Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

17 Mei 2009

Are We That Annoying?



Jadi semalam saya bersama teman saya memutuskan untuk menghadiri sebuah konser paduan suara yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Universitas negeri di kota kami. Kebetulan slah satu teman saya didaulat sebagai salah satu pianis dalam acara tersebut. Maka berangkatlah kami dengan misi untuk melihat hasil latihan mati-matian dirinya selama hampir dua minggu di sela-sela jam mengajar kami.

Ketika melihat nama teman saya terpampang sebagai pianis konser tersebut, saya berkelakar pada teman saya, “Gila aja, ntar bisa-bisa dia lebih beken sebagai pianis pop dari pada profesi aslinya dong.”

Teman saya tertawa. Agak ironis memang, karena di sekolah musik kami, kami berdualah yang kebagian mengajar piano sedangkan dia (si pianis konser teman saya itu) adalah guru biola. Ternyata istilah keahlian belum tentu sama dengan profesi tidak hanya berlaku di dunia kerja formal ^^.

Jujur, sejak datang, menonton konser memang tujuan kami. Bukan bermaksud mencela, tapi kami sudah bisa menebak sejauh mana konser yang akan kami lihat nanti. Dan kalau boleh jujur, kami sadar itu bukan sebuah pertunjukkan yang cukup membuat kami terpesona dan melongo. Penampilan teman kamilah yang menjadi daya tarik utama.

Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika memasuki gedung konser adalah tata panggung yang cukup artistik. Dari segi performance cukup menarik karena saya jarang menikmati konser seperti itu. Format acara dibuat formal dengan dress code night dress and suit untuk para pendukung acaranya. Pembawa acara juga membawakan susunan acara dengan formal. Hiburan yang disajikan terdiri dari lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara, vokal group dan solo. Musisi pendukung hanya terdiri dari piano dan bass serta gitar di beberapa lagu. Koreografi para penyanyi juga dibuat cukup menarik walaupun sejumlah kelemahan juga masih terlihat di sana-sini, seperti gerakan koreografi yang kurang rapi (melatih koreografi memang lebih baik dilakukan dalam studio dengan kaca-kaca di berbagai sisi sehingga minimal kita bisa melihat keseragaman gerakan antar pemain) atau beberapa suara yang menghilang (saya kira ini karena faktor teknis peralatan saja). Tapi selebihnya saya bisa bilang pertunjukkan yang ditampilkan cukup menghibur dan bagus.

Sayangnya, bukannya menunjukkan sikap penonton yang sudah terbiasa dengan acara konser sejenis, atau minimal menunjukkan sikap penonton yang baik (minimal mematuhi peraturan utnuk tidak membuat kegaduhan selama konser berlangsung), saya justru sibuk membahas tentang penampilan teman kami bersama teman saya yang lain, sesekali kami membahas kelemahan pertunjukan yang disajikan dan sedikit bergosip di sela-sela pembicaraan.

Sungguh, bukan maksud kami untuk mengganggu penonton lainnya. Saya hanya merasa sayang melewatkan kesempatan mengobrol dengan teman-teman saya hanya sekedar untuk menjaga image dengan berpura-pura menikmati sebuah pertunjukkan yang (sebetulnya) tidak terlalu menarik minat kami (tanpa bermaksud merendahkan kualitas konser yang sedang kami lihat). Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami tidak pantas untuk duduk tenang menghadap panggung konser. Mungkin seharusnya orang-orang seperti kami yang tidak tahu diri mengkritik di sana-sini lebih pantas ditendang keluar. Tapi tidak bisakah orang lain menganggap itu sebagai sebuah cara untuk berapresiasi dan mengemukakan pendapat? Lagipula apa yang kami bahas bukan hal yang tidak berdasar.

Ya, mungkin kami memang keterlaluan. Mungkin tingkah kami memuakkan. Untuk itu kami mohon maaf… ^^ Tapi kami hanyalah orang luar yang sekedar menjadi penonton. Bukan simpatisan, bukan anggota organisasi yang bersedia membela mati-matian harga diri komunitas. Kami hanya sekedar orang yang sedang cari hiburan yang berhubungan dengan dunia kami. Ketika kami merasa itu belum cukup menarik perhatian kami, apakah salah ketika mencoba mengapresiasi sesuatu dengan bebas?

Untuk para penonton dan panitia unit paduan suara universitas tercinta yang merasa terganggu dengan tingkah kami semalam, saya mohon maaf. Bagaimanapun, pertunjukkan yang telah ditampilkan patut diacungi jempol. Four thumbs up for the committee…….Dan sayapun terjatuh.

GUBBRAAKK!! Duhh!!


Read More..

19 April 2009

Secangkir Moccachino



Hampir setiap hari saya bekerja tanpa jeda selama beberapa jam, dari kelas satu ke kelas yang lain. Berjumpa dengan murid satu ke murid yang lain. Menyampaikan materi satu ke materi lain. Kadang seolah lupa dengan kebutuhan diri demi melayani para klien kecil saya tersebut. Waktu makan siang berlalu begitu saja, bahkan sholatpun jadi terburu-buru. Masih lebih baik kalau jadwal saya menyatu dalam satu lokasi....Yang repot adalah kalau harus mengejar di beberapa tempat yang berbeda dalam satu hari. Bayangkan harus menempuh jarak sekian km dalam menit seminimal mungkin. Beruntung saya tinggal di kota kecil tanpa momok macet yang menghantui lalu lintasnya. Setiap lokasi memang bisa dijangkau dalam hitunagn menit. Tapi harus meminimalisir menit yang dibuang selama perjalanan ke lokasi lumayan membuat gugup juga.

Hari inipun tidak jauh beda. Saya harus mengajar di tiga tempat berbeda tanpa waktu toleransi untuk perjalanan. Akibatnya saya seperti berkejaran dengan waktu demi memuaskan para klien saya (Waktu yang terbuang selama perjalanan kadang menghasilkan keluhan dari mereka). Saya tiba di sekolah musik itu sekitar 7 menit kemudian. Begitu datang, murid sudah menunggu di kelasnya. Kejadian sama terjadi di sekolah musik sebelumnya dan di rumah murid privat saya sebelumnya lagi. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan rekan selain tersenyum ramah dan menyapa mereka sekilas. Harus segera masuk kelas untuk mengajar, meminimalisir waktu yang terbuang karena jam berikutnya harus "terbang" lagi ke tempat yang lain. Tidak ada saat untuk bersantai bahkan sekedar beristirahat mengatur nafas.

Tapi hari ini sesuatu membuat saya menyadari satu hal penting di tengah kejaran waktu tersebut. Saat itu saya baru menyelesaikan setengah sesi mengejar saya. Saya minta ijin pada murid saya untuk ke toilet dan memberinya tugas untuk melatih lagu yang barusan kami pelajari bersama. Keluar dari toilet, seorang teman tiba-tiba mendekati saya.

