19 April 2009

Secangkir Moccachino



Hampir setiap hari saya bekerja tanpa jeda selama beberapa jam, dari kelas satu ke kelas yang lain. Berjumpa dengan murid satu ke murid yang lain. Menyampaikan materi satu ke materi lain. Kadang seolah lupa dengan kebutuhan diri demi melayani para klien kecil saya tersebut. Waktu makan siang berlalu begitu saja, bahkan sholatpun jadi terburu-buru. Masih lebih baik kalau jadwal saya menyatu dalam satu lokasi....Yang repot adalah kalau harus mengejar di beberapa tempat yang berbeda dalam satu hari. Bayangkan harus menempuh jarak sekian km dalam menit seminimal mungkin. Beruntung saya tinggal di kota kecil tanpa momok macet yang menghantui lalu lintasnya. Setiap lokasi memang bisa dijangkau dalam hitunagn menit. Tapi harus meminimalisir menit yang dibuang selama perjalanan ke lokasi lumayan membuat gugup juga.

Hari inipun tidak jauh beda. Saya harus mengajar di tiga tempat berbeda tanpa waktu toleransi untuk perjalanan. Akibatnya saya seperti berkejaran dengan waktu demi memuaskan para klien saya (Waktu yang terbuang selama perjalanan kadang menghasilkan keluhan dari mereka). Saya tiba di sekolah musik itu sekitar 7 menit kemudian. Begitu datang, murid sudah menunggu di kelasnya. Kejadian sama terjadi di sekolah musik sebelumnya dan di rumah murid privat saya sebelumnya lagi. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan rekan selain tersenyum ramah dan menyapa mereka sekilas. Harus segera masuk kelas untuk mengajar, meminimalisir waktu yang terbuang karena jam berikutnya harus "terbang" lagi ke tempat yang lain. Tidak ada saat untuk bersantai bahkan sekedar beristirahat mengatur nafas.

Tapi hari ini sesuatu membuat saya menyadari satu hal penting di tengah kejaran waktu tersebut. Saat itu saya baru menyelesaikan setengah sesi mengejar saya. Saya minta ijin pada murid saya untuk ke toilet dan memberinya tugas untuk melatih lagu yang barusan kami pelajari bersama. Keluar dari toilet, seorang teman tiba-tiba mendekati saya.

"Mbak, belum makan siang, kan?"

Saya menggeleng.

"Itu saya buatkan kopi. Diminum, ya?"

Saya memandang arah yang ditunjuk teman saya. Sebuah baki bundar terhidang di atas meja transit para guru. Ada dua cangkir di situ. Satu berisi kopi hitam (saya kira itu milik teman saya, karena dia penggemar berat kopi), satu berisi moccacino (saya tebak itulah minuman yang teman saya tawarkan untuk saya). Terdorong rasa tidak enak, saya mengiyakan, mengucapkan terima kasih dan segera mendekati minuman yang ditawarkan teman saya. Mungkin murid saya bersedia berlatih semenit dua menit lagi sementara saya mencoba menghargai perhatian teman saya itu.

Di luar dugaan, ketika menyesapnya, moccacino itu terasa begitu nikmat mengalir di lidah saya. Moccacino itu tidak memiliki ramuan khusus. Hanya moccacino instan yang biasa saya lihat di warung-warung atau gerai supermarket. Tapi entah kenapa, mungkin karena takaran air yang pas, atau kehangatan air seduhnya yang tepat, atau mungkin juga karena otak saya sedang membutuhkan "colling downer" (^_^ istilah apa pula itu...), saya merasa moccacino ini begitu enak. Rasa manisnya dengan segera menenangkan syaraf saya yang tegang setelah bekerja dari pagi. Kehangatannya membuat saya nyaman. Sesaat saya seolah lupa kalau sedang mengajar. Alih-alih kembali ke kelas, saya justru menyempatkan diri untuk duduk dan menyesap habis moccacino tersebut sedikit demi sedikit sambil memandang keramaian lalu lintas di depan sekolah musik saya. Oh, rasanya menyenangkan sekali. Walhasil saya kembali ke hadapan murid saya sekitar 7 menit kemudian. Cukup lama, namun saya kembali dengan suasana yang lebih fresh.

Tanggung jawab memang perlu dalam tugas. Berusaha memuaskan customer atau klien juga penting. Tapi jauh lebih penting dari semua itu adalah menyempatkan sedikit waktu untuk menenangkan diri sejenak dan menyegarkan pikiran di tengah-tengah kesibukan yang melelahkan sepanjang hari. Bukan dilihat dari kuantitas waktu yang diluangkan, namun lebih kepada kualitas refreshing yang dilakukan. Mungkin hanya sekedar duduk memandang lalu lintas selama beberapa menit sambil menyesap secangkir moccacino sudah cukup untuk memulihkan energi dan suasana hati yang mulai terkuras selama setengah hari.

Mungkin saya patut berterima kasih dengan teman saya yang sudah berbaik hati "mengingatkan" saya pentingnya refreshing diri melalui Moccacino buatannya.


.

1 komentar:

  1. Padatnya kegiatanmu, Sis :) Aku tak pernah membayangkannya. Kamu "hebat" :)

    BalasHapus