atau restoran elit bersama keluarga, saya yakin acara makan siang bersama di tengah sawah menjadi sebuah pengalaman yang berkesan.
Saya jadi ingat cerita murid saya yang lain, sebut saja Lia, yang bersekolah di sekolah dasar berstandar internasional lain di kota ini. Dia juga bercerita tentang kegiatan sekolahnya yang tidak kalah unik, yaitu berbelanja ke pasar tradisional. Bersama gurunya, Lia dan kawan-kawan mengadakan studi tour ke pasar tradisional terdekat (lagi-lagi tentu saja bersama pengasuh atau orang tua masing-masing). Masing-masing siswa diwajibkan membeli sayuran dan buah dibawah Rp 5.000,-. Setelah itu bahan-bahan yang dibeli dikumpulkan dan dimasakn bersama untuk makan siang bersama.
Mungkin di kota lain, kegiatan semacam itu bukan hal baru. Tapi informasi dari murid-murid saya itu memberi wawasan baru bagi saya mengenai perkembangan kurikulum dan kegiatan pendidikan Sekolah dasar, khususnya di sekolah-sekolah swasta berstandar internasional, yang belakangan sedang tumbuh subur di sini. Dibandingkan dengan materi pelajaran Sekolah Dasar konservatif yang saya terima ketika saya duduk di bangku SD, kegiatan berkunjung langsung ke sawah atau pasar tradisional terasa jauh lebih menyenangkan untuk dipelajari. Seorang murid yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah dasar di Australia bercerita pada saya kalau dia tidak harus membaca dan menghafal banyak buku pelajaran. Kegiatan yang paling sering dia lakukan dalam proses belajar mengajar adalah “membuat sesuatu”, “mengamati sesuatu” dan “bercerita” yang jauh lebih mengasyikan dibanding menghafal.
Memberikan metode-metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan memang bukan hal yang mudah. Saya sendiri mengalami masalah-masalah tersebut ketika harus menyampaikan materi-materi saya pada murid-murid saya. Namun bagaimanapun membangun antusiasme dan ketertarikan murid utnuk mempelajari dan memahami suatu materi adalah hal yang penting untuk diupayakan utnuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.
Yang lebih membuat saya salut lagi adalah usaha-usaha sekolah-sekolah elit itu untuk tetap memperkenalkan kepada siswa-siswanya kehidupan dan lingkungan awam di sekitar mereka. Setidaknya dengan begitu diharapkan anak-anak polos itu bisa merasakan sebuah kepedulian social, lebih menyatu dengan lingkungan dan masyarakat. Lega sekali mendengar kisah Steve dan Lia yang sama-sama merasa senang dan gembira dengan kegiatan itu. Anak-anak itu memang polos dan mudah sekali dibentuk. Bagaikan sebuah botol, mereka benar-benar masih memiliki banyak ruang kosong untuk diisi dengan air-air pengetahuan dan nilai moral positif. Menjadi tanggung jawab kita para pendidik dan orang yang lebih dewasa dan mengerti untuk menyediakan isi-isi positif itu.
Sedikit percakapan lanjutan saya dengan Steve berikutnya.
“Steve, kamu suka bahasa Inggris?”
“Nggak terlalu.”
“Paling sebel pelajaran apa?”
“Bahasa indonesia.”
“Paling mudah pelajaran apa?”
“Bahasa Mandarin.”
“Berarti suka bahasa Mandarin?”
“Enggak.”
“Terus sukanya pelajaran apa?”
“Math sama bahasa daerah.”
Betapa saya ingin mencubit pipi Steve yang montok itu karena gemas.
Read More..
Fanfic, apaan tuh?
Fanfic sepenuhnya merupakan hasil imajinasi dari para fans. Konsep sederhana yang digunakan dalam menulis sebuah fanfic adalah “What if…” atau “Bagaimana jika…”.
Dengan konsep itu fans bebas berimajinasi mengenai karakter kesayangan mereka. Fanfic menjadi sebuah art-project yang menyenangkan bagi seorang fans disamping proyek lain seperti membuat wallpaper, scrap book, craft design, atau art work lainnya yang menyangkut bintang atau karakter pujaannya.
Konsep “What If…” atau “Bagaimana jika…” memungkinkan pengembangan plot fanfic bisa berhubungan dengan kisah aslinya atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Konsep tersebut juga membebaskan para fan (penulis fanfic) untuk bereksperimen mengeksplorasi dan memodifikasi karakter yang sudah ada atau bahkan menggabungkan karakter dan plot dari beberapa kisah sekaligus. Konsep tersebut juga berlaku pada fanfic-fancik selebritis, yaitu fanfic yang ditulis dengan menggunakan karakter para selebritis.
Untuk menghindari protes atau pertanyaan dari fans lain, biasanya para penulis sudah memberikan sedikit catatan-catatan “peringatan” atas variasi-variasi eksperimen yang dia gunakan dalam fanfic-nyaBeberapa istilah yang umum dikenal dalam dunia “per-fanfic-an” antara lain :
-OC (Other Character), artinya penulis telah menambahkan tokoh lain (yang murni rekaan penulis) dalam cerita fanfic tersebut.
-OOC (Out Of Character), artinya karakter yang diambil akan berbeda dengan karakter mereka dalam kisah aslinya.
-Cross-gender, artinya ada karakter yang dirubah jenis kelaminnya
-Crossover, artinya fanfic yang bersangkutan dibuat dengan mencampur plot dan karakter dari dua buah cerita atau lebih,
Dan sebagainya.
Dari segi tekhnik penyajiannya, fanfic bisa dibagi lima, yaitu:
-Drable, atau umumnya dikenal dengan istilah cerpen 100 kata. Panjang cerita sekitar 100 kata dan biasanya karakter atau setting yang dipakai tidak menyimpang dari cerita aslinya.
-Shortshoot (cerpen). Format penyajiannya seperti cerpen, karakter atau setting yang dipakai tidak menyimpang dari pakem, masih berhubungan dari cerita, biasanya mengeksplorasi dari bagian-bagian cerita asli yang tidak terekspos.
-Longshoot (cerbung). Sama seeprti cerpen, hanya berbeda dari segi jumlah kata. Sebuah longshoot bisa terdiri dari ribuan kata.
-Songfic, adalah sebuah fanfic yang ditulis dengan menggunakan karakter, setting dan pakem cerita yang sudah ada, namun menggunakan plot lagu atau puisi sebagai pengembangannya.
-Alternate universe dan Crossover, yaitu fanfic yang ditulis berbeda dengan pakem aslinya. Bisa berwujud dalam kebebasan imajinasi penulis menyadur cerita atau menggabungkan cerita asli dengan cerita lain.
Sejumlah pihak menganggap fanfic sebagai bentuk plagiat. Bahkan Anne Rice (pengarang novel Interview With The Vampire) secara tegas melarang siapapun yang menggunakan karakter dalam buku-bukunya untuk dibuat menjadi fanfic. Beberapa lainnya menganggap bahwa fanfic adalah contoh karya yang tidak orisinal.
Bagi saya pribadi, fanfic justru baik dipakai sebagai salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan menulis. Fan biasanya selalu bersemangat ketika mereka mengerjakan sebuah proyek yang berhubungan dengan idola mereka. Menulis fanfic akan membuat mereka menikmati kegiatan menulis.
Fanfic juga bagus digunakan sebagai media latihan menulis mereka yang ingin memperhalus gaya bahasa, memperdalam pemahaman karakter, mengembangkan plot dan memperbaiki cara penulisan. Setting dan karakter yang sudah tersedia memungkinkan penulisnya bisa lebih berfokus pada pengembangan tekhnik penulisan dan tekhnik bahasa yang mereka miliki.
Masalah orisinalitas ide atau bukan, sebuah karya yang indah tetap membutuhkan kemampuan yang cukup baik dari penulisnya. Apa salahnya mengapresiasi sebuah karya fanfic?
Jadi, menulis fanfic, mengapa tidak?
Read More..
Obat stress
Sejenak saya termangu diam, bingung, atau lebih tepatnya ragu untuk menjawab. Dalam jeda waktu sekian detik itu saya berpikir, apa obat stress saya?
Jawaban umum yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah tertawa. Itu yang sering saya baca. Tertawalah, maka anda akan bisa terbebas dari stress. Maka saya nyaris menyarankan agar teman saya banyak membaca cerita humor atau menonton film bertema komedi. Atau bahkan (bila memungkinkan) mengikuti terapi tertawa. Saya segera menyadari itu bukan ide yang brilian. Teman saya tidak terlalu suka membaca dan dia jelas tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama menonton televisi. Lalu tentang saran terapi tertawa, mengalokasikan waktu dan dana untuk mengikuti terapi semacam itu jelas tidak masuk dalam kamus pegawai sekelas buruh seperti kami.