"Mbak, belum makan siang, kan?"

Saya menggeleng.

"Itu saya buatkan kopi. Diminum, ya?"

Saya memandang arah yang ditunjuk teman saya. Sebuah baki bundar terhidang di atas meja transit para guru. Ada dua cangkir di situ. Satu berisi kopi hitam (saya kira itu milik teman saya, karena dia penggemar berat kopi), satu berisi moccacino (saya tebak itulah minuman yang teman saya tawarkan untuk saya). Terdorong rasa tidak enak, saya mengiyakan, mengucapkan terima kasih dan segera mendekati minuman yang ditawarkan teman saya. Mungkin murid saya bersedia berlatih semenit dua menit lagi sementara saya mencoba menghargai perhatian teman saya itu.

Di luar dugaan, ketika menyesapnya, moccacino itu terasa begitu nikmat mengalir di lidah saya. Moccacino itu tidak memiliki ramuan khusus. Hanya moccacino instan yang biasa saya lihat di warung-warung atau gerai supermarket. Tapi entah kenapa, mungkin karena takaran air yang pas, atau kehangatan air seduhnya yang tepat, atau mungkin juga karena otak saya sedang membutuhkan "colling downer" (^_^ istilah apa pula itu...), saya merasa moccacino ini begitu enak. Rasa manisnya dengan segera menenangkan syaraf saya yang tegang setelah bekerja dari pagi. Kehangatannya membuat saya nyaman. Sesaat saya seolah lupa kalau sedang mengajar. Alih-alih kembali ke kelas, saya justru menyempatkan diri untuk duduk dan menyesap habis moccacino tersebut sedikit demi sedikit sambil memandang keramaian lalu lintas di depan sekolah musik saya. Oh, rasanya menyenangkan sekali. Walhasil saya kembali ke hadapan murid saya sekitar 7 menit kemudian. Cukup lama, namun saya kembali dengan suasana yang lebih fresh.

Tanggung jawab memang perlu dalam tugas. Berusaha memuaskan customer atau klien juga penting. Tapi jauh lebih penting dari semua itu adalah menyempatkan sedikit waktu untuk menenangkan diri sejenak dan menyegarkan pikiran di tengah-tengah kesibukan yang melelahkan sepanjang hari. Bukan dilihat dari kuantitas waktu yang diluangkan, namun lebih kepada kualitas refreshing yang dilakukan. Mungkin hanya sekedar duduk memandang lalu lintas selama beberapa menit sambil menyesap secangkir moccacino sudah cukup untuk memulihkan energi dan suasana hati yang mulai terkuras selama setengah hari.

Mungkin saya patut berterima kasih dengan teman saya yang sudah berbaik hati "mengingatkan" saya pentingnya refreshing diri melalui Moccacino buatannya.


. Read More..

Study Tour Seorang Steve

“Miss, kemarin aku jalan-jalan ke sawah,”

Pemberitahuan itu disampaikan oleh salah satu murid saya, Sebut saja namanya Steve tadi siang. Sepintas tidak ada yang istimewa dengan pengumuman “pergi ke sawah” itu. Tapi ceritanya jadi lain kalau yang berkata adalah seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah swasta elit dengan fasilitas tiga bahasa pengantar, kurikulum standar internasional, bertempat tinggal di real estate paling elit di kota ini, memiliki orang tua yang keduanya pengusaha super sibuk, setiap hari diantar jemput supir dan kemana-mana ditemani pengasuh. Begitulah gambaran sosok seorang Steve kecil.


Tidak heran kegiatan “berjalan-jalan ke sawah” menjadi sebuah pengalaman baru baginya karena dia memang belum pernah melakukannya. Sebagai salah satu program pendidikan tahunan di sekolah Steve, berkunjung ke sawah bukan lagi menjadi kegiatan tidak penting. Porsinya menjadi sejajar dengan acara-acara studi tour atau field trip macam berkunjung ke balai penelitian, museum, institusi-institusi pendidikan dan tempat-tempat edukatif lainnya yang nilainya mampu menunjang nilai akademik siswa.

Steve lalu dengan antusias bercerita betapa menyenangkan berjalan di atas pematang sawah. Ketika saya tanya mengenai kerbau dan Pak tani (gambaran yang entah kenapa selalu diasosiasikan dengan sawah), maka Steve mengiyakan dengan gembira. Dia bilang dia sudah melihat sendiri kerbau dan Pak tani. Dia juga berkata bahwa dia takut naik kerbau. Menurut Steve, setelah puas berkeliling sawah, dia lalu berkumpul bersama teman-teman (beserta pengasuh atau orang tua masing-masing) dan guru-gurunya di sebuah gubuk yang lebar untuk bersantap siang. Entah kenapa saya jadi membayangkan sebuah suasana akrab yang sederhana. Bagi anak-anak yang terbiasa dimanjakan dengan fasilitas lengkap dan permainan modern, atau terbiasa dengan hiburan berduit macam TimeZone, Kidsania, Pameran dinosaurus atau minimal makan-makan di food court mall atau restoran elit bersama keluarga, saya yakin acara makan siang bersama di tengah sawah menjadi sebuah pengalaman yang berkesan.

Saya jadi ingat cerita murid saya yang lain, sebut saja Lia, yang bersekolah di sekolah dasar berstandar internasional lain di kota ini. Dia juga bercerita tentang kegiatan sekolahnya yang tidak kalah unik, yaitu berbelanja ke pasar tradisional. Bersama gurunya, Lia dan kawan-kawan mengadakan studi tour ke pasar tradisional terdekat (lagi-lagi tentu saja bersama pengasuh atau orang tua masing-masing). Masing-masing siswa diwajibkan membeli sayuran dan buah dibawah Rp 5.000,-. Setelah itu bahan-bahan yang dibeli dikumpulkan dan dimasakn bersama untuk makan siang bersama.

Mungkin di kota lain, kegiatan semacam itu bukan hal baru. Tapi informasi dari murid-murid saya itu memberi wawasan baru bagi saya mengenai perkembangan kurikulum dan kegiatan pendidikan Sekolah dasar, khususnya di sekolah-sekolah swasta berstandar internasional, yang belakangan sedang tumbuh subur di sini. Dibandingkan dengan materi pelajaran Sekolah Dasar konservatif yang saya terima ketika saya duduk di bangku SD, kegiatan berkunjung langsung ke sawah atau pasar tradisional terasa jauh lebih menyenangkan untuk dipelajari. Seorang murid yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah dasar di Australia bercerita pada saya kalau dia tidak harus membaca dan menghafal banyak buku pelajaran. Kegiatan yang paling sering dia lakukan dalam proses belajar mengajar adalah “membuat sesuatu”, “mengamati sesuatu” dan “bercerita” yang jauh lebih mengasyikan dibanding menghafal.

Memberikan metode-metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan memang bukan hal yang mudah. Saya sendiri mengalami masalah-masalah tersebut ketika harus menyampaikan materi-materi saya pada murid-murid saya. Namun bagaimanapun membangun antusiasme dan ketertarikan murid utnuk mempelajari dan memahami suatu materi adalah hal yang penting untuk diupayakan utnuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.

Yang lebih membuat saya salut lagi adalah usaha-usaha sekolah-sekolah elit itu untuk tetap memperkenalkan kepada siswa-siswanya kehidupan dan lingkungan awam di sekitar mereka. Setidaknya dengan begitu diharapkan anak-anak polos itu bisa merasakan sebuah kepedulian social, lebih menyatu dengan lingkungan dan masyarakat. Lega sekali mendengar kisah Steve dan Lia yang sama-sama merasa senang dan gembira dengan kegiatan itu. Anak-anak itu memang polos dan mudah sekali dibentuk. Bagaikan sebuah botol, mereka benar-benar masih memiliki banyak ruang kosong untuk diisi dengan air-air pengetahuan dan nilai moral positif. Menjadi tanggung jawab kita para pendidik dan orang yang lebih dewasa dan mengerti untuk menyediakan isi-isi positif itu.

Sedikit percakapan lanjutan saya dengan Steve berikutnya.
“Steve, kamu suka bahasa Inggris?”
“Nggak terlalu.”
“Paling sebel pelajaran apa?”
“Bahasa indonesia.”
“Paling mudah pelajaran apa?”
“Bahasa Mandarin.”
“Berarti suka bahasa Mandarin?”
“Enggak.”
“Terus sukanya pelajaran apa?”
“Math sama bahasa daerah.”
Betapa saya ingin mencubit pipi Steve yang montok itu karena gemas.

Read More..

Obat stress

Seorang teman tiba-tiba bertanya pada saya, "Mbak, obat stress apa ya?"

Sejenak saya termangu diam, bingung, atau lebih tepatnya ragu untuk menjawab. Dalam jeda waktu sekian detik itu saya berpikir, apa obat stress saya?
Jawaban umum yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah tertawa. Itu yang sering saya baca. Tertawalah, maka anda akan bisa terbebas dari stress. Maka saya nyaris menyarankan agar teman saya banyak membaca cerita humor atau menonton film bertema komedi. Atau bahkan (bila memungkinkan) mengikuti terapi tertawa. Saya segera menyadari itu bukan ide yang brilian. Teman saya tidak terlalu suka membaca dan dia jelas tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama menonton televisi. Lalu tentang saran terapi tertawa, mengalokasikan waktu dan dana untuk mengikuti terapi semacam itu jelas tidak masuk dalam kamus pegawai sekelas buruh seperti kami.

Maka saya pikirkan obat yang lain. Musik. Itu yang terkadang saya butuhkan ketika saya sedang banyak pikiran. Saya memutuhkan musik untuk menenangkan hati dan pikrian. Saya memerlukan musik untuk membantu saya menghilangkan pikiran negatif dan membuai saya ke alam mimpi. Saya memakai musik untuk membangkitkan inspirasi. Saya menggunaka musik sebagai obat stress. Tapi itu adalah saya bukan teman saya. Teman saya itu tidak terlalu gemar musik. Teman saya itu tidak tahu bagaimana musik yang bisa menenangkan jiwa. Teman saya adalah seseorang yang menganggap musik yang bagus adalah musik yang banyak digemari orang dan musik yang aneh adalah musik yang tidak digemari orang. Teman saya tidak pernah setuju dengan pendapat saya yang mengatakan bahwa Vivaldi dan Mozart bisa membawa ketenangan jiwa. Jadi, saya sampai pada kesimpulan musik bukanlah obat yang dia cari.

Ada resep lain yang terkadang saya pakai ketika saya mengalami stress berat. Saya suka ke dapur untuk membuat secangkir cappucino atau mencari cokelat dan biskuit manis di lemari persediaan. Gula dan cokelat bisa jadi obat yang mujarab untuk menjernihkan pikiran ruwet. Tapi obat itu bukan favorit saya. Alasannya sederhana. Saya takut kalap dan semakin berat. Teman saya itu mempunya sifat genetik yang tidak jauh beda dengan saya. Kami sangat responsif dengan gula dan karbohidrat. Jadi saya rasa, saran makanlah yang manis-manis kemungkinan besar hanya akan menambah beban stressnya.

Merasa berhutang atas sebuah jawaban, saya akhirnya balik bertanya, "Stress kenapa?" Maka sesi tanya jawab berubah menjadi sesi curhat. Tiba-tiba saja teman saya mulai berkeluh kesah tentang beban pekerjaan, tentang omelan atasan, tentang ketidak adilan dan tentang lainnya. Sejenak saya kembali termangu. Tiba-tiba saya tersadar beban pekerjaan itu tidak hanya cukup diatasi dengan cerita lucu, musik atau cokelat karena teman saya memang berbeda dengan saya. Masalah dia terlalu kompleks. Saya buntu, tidak tahu harus berkomentar apa.

Maka saya mengatakan sesuatu yang selalu menjadi senjata andalan saya ketika saya merasa buntu dan tidak tahu lagi harus berpikir apa. Di luar dugaan, ternyata teman saya memandang saya dengan lega. Katanya, "Mbak benar. memang itu satu-satunya obat stress yang paling mujarab."

Hanya ada satu jawaban yang bisa kita pikirkan ketika kita sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa dan berpaling kemana. Ikhlas, berserah diri dan berdoalah pada Yang Maha Kuasa.
Read More..

Mengenai Kesetaraan Gender

Dalam sesi kelas conversation tadi saya meminta siswa saya untuk bercerita tentang hal-hal menarik yang mereka alami belakangan ini. Salah seorang dari mereka menceritakan sebuah cerita yang menarik yang membuat saya berpikir mengenai sebuah tema yang tidak pernah ada habisnya untuk saya renungkan, yaitu mengenai masalah kesetaraan gender.