Maka saya pikirkan obat yang lain. Musik. Itu yang terkadang saya butuhkan ketika saya sedang banyak pikiran. Saya memutuhkan musik untuk menenangkan hati dan pikrian. Saya memerlukan musik untuk membantu saya menghilangkan pikiran negatif dan membuai saya ke alam mimpi. Saya memakai musik untuk membangkitkan inspirasi. Saya menggunaka musik sebagai obat stress. Tapi itu adalah saya bukan teman saya. Teman saya itu tidak terlalu gemar musik. Teman saya itu tidak tahu bagaimana musik yang bisa menenangkan jiwa. Teman saya adalah seseorang yang menganggap musik yang bagus adalah musik yang banyak digemari orang dan musik yang aneh adalah musik yang tidak digemari orang. Teman saya tidak pernah setuju dengan pendapat saya yang mengatakan bahwa Vivaldi dan Mozart bisa membawa ketenangan jiwa. Jadi, saya sampai pada kesimpulan musik bukanlah obat yang dia cari.
Ada resep lain yang terkadang saya pakai ketika saya mengalami stress berat. Saya suka ke dapur untuk membuat secangkir cappucino atau mencari cokelat dan biskuit manis di lemari persediaan. Gula dan cokelat bisa jadi obat yang mujarab untuk menjernihkan pikiran ruwet. Tapi obat itu bukan favorit saya. Alasannya sederhana. Saya takut kalap dan semakin berat. Teman saya itu mempunya sifat genetik yang tidak jauh beda dengan saya. Kami sangat responsif dengan gula dan karbohidrat. Jadi saya rasa, saran makanlah yang manis-manis kemungkinan besar hanya akan menambah beban stressnya.
Merasa berhutang atas sebuah jawaban, saya akhirnya balik bertanya, "Stress kenapa?" Maka sesi tanya jawab berubah menjadi sesi curhat. Tiba-tiba saja teman saya mulai berkeluh kesah tentang beban pekerjaan, tentang omelan atasan, tentang ketidak adilan dan tentang lainnya. Sejenak saya kembali termangu. Tiba-tiba saya tersadar beban pekerjaan itu tidak hanya cukup diatasi dengan cerita lucu, musik atau cokelat karena teman saya memang berbeda dengan saya. Masalah dia terlalu kompleks. Saya buntu, tidak tahu harus berkomentar apa.
Maka saya mengatakan sesuatu yang selalu menjadi senjata andalan saya ketika saya merasa buntu dan tidak tahu lagi harus berpikir apa. Di luar dugaan, ternyata teman saya memandang saya dengan lega. Katanya, "Mbak benar. memang itu satu-satunya obat stress yang paling mujarab."
Hanya ada satu jawaban yang bisa kita pikirkan ketika kita sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa dan berpaling kemana. Ikhlas, berserah diri dan berdoalah pada Yang Maha Kuasa.
Read More..
Mengenai Kesetaraan Gender
Siswa saya bercerita tentang sebuah diskusi menarik yang dilakukan bersama kelompok diskusinya kemarin. Diskusi diawali dengan sebuah cerita mengenai seorang laki-laki di Cina yang memiliki seorang istri dan seorang anak yang lumpuh. Dengan penuh kesabaran dan kesetiaan dia merawat istri dan anaknya. Suatu hari gempa melanda kotanya. Karena dia tidak mampu menyelamatkan istri dan anaknya sekaligus, maka dia memutuskan untuk mendampingi mereka di dalam rumah dan berserah diri kepada Tuhan sepenuhnya mengnai nasib mereka sekeluarga. Ajaib. Laki-laki itu selamat bersama anak dan istrinya dari deraan gempa. Berikutnya, laki-laki tersebut mendapat penghargaan dari pemerintah Cina karena ketulusan dan kesetiannya merawat istri dan anaknya.
Hal yang menarik muncul ketika diskusi mengenai cerita itu berlangsung. Siswa saya berpendapat bahwa pemerintah Cina terlalu berlebihan dalam menghargai perbuatan laki-laki dalam kisah itu. Menurutnya, merawat keluarga dengan tulus ikhlas adalah sebuah hal biasa bagi perempuan (siswa saya itu seorang perempuan). Selama ini tidak pernah terdengar apresiasi berlebihan terhadap seorang perempuan atas ketulusannya merawat dan memberikan kasih sayang pada keluarganya. Kenapa tindakan laki-laki itu bisa mengusik perhatian pemerintah akan sebuah ketulusan? Pertanyaan itu kemudian ditanggapi balik oleh sebuah pertanyaan lain, "Mengapa harus ada penghargaan bagi para perempuan yang bekerja dan dianggap sebagai seorang Srikandi, padahal bermata pencaharian itu adalah sebuah hal yang sangat biasa di mata laki-laki?"
Perdebatan itu membuat saya berpikir,
"Mengapa harus ada penghargaan ketulusan untuk para pria dan pengahargaan atas karier untuk para perempuan yang berkarya?"