Siswa saya bercerita tentang sebuah diskusi menarik yang dilakukan bersama kelompok diskusinya kemarin. Diskusi diawali dengan sebuah cerita mengenai seorang laki-laki di Cina yang memiliki seorang istri dan seorang anak yang lumpuh. Dengan penuh kesabaran dan kesetiaan dia merawat istri dan anaknya. Suatu hari gempa melanda kotanya. Karena dia tidak mampu menyelamatkan istri dan anaknya sekaligus, maka dia memutuskan untuk mendampingi mereka di dalam rumah dan berserah diri kepada Tuhan sepenuhnya mengnai nasib mereka sekeluarga. Ajaib. Laki-laki itu selamat bersama anak dan istrinya dari deraan gempa. Berikutnya, laki-laki tersebut mendapat penghargaan dari pemerintah Cina karena ketulusan dan kesetiannya merawat istri dan anaknya.

Hal yang menarik muncul ketika diskusi mengenai cerita itu berlangsung. Siswa saya berpendapat bahwa pemerintah Cina terlalu berlebihan dalam menghargai perbuatan laki-laki dalam kisah itu. Menurutnya, merawat keluarga dengan tulus ikhlas adalah sebuah hal biasa bagi perempuan (siswa saya itu seorang perempuan). Selama ini tidak pernah terdengar apresiasi berlebihan terhadap seorang perempuan atas ketulusannya merawat dan memberikan kasih sayang pada keluarganya. Kenapa tindakan laki-laki itu bisa mengusik perhatian pemerintah akan sebuah ketulusan? Pertanyaan itu kemudian ditanggapi balik oleh sebuah pertanyaan lain, "Mengapa harus ada penghargaan bagi para perempuan yang bekerja dan dianggap sebagai seorang Srikandi, padahal bermata pencaharian itu adalah sebuah hal yang sangat biasa di mata laki-laki?"

Perdebatan itu membuat saya berpikir,
"Mengapa harus ada penghargaan ketulusan untuk para pria dan pengahargaan atas karier untuk para perempuan yang berkarya?"

Jawaban yang paling umum yang terlontar ketika saya coba balik menanyakan pendapat para siswa saya mengenai hal tersebut adalah bahwa sikap tulus dan setia seperti yang ditunjukkan oleh pria Cina itu adalah hal yang spesial bagi seorang laki-laki sementara soal karier cemerlang adalah hal yang spesial bagi para perempuan. Jawaban tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan sebuah stigma mengenai pembagian hal "yang biasa dilakukan oleh perempuan" dan hal "yang biasa dilakukan oleh laki-laki". Penghargaan tersedia bagi mereka-mereka yang mampu melakukan hal-hal di luar kebiasaan itu.
Maka berikutnya muncullah pertanyaan dalam benak saya,
"Kalau begitu, tidakkah penghargaan itu semakin memperjelas perbedaan (yang sebetulnya ada) pada pria dan wanita?"

Read More..

Sebuah ruangan ukuran 3x4

Tempat kerja saya berupa sebuah ruangan berukuran 4x3 m persegi, dengan jendela ventilasi dan pintu yang selalu tertutup rapat. Di dalam ruangan itu hanya terdapat seperangkat meja kerja, meja persegi ukuran 1x1,5 meter, sebuah lemari dan sebuah piano sudut. Lantainya marmer dan temboknya bercat putih.


Seluruh ruangan itu didominasi oleh warna putih. Saya biasanya menghabiskan rata-rata 7 jam sehari selama 6 hari kerja di dalam ruangan tersebut. Sesekali saya keluar untuk sholat, makan siang atau memenuhi panggilan biologis lainnya. Selain itu biasanya saya tidak pernah kemana-mana dari ruangan tersebut. Murid-murid datang dan pergi setiap 45 menit sekali.

Membosankan? Mungkin terdengar iya. Tapi bagi saya justru ruangan itu adalah tempat kedua yang paling nyaman setelah kamar saya (huehehehe.. kepikiran nggak mungkin saya orangnya kuper sekali?). Sebuah hiburan tidak ternilai bagi saya ketika "harus" bertemu dengan klien-klien kecil saya yang "ajaib-ajaib itu". Kadang capek memang menghadapi tingkah mereka. Tapi senang juga saat harus berbagi ceria. Yang lebih utama lagi, hal yang tidak akan pernah membuat saya bosan berada dalam ruangan itu adalah suara dentingan piano yang terdengar setiap saat dan gerakan gemulai jari-jari mungil dari klien-klien saya itu. Kalau sudah begini, saya bisa betah berjam-jam menikmati dentingan itu. Anak-anak dengan piano benar-benar pemandangan yang indah.. ^_^
Read More..

A teacher's mind

Salah satu hal yang paling berkesan sebagai seorang guru adalah ketika saya menyadari betapa cepat waktu berlalu dan betapa banyak perubahan yang terjadi saat melihat murid saya beranjak dewasa. Murid saya yang tadinya suka bercerita tentang benda-benda kesayangannya sekarang berubah bercerita tentang anak laki-laki yang dia sukai. Murid saya yang tadinya suka berlari kesana-kemari sekarang berubah menjadi lebih tenang dan dewasa.


Murid saya yang tadinya bersuara sopran sekarang berubah bersuara bass karena pertumbuhan pita suaranya. Dan terutama, mereka yang tadinya membuat saya harus menunduk untuk melihat, sekarang membuat saya harus mengangkat dagu sedikit hanya supaya saya mampu menatap mata mereka.

Menakjubkan sekali bila memikirkan perkembangan ini. Kadang saya bisa termangu sendiri memperhatikan murid-murid saya itu. Saya membayangkan bagaimana pertemuan-pertemuan pertama kami. Saya ingat sikap malu-malu dan takut-takut mereka. Saya masih bisa mendengar suara manja atau suara kecil mereka. Saya masih bisa merasakan tangan-tangan mungil mereka dalam genggaman saya. Saya ingat salah satu murid saya yang saat itu bahkan belum bisa berbicara dengan lancar (umurnya baru tiga tahun) sekarang sudah bisa dengan bandel "membantah" perintah-perintah saya dengan kata-katanya. Beberapa murid yang dulu masih berseragam merah-putih, selalu bermain-main setiap saya bertemu mereka, tiba-tiba saja saya sadari sudah berseragam biru-putih dan mulai berbicara tentang lawan jenis atau gosip-gosip dunia mereka. Betapa mengagumkan melihat mereka berkembang.

Hal lain yang tidak kalah menakjubkan adalah menyadarinya bagaimana kemampuan dan cara berpikir mereka berkembang dengan baik. Saya mempunyai seorang murid bahasa yang sangat pemalu hingga dia sendiri bilang selamanya dia tidak akan mungkin berani berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris. Kenyataanya sekarang kami bahkan selalu menjalani sesi belajar-mengajar 85% dalam bahasa Inggris. Seorang murid saya dulu selalu menghabiskan satu sesi pelajaran dengan berlari-lari kesana-kemari, mengajak saya bermain ala kuis televisi tanpa mau menyentuh piano semenitpun, sekarang bahkan sudah mulai mengikuti konser.
Terkadang ada rasa haru dan bangga melihat mereka tumbuh dan berkembang. Dalam pertemuan kami yang bisa dibilang singkat dalam kurun waktu sekian tahun (umumnya satu atau dua kali dalam seminggu untuk sesi sepanjang 45 menit hingga 1,5 jam), ada rasa yang tidak bisa dilukiskan melihat anak-anak ini. Ini hanyalah perasaan saya sebagai guru mereka.

Saya jadi berpikir bagaimana dengan para orang tua yang selalu mengikuti seluruh perkembangan putra-putri mereka? Pastilah perasaan itu akan jauh lebih dalam lagi. Sayang sekali bila ada orang tua yang sampai kehilangan kenangan atau kesempatan melihat pertumbuhan anak-anak mereka.

Sungguh, melihat mereka tumbuh dan berkembang benar-benar perasaan yang luar biasa.... ^_^
Read More..

Terharu lagi

Barusan saya mendapat kabar yang mengharukan dari sekolah musik tempat saya mengajar. Seorang murid saya lagi-lagi diundang untuk ikut ABRSM High Score's Concert. Ini yang ketiga kalinya setelah tiga periode saya menyertakan murid-murid bimbingan saya dalam ujian ABRSM. Lokasi konser kali ini di Semarang. Asyiknya.. akhirnya tiba juga saat mengunjungi Semarang dan bertemu serta berkenalan dengan guru dan siswa piano di Semarang... ^_^


Mungkin hal ini tidak terlalu istimewa. High Score's Concert sendiri adalah konser intern yang diselenggarakan oleh ABRSM (Associated Board of Royal School of Music, London) perwakilan Indonesia. Konser menampilkan para siswa yang berhasil memperoleh nilai tertinggi dalam ujian piano yang diselenggarakan oleh ABRSM di cabang-cabang ABRSM Indonesia. Para peserta konser diwajibkan menampilkan satu lagu ujian terbaik mereka disaksikan oleh pejabat ABRSM Indonesia, para guru, siswa lain dan kerabat mereka (kadang terdapat beberapa tamu dari umum yang sengaja ingin menonton konser atau resital kecil tersebut). Sifat yang intern ini membuat ABRSM High Score's Concert menjadi tidak terlalu istimewa dalam dunia klasik, terutama klasik di indonesia.

Namun bagi saya, yang bisa dibilang masih hijau sebagai pengajar di bidang ini, undangan terhadap murid saya merupakan suatu kepuasan tersendiri yang tidak bisa terlukiskan. Saya sangat menyadari bahwa keberhasilan ini bukan semata karena keberhasilan saya. Saya merasa sangat bersyukur diberi kesempatan untuk membimbing anak-anak dengan bakat musik yang bagus (tanpa kerja keras mereka, maka kerja keras sayapun tidak akan berarti). Tapi setidaknya, saya telah menunjukkan kepada mereka (yang sebelumnya sempat meragukan kemampuan saya) bahwa saya (dengan segala keterbatasan dan kepolosan yang saya miliki...^_^) ternyata mampu membentuk "sesuatu". Walaupun pengakuan itu tidak akan saya dengar, paling tidak saya telah "melihat" dan "menunjukkan" sesuatu.

Betapa bangga dan terharunya ketika kita bisa melihat dengan mata kita sendiri sebuah keberhasilan atau prestasi (sekecil apapun) yang telah kita coba raih dengan sungguh-sungguh. Pujian menjadi kebutuhan sekunder saat kita bisa melihat prestasi (kecil) itu, karena kita tahu sebuah bisikan dalam pikiran yang menyebutkan sesuatu yang jauh lebih penting dari itu.
"Saya telah melakukan yang terbaik untuk ini."
Read More..

Happy New Year 2008

Resolusi besar tahun 2007 yang telah tercapai :
-Internet koneksi di rumah
-Piano digital ( I luv my Casio. Sekarang tidak akan ada lagi keluhan tetangga yang terganggu karena piano Lester saya)
-Mastering some new piano scores (Amazing saya bisa main Fantasy impromptu juga akhirnya. Dan sekarang Etude Revolutionary...oh...Sugoi!)

Resolusi baru tahun 2008:
-Ujian praktek Piano
-Belajar biola klasik
-Belajar bahasa Jepang
-Belajar masak
-Nerbitin tulisan
-Cari cowok (ada yang mau daftar?)

HAPPY NEW YEAR 2008 Read More..

Saya pulaaangg...

Masih cerita tentang My family. Kalo tadi cerita tentang adek, sekarang ini kejadian lucu lainnya yang saya alami. Yah.. nggak perlu ketawa lah kalo nggak ngerasa lucu. Kejadiannya beberapa hari yang lalu. kejadian yangs empet bikin saya geli sekaligus terharu juga.

Malam itu, kayak biasanya saya pulang kerja jam sembilan malam. Seperti biasaya mommy sedang asik duduk nonton sinetron sambil mijetin bapak yang kayaknya dah tidur. Saya perhatikan sekilas beliau berdua. Sempat berpikir "Aduh, mereka tambah tua aja ya..."

Mommy serius banget nontonnya dan bapak, ugh... emang cuman pijetan mommy yang bisa bikin bapak pules kayak gitu...". Dan seperti biasanya pula saya langsung ke lantai atas begitu tidak menemukan makanan kecil sisa-sisa acara minum teh mommy dan bapak tadi sore. Biasa.. pulang kerja bawaan selalu lapar. Sebentar saja saya sudah ada di lantai atas, di depan komputer dan mulai berkelana di dunia maya, memperbaiki sosialisasi dan bersilaturahmi dengan teman-teman dan forum-forum yang ada. Berjam-jam kemudian saya ngerasa haus setengah matid an memutuskan untuk turun cari minum.

Tiba di lantai bawah, mommy dan Bapak keliatan udah pada terjaga kembalid an kali ini dua-duanya ribut mau menghubungi kantor saya. saya heran aja, ngapain jam setengah 12 mereka amu pada telepon kantor? Ntar kalo yang nerima bukan operator formal, tapi operator informalnya gimana?? Hiiii.... Sayapun nanya "Ngapain telepon kantor, mom?" Keduanya menoleh dan mommy terngaga. Bapak berseru tertahan, "Tuh, Yosi!" Halah, hiperbola nih..(kejadian aslinya nggak sedramatis itu sih...). "Kamu kapan pulangnya??" kata mommy panik. "Mommy kira kamu belum pulang! Khawatir nih. Mom udah mau telepon polisi tadi kalo nanti kamu dah nggak ada di kantor!" dan mommypun beristighfar berulang-ulang. Saya bengong sesaat. Hah! Jadi dari tadi gw balik kagak ada yang tahu?? Duh.... Siapa yang kurang perhatian nih?? Perasaan gw sudah cukup menimbulkan kegaduhan di awal tadi saat gw sampe (memang sih saya nggak terbaisa mengucapkan salam dengna keras). tapi...halo!! Bisa-bisanya kok kalian nggak pada tahu gw dah balik?? Itu motor padahal dah terparkir dengan manis di garasi!