Jawaban yang paling umum yang terlontar ketika saya coba balik menanyakan pendapat para siswa saya mengenai hal tersebut adalah bahwa sikap tulus dan setia seperti yang ditunjukkan oleh pria Cina itu adalah hal yang spesial bagi seorang laki-laki sementara soal karier cemerlang adalah hal yang spesial bagi para perempuan. Jawaban tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan sebuah stigma mengenai pembagian hal "yang biasa dilakukan oleh perempuan" dan hal "yang biasa dilakukan oleh laki-laki". Penghargaan tersedia bagi mereka-mereka yang mampu melakukan hal-hal di luar kebiasaan itu.
Maka berikutnya muncullah pertanyaan dalam benak saya,
"Kalau begitu, tidakkah penghargaan itu semakin memperjelas perbedaan (yang sebetulnya ada) pada pria dan wanita?"
Read More..
A God's hand
Tiba-tiba datang sebuah mobil (cukup berkelas). Pengendaranya keluar untuk membeli bensin. Ketika urusannya selesai, dia membayar dengan uang pecahan besar. (Aneh) ternyata pos bensin itu tidak punya pecahan kecil untuk mengembalikan uang si pengendara mobil (Kenapa saya bilang aneh? Karena dari dulu setahu saya pos bensin justru sasaran orang untuk menukar uang pecahan besar. masa lembar sepuluh ribu saja tidak ada?). Lalu si pengendara mobilpun berkata,
"Ya sudah, mas. Kembaliannya dipakai untuk membayar bensinya bapak itu saja," katanya sambil menunjuk teman saya. Pengendara itupun masuk ke dalam mobilnya dan berlalu. Teman saya terlongo sejenak. Biaya yang dia butuhkan untuk membayar bensinya (lagi-lagi kebetulan) sama besar dengan kembalian untuk si pengendara mobil tadi. Ketika tersadar teman sayapun mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Ini bukan cerita fiktif. Ini nyata. Beberapa hal yang membuat saya terhatu dalam kisah ini adalah: masih adanya orang-orang yang peduli untuk berbagi dengan orang lain seperti bapak pengendara mobil itu. Kemudian, segala kebetulan yang terjadi dalam rangkaian kisah ini, mulai dari masalah teman saya, lalu kemunculan pengendara mobil itu, bagaikan sebuah skenario kebaikan yang begitu indah yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Bagi saya, kemunculan se pengendara mobil yang (tanpa sengaja) telah membantu kesulitan teman saya bagaikan perpanjangan tangan Tuhan dalam menolong umatnya.
Tuhan selalu siap membantu umatnya dalam bentuk apapun, melalui siapapun dan pada saat kapanpun bagi mereka yang percaya.
Read More..
Sebuah ruangan ukuran 3x4
Seluruh ruangan itu didominasi oleh warna putih. Saya biasanya menghabiskan rata-rata 7 jam sehari selama 6 hari kerja di dalam ruangan tersebut. Sesekali saya keluar untuk sholat, makan siang atau memenuhi panggilan biologis lainnya. Selain itu biasanya saya tidak pernah kemana-mana dari ruangan tersebut. Murid-murid datang dan pergi setiap 45 menit sekali.
Membosankan? Mungkin terdengar iya. Tapi bagi saya justru ruangan itu adalah tempat kedua yang paling nyaman setelah kamar saya (huehehehe.. kepikiran nggak mungkin saya orangnya kuper sekali?). Sebuah hiburan tidak ternilai bagi saya ketika "harus" bertemu dengan klien-klien kecil saya yang "ajaib-ajaib itu". Kadang capek memang menghadapi tingkah mereka. Tapi senang juga saat harus berbagi ceria. Yang lebih utama lagi, hal yang tidak akan pernah membuat saya bosan berada dalam ruangan itu adalah suara dentingan piano yang terdengar setiap saat dan gerakan gemulai jari-jari mungil dari klien-klien saya itu. Kalau sudah begini, saya bisa betah berjam-jam menikmati dentingan itu. Anak-anak dengan piano benar-benar pemandangan yang indah.. ^_^
Read More..
A teacher's mind
Murid saya yang tadinya bersuara sopran sekarang berubah bersuara bass karena pertumbuhan pita suaranya. Dan terutama, mereka yang tadinya membuat saya harus menunduk untuk melihat, sekarang membuat saya harus mengangkat dagu sedikit hanya supaya saya mampu menatap mata mereka.