"Mommy dari tadi kok nggak liat motor kamu?" Hah?? Pls. deh! "Ada yang menghalang-halangi pandangan mommy apa yah?" Ugh... siapa tuh? Gwpun meringis geli melihat mommy yang lemes campur lega menyadari putri "tunggalnya" (gw ngerasa jadi anak tunggal secara adek gw masih di jakarta, sementara adek yang satunay lagi "menghilang entah kemana" hahaha) ini ternyata udah berada di rumah dengan selamat dari tadi. Cuma kasian juga sih melihat beliau yang keliatan shock banget. habis itu mommy nggak berhenti cerita gimana paniknya dia dan bagaimana kronologis pemikiran dan tindakan yang dia lakukan selama mengkhawatirkan saya.

Denger itu semua gw jadi mikir, ternyata mommy begitu perhatiannya ke gw. Kata-kata mommy bikin saya tersentuh. "Kalo kamu belum pulang pada jam yang seharusnya kamu belum pulang, mommy khawatir banget..". bapak juga ikutan nimbrung, "Biasanya kan kalo pulang kamu langsung cari-cari makanan." Oh, oh.. siapa sangka mommy bapak yang selalu tampak tenang-tenang saja saat saya balik (tanpa menyambut dengan hangat atau bertanya ini-itu) ternyata sebenarnya memperhatikan jam pulang saya, memperhatikan kebiasaan saya dan hal-hal kecil yang biasa saya lakukan. Dan kekhawatiran mereka berdua, aduh... bikin saya terharu deh. Ternyata biar kacau begini, saya masih tetap jadi sumber perhatian mereka.

Orang tua saya bukan tipe yang suka mengumbar kasih sayang. Waktu kecil saya nggak biasa dibelai-belai mommy. Yang saya inget mommy punya suara yang bagus dan saya sama adek selalu bisa tidur dengan nyaman kalo mommy dah nyanyi lagu jawa "popok keli (sebetulnya gw gak tau judul lagunya tuh apa. Pokoknya ceritanya tentang anak cewek yang nyariin popok adek bayinya yang hanyut di sungai...halah..). Mommy dan Bapak juga jarang memuji-muji kita. Mereka orang-orang pekerja keras yang nggak banyak bicara. Itu juga yang meyebabkan anak-anaknya juga tumbuh jadi orang-orang yang nggak suka bilang kata-kata cinta (halah...!! Huahahahaha... entah kenapa kok jadi pengen ketawa ya). Orang yang belum kenal akan menganggap kita keluarga yang cuek dan kaku. Pernah ada temen adek saya yang heran banget ketika papasan sama mommy yang baru mau berangkat kerja. Dia heran aja kenapa adek saya cuek aja papasan di jalan sama mommynya.

Temen adek : "Itu yang barusan lewat bukannya mommy kamu?"
Adek: "Iya"
Temen adek: "Kok kamu nggak senyum atau nyapa?"
Adek: "Emang harus ya?"
Temen adek: "....." (bengong)

Tapi kecuekan dan kediaman kami ternyata tidak berarti kami tidak saling peduli. Waktu bapak sakit dan harus melewati masa kritis dan dirawat selama tiga bulan di rumah sakit menunjukkan sekali perhatian dan kasih sayang kami semua sebagai satu kelaurga. Well, I am proud about my family. Mungkin keluarga saya berisi orang-orang yang kaku dan tidak suka mengumbar kata-kata kasih sayang, peluk dan cium atau belaian lembut bagi sesama kelaurganya. dulu saya pernah iri sama teman yang punya ibu yang selalu meluk dan ciumin dia dengan hangatnya. Atau teman yang selalu ditemeni ortunya kemana-mana. sementara saya lebih sering dilepas sendirian. Tapi semakin bertambah umur saya makin sadar. Mungkin orang tua saya bukan orang tua yang spesial dan sempurna. Tapi satu hal yang saya tahu. Mereka akan selalu memperhatikan dan menyayangi saya (dan adek) dengan cara mereka sendiri.

Terus apa pula yang bisa saya ambil hikmahnya dari cerita di depan? hehehe... mungkin mulai sekarang saya sebaiknya bilang dengan lantang "Saya pulaaannggg...!!" setiap sampai di rumah (kayak yang ada di kartun-kartun Jepang). Yah, palingg nggak bikin pertanda kalau saya sudah di rumah dan tidak membuat mereka bingung lagi.
Read More..

Ketinggalan Kereta

First of all, I'd like to say Happy Idul Adha for you who celebrate it. Musim lebaran haji kali ini ada embah di purbalingga yang lagi wuquf di padang Arafah. Mbah, semoga baik-baik saja di sana. Oya, jangan lupa doakan cucumu ini supaya cepet dapet jodoh.. hahaha.
Di perumahan tempat saya tinggal qurban 30-an ekor kambing dan 3 ekor sapi.
Halah, info gak penting banget itu! Show off!! Hehehe.... lanjuutt....



Akhirnya setelah berjuang mati-matian, bisa juga masuk blog lagi. Phew!! Belakangan ini koneksi internet kacau balau lagi. Kali hostnya udah capek diteror terus sama saya. Belakangan juga saya jadi curiga jangan-jangan ada user koneksi yang donlot dengan brutal sehingga mengacaukan speed loading user lain (kalo dipikir-pikir itu kan yang dulu saya lakukan kepada yang lainnya. Ehm.. apakah ini suatu karma?)

Hari ini mau mulai tulis apa yah?? Oh sesuai judul kali yah... Ini adalah pengalaman terbaru dan terlucu di keluarga saya (mungkin yang lain mikir ini nggak ada lucu-lucunya sama sekali. tapi who care? Karena "lucu" itu sendiri adalah sesuatu yang relatif. Masalahnya buat keluarga saya yang nggak suka "ngelucu", hal ini termasuk "lucu")

Kemaren, malem takbiran, adek saya yang kerja di jakarta berencana mau mudik. Supaya besok paginya dia bisa sholat Ied bareng keluarga di purwokerto. Saya berasa udah ga sabar aja nungguin dia balik (padahal barusan ketemu beberapa bulan lalu). Yah, begitulah kalo terlalu aku sama adek perempuan. Secara selama ini dialah tempat sampah terbesar saya. jadi inget sama kata-kata muridku dua hari lalu,

Murid sy : "Miss! Ciciku (cici : kakak perempuan-red) mau balik natal nih. Aku harus nyiapin tenaga semaksimal mungkin"
Saya : "Haa? Emang kamu mau ngapain sama cici kamu?"
Murid sy : "Habis kalo dia balik kita pasti bakal berantem tiap hari. Aku nggak mau kalah terus!"
Saya: "......" (mikir betapa berbedanya dengan hubungan saya dan adik saya yang begitu manis, adem-ayem, rukun dan sempurna.....hahaha "Narsis mode": ON!).

Ok, deh, back to cerita adek. Karena saya dah ga sabar pengen ngontak dia, sayapun sms dia.

Saya : "Bo! Kamu nyampe jam berapa?"
Adek: (gak bales)
(Tiba-tiba hp berbunyi)
Adek: "Mbak, aku nggak jadi pulang. (diam) .... Aku ketinggalan kereta..(terputus)"

Sesaat saya nggak bisa berkata apa-apa. bengong. Pengen ketawa, penasaran, tapi kasihan. Murid yang lagi main piano di samping saya sampai nggak kena perhatian. Sampai akhirnya dia mencetus bete, "Miss! Aku dah selesai mainnya!" Sayapun balik lagi ke bumi.
Habis itu ngajar jadi ga konsen. Penasaran sama pengalaman adek kenapa kok bisa ketinggalan kereta. Ternyata Jakarta saat itu sedang diguyur hujan lebat. Terpaksanya adek malang itu nggak bisa ke stasiun naik ojek. Dia pake taksi ke Gambir. bayangin aja, jam pulang kantor jalanan macetnya kayak apa kalo kita pake kendaraan roda empat. So, adekpun menghabiskan waktu yang lebih lama dari perkiraanya di jalan. Ketika dia nyampe di Gambir kereta dah berangkat setengah jam yang lalu. Diapun menangis sesenggukan, terlantar sendirian di setasiun Gambir yang ramai (heheeh.. kalo kalimat ini sih sya ngarang aja. Lucu, ngebayangin kalo dia bener-bener terlantar di Gambir.. jahat ya??).

Yang buat saya heran sama pengalaman adek saya itu, kenapa juga udah ketinggalan kereta malah nangis bukannya menghubungi kita-kita yang di rumah. waktu saya tanya kenapa dia nggak menghubungi mommy, dia bilang belum bisa ngomong. Halah! bengong aja saya, kenapa juga nggak bisa ngomong? Emangnya dia mau ngaku kalo dia udah ML di luar nikah or menyukai sesama jenis?? Cuma ketinggalan kereta gitu loh... Not a big deal to be panic that way. Akhirnya saya yang inisiatif laporan ke mommy. dan seperti yang saya duga mommy langsung kontak adek dan memberikan dukungan moril supaya dia tetap tabah setelah ditinggal kereta di sana. Hanya dalam waktu beberapa menit adek dah nggak tersendat-sendat lagi ngomongnya. Dan dia bilang kalo dia mau pulang malam berikutnya, pake travel. Phew! Akhirnya dapet solusi juga dia...

Berkaca dari pengalaman adek, bikin saya merenung sekaligus geli. Pertama, sebagai seseorang yang tidak berdomisili di Jakarta, pengalaman adek bisa jadi gambaran betapa masalah lalu lintas jadi sebuah hell bagi warga jakarta (herannya kok banyak juga yang justru merindukan kemacetan itu). itu juga yang bikin saya males banget buat kerja di sana (walaupun sebagian besar teman saya bekerja di sana dan dengan sukses berhasil membuat saya iri..hiks..hiks..). Mommy juga bilang kalo untuk urusan yang satu itu, kalo kita dibatasi oleh waktu, kita mesti mempertimbangkan benar-benar alokasinya. Saya jadi mikir kalo saya tinggal di Jakarta saya pasti bakal punya masalah dengan punctual. Secara saya sudah terbiasa kalo berangkat kerja selalu tepat waktu (berangkatnya lho.. bukan datangnya). I mean : masuk jam 8, berangkat jam 8! Hehehe.. bukan kebiasaan yang bagus yah....

Kedua, Keluarga bisa jadi tempat pelarian yang bagus buat segala masalah dan kekacauan yang terjadi dalam hidup ini. Well, banyak pilihan sih tempat sampah lainnya buat membuang segala uneg-uneg dan masalah itu, misal: teman, pasangan, psikiater, pengunjung forum/blog, atau bahkan orang yang sekedar duduk di samping kita. Tapi menurut saya, keluarga adalah yang paling baik. Saya tidak bermaksud menyalahkan adek karena sikapnya yang awalnya tidak berniat membagi masalahnya dengan keluarga. Mungkin itu karena gengsi dia aja yang ngerasa dia bukan anak kecil lagi, so dia nggak perlu lah ngadu beginian ke ortu. Tapi, bisakah kita berubah di mata keluarga kita? Saya dan adek tetaplah seorang anak di mata ortu. Adek tetaplah adek di mata saya. Kakak tetaplah kakak di mata adek. Nggak akan ada yang berubah. Walaupun packaging mungkin berubah (disesuaikan sama usia), isinya tetap tidak akan berbeda. Buat saya, adek akan selalu menjadi adek kecil yang akan selalu dijaga dan dibimbing. Bagi ortu, saya dan adek akan selalu menjadi bayi mereka yang harus selalu dilindungi dan dibimbing. That is family. Nggak ada salahnya kita kembali menjadi apa adanya dan bermanja-manja dalam keluarga..... (hiks... hiks.. kok jadi berkaca-kaca ya mata saya)

Ya sud-lah... mungkin itu sedikit cerita untuk hari ini. Oya, kerasa ada yang bedakah dengan tulisan saya? Yup! Rasanya kok jadi lebih serius nih... huehehehe... mencoba merubah "gw" jadi "saya". Nggak papa lah.. Biar lebih sesuai sama renunganya. Ntar kalo mau nyante balik ke "gw" lagi.....hihihihi
Read More..

Bu Guru dan Anak-anaknya

Udah berminggu-minggu kayaknya nggak posting apapun di sini. janji untuk menulis sesering mungkin seolah hanya menjadi sekedar janji palsu.. halah.. hehehe.

Ada fenomena bagus yang terjadi belakangan ini. Temen-temen tiba-tiba banyak yang manggil gw "Bu Guru" dan "Miss". Hoho.. di sisi lain terdengar begitu mulia dan elegan, di sisi lainnya terdengar agak janggal secara gw bukan ibu-ibu gitu loohh... Eh, yah, mungkin diliat dari umur sebetulnya sudah layak buat jadi seorang ibu, tapi kan gw belum nikah! Please, deh!!