Menakjubkan sekali bila memikirkan perkembangan ini. Kadang saya bisa termangu sendiri memperhatikan murid-murid saya itu. Saya membayangkan bagaimana pertemuan-pertemuan pertama kami. Saya ingat sikap malu-malu dan takut-takut mereka. Saya masih bisa mendengar suara manja atau suara kecil mereka. Saya masih bisa merasakan tangan-tangan mungil mereka dalam genggaman saya. Saya ingat salah satu murid saya yang saat itu bahkan belum bisa berbicara dengan lancar (umurnya baru tiga tahun) sekarang sudah bisa dengan bandel "membantah" perintah-perintah saya dengan kata-katanya. Beberapa murid yang dulu masih berseragam merah-putih, selalu bermain-main setiap saya bertemu mereka, tiba-tiba saja saya sadari sudah berseragam biru-putih dan mulai berbicara tentang lawan jenis atau gosip-gosip dunia mereka. Betapa mengagumkan melihat mereka berkembang.
Hal lain yang tidak kalah menakjubkan adalah menyadarinya bagaimana kemampuan dan cara berpikir mereka berkembang dengan baik. Saya mempunyai seorang murid bahasa yang sangat pemalu hingga dia sendiri bilang selamanya dia tidak akan mungkin berani berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris. Kenyataanya sekarang kami bahkan selalu menjalani sesi belajar-mengajar 85% dalam bahasa Inggris. Seorang murid saya dulu selalu menghabiskan satu sesi pelajaran dengan berlari-lari kesana-kemari, mengajak saya bermain ala kuis televisi tanpa mau menyentuh piano semenitpun, sekarang bahkan sudah mulai mengikuti konser.
Terkadang ada rasa haru dan bangga melihat mereka tumbuh dan berkembang. Dalam pertemuan kami yang bisa dibilang singkat dalam kurun waktu sekian tahun (umumnya satu atau dua kali dalam seminggu untuk sesi sepanjang 45 menit hingga 1,5 jam), ada rasa yang tidak bisa dilukiskan melihat anak-anak ini. Ini hanyalah perasaan saya sebagai guru mereka.
Saya jadi berpikir bagaimana dengan para orang tua yang selalu mengikuti seluruh perkembangan putra-putri mereka? Pastilah perasaan itu akan jauh lebih dalam lagi. Sayang sekali bila ada orang tua yang sampai kehilangan kenangan atau kesempatan melihat pertumbuhan anak-anak mereka.
Sungguh, melihat mereka tumbuh dan berkembang benar-benar perasaan yang luar biasa.... ^_^
Read More..
Terharu lagi
Mungkin hal ini tidak terlalu istimewa. High Score's Concert sendiri adalah konser intern yang diselenggarakan oleh ABRSM (Associated Board of Royal School of Music, London) perwakilan Indonesia. Konser menampilkan para siswa yang berhasil memperoleh nilai tertinggi dalam ujian piano yang diselenggarakan oleh ABRSM di cabang-cabang ABRSM Indonesia. Para peserta konser diwajibkan menampilkan satu lagu ujian terbaik mereka disaksikan oleh pejabat ABRSM Indonesia, para guru, siswa lain dan kerabat mereka (kadang terdapat beberapa tamu dari umum yang sengaja ingin menonton konser atau resital kecil tersebut). Sifat yang intern ini membuat ABRSM High Score's Concert menjadi tidak terlalu istimewa dalam dunia klasik, terutama klasik di indonesia.
Namun bagi saya, yang bisa dibilang masih hijau sebagai pengajar di bidang ini, undangan terhadap murid saya merupakan suatu kepuasan tersendiri yang tidak bisa terlukiskan. Saya sangat menyadari bahwa keberhasilan ini bukan semata karena keberhasilan saya. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan untuk membimbing anak-anak dengan bakat musik yang bagus (tanpa kerja keras mereka, maka kerja keras sayapun tidak akan berarti). Tapi setidaknya, saya telah menunjukkan kepada mereka (yang sebelumnya sempat meragukan kemampuan saya) bahwa saya (dengan segala keterbatasan dan kepolosan yang saya miliki...^_^) ternyata mampu membentuk "sesuatu". Walaupun pengakuan itu tidak akan saya dengar, paling tidak saya telah "melihat" dan "menunjukkan" sesuatu.
Betapa bangga dan terharunya ketika kita bisa melihat dengan mata kita sendiri sebuah keberhasilan atau prestasi (sekecil apapun) yang telah kita coba raih dengan sungguh-sungguh. Pujian menjadi kebutuhan sekunder saat kita bisa melihat prestasi (kecil) itu, karena kita tahu sebuah bisikan dalam pikiran yang menyebutkan sesuatu yang jauh lebih penting dari itu.
"Saya telah melakukan yang terbaik untuk ini."
Read More..