Apalagi setelah gw postings ebuah puisi tentang guru, aduhh..... makin banyak deh yang panggil Bu Guru. yah, sebetulnya ngga papa sih... Not a big deal for me. Gw cukup berusaha menikmati sebutan dan status itu kok..

Talking about teacher, mungkin sesuai dengan judulnya, topik pembicaraan gw kali ini bakal berhubungan sama yang namanya school and children, alias sekolah dan anak-anak.
Sebetulnya gw nggak bisa dibilang guru sepenuhnya sih. soalnya gw ngga ada pengalaman ngajar di sekolahan. dan OOT, gw sebenarnya paling nggak suka disuruh jadi guru sekolahan. Guru sekolahan itu enggak banget. Tiap hari mesti berangkat jam 7 pagi (gw aja yang harus berangkat jam 8 masih suka telat). Udah gitu harus tinggal di sekolah sampai minimal 1 jam setelah sekolah bubaran. Belum lagi tiap hari mesti berhadapand engan murid-murid yangs upper dupper antik (entah itu murid TK, SD, SMP atau SMA). Wah, pokoknya ngga banget deh!!

Kiprah mengajar gw dimulai waktu gabung sama sebuah Klub Conversation bahasa Inggris di universitas, Student English Forum. Di situ gw belajar dan digembleng mengenai kemampuan berbahasa Inggris, public speaking dan mengajar selama tiga tahun (gw menyebutnya My Informal English Diplomma Programme). Gw menjadi tentor mahasiswa baru untuk materi english conversation selama dua tahun di SEF. Lulus kuliah (yang berarti lulus dari SEF juga) membuat gw berpikir untuk go public (kayak perusahaan aja ..). Gw ngelamar kerja di lembaga bahasa Inggris dan ternyata gw diterima. Sekarang gw dah ngajar di kursusan dan menjadi guru privat bahasa Inggris selama kurang lebih 4 tahun. Lumayan juga pengalamanya. Gw pernah ngajar anak dari TK sampai yang udah bapak-bapak, dan setiap jenis murid membutuhkan metode dan pendekatan sendiri yang asyik.

Ada pengalaman yang unik, gw pernah punya murid aktivis dari sebuah ormas. Hoo... bicaranya dia ati-ati banget (soalnya dia bilang lagi dalam posisi menyembunyikan identitas..) Hohoho.. seraya kayak lagi ngomong sama anggota badan intelejensi negara deh. Tapi dia murid yang sangat lucu. Soalnya diledekin sama teman-teman sekelasnya tetep aja dia tebar senyum polos kesana-kesini. Lucu deh... Pengalaman terakhir yang paling tidak ada tandinganya adalah mengajar anak TK. Huaaa.....
Read More..

Internet Addicted

Gw mengakui kalo gw ternyata pecandu. Pecandu internet !! Gw adalah yang paling ribut kalo internet koneksi dirumah ketahuan nggak beres. Gw yang paling rajin sms dan telepon provider gw kalo koneksi gw bermasalah. Gw juga yang paling sering nyuruh dia dateng ke rumah gw buat memperbaiki trouble dengan internet gw (bahkan hanya sekedar mengencangkan kabel koneksi.. huu.. malu-maluin banget dah...). Dan yang terakhir, gw bahkan sampai bilang, "Mas, kalo njenenengan dah punya paket untuk bandwidth yang lebih cepet, saya ditawari aja. Biayanya naik nggak masalah..." What the hell !! Sekarang gw benar-benar yakin kalo gw internet addicted dan can't live without it !!


Bagaimanakah gw dulu berkenalan dengan yang namanya internet?? Gw pertama kali nyoba internet pas kelas 2 SMP. waktu itu satu-satunay warnet di Purwokerto baru ada di kantor pos. Dan tarifnya, ujubileh! Rp 15.000 per jam. temen gw, si Yesi yang ngajakin online (tentang Yesi, kapan-kapan gw cerita deh.. Dia bikin gw iri banget karena keberangkatanya ke China..). Karena penasaran, gwpun membobog (membongkar) celengan dan pergilah kita berdua ke warnet kantor pos itu.

Hell there! Gw menghabiskan satu jam lebih tanpa tau mesti ngapain. Bingung sama cara kerja internet (dasar gaptek!). Akhirnya kita berdua yang sama-sama bingung sepakat minta bantuan petugas. Akhirnya petugas turun tangan. Tapi entah karena petugasnya ternyata "kacau" atau memang waktu jaman itu internet koneksi di bumi purwokerto masih kacau-balau, setelah diutak-atik petugas, kita cuma bisa menikmati beberapa gambar Gil Ofarim !! Itu request Yesi (bukan request gw, secara gw selalu jijay bajay dari dulu sammpai detik ini sama Gil Ofarim, cowok bule sok seksi dengan rambut ala tiara sunsilk). Akhirnya be-te juga dan kamipun memutuskan untuk pulang.

Tapi heranya, setelah pengalaman yang tidak mengenakkan dengan internet itu, gw justru malah makin tertantang untuk menaklukan mekanisme penjelajahan internet. gw mondar-mandir ke warnet cuma buat menemukan cara bagaimana membuat account emaild engan tangan gw sendiri tanpa bantuan orang lain! Huh! Akhirnya berhasil juga bikin email tetap di yahoo (yang nggak pake acara error, nggak pake acara lupa ID, apalagi lupa password), yaitu email gw sekarang : yosi_hsn@yahoo.com (bertahun-tahun sudah gw memiliki email itu, tanpa ada problem bounching....hehehe)

Dan bertahun-tahun kemudian gwpun terus belajar ngenet. Hampir tiap minggu pasti wajib ngenet. sampe penjaga warnetnya kenal semua sama gw. Hobi gw main internet juga macam-macam. Mulai dari belajar browsing, belajar pake multimedia, belajar aktif di forum dan yang terakhir, belajar bikin website dan blog! Good progress, sekarang gw dah sedikit ngerti tentang kode html.

Pesta berlanjut ketika tetangga gw menawarkan kondeksi internet pribadi. WOW !! It is just like a dream come true! gwpun jadi maniak internet. tiap hari online, dari jam 9 - jam 12 (bisa lebih kelo besoknya libur). Gw donlot dengan brutal. Yg terakhir gw donlot film Saint-Seiya, film yang sangat gw pengeni. Bytenya nggak tanggung-tanggung, 200 mb-an per episode. Padahal ada 144 episode..(what a tiring job!!). Gw amaze banget sama speed koneksi internet gw yang super duper cepatnya. Ternyata eh ternyata... speed yang cepet itu karena gw makan bandwidth orang lain... hohoho.. Walhasil sama tetangga gw (sang provider), gwpun dijatah. Akibatnya internet koneksi gw mendadak jadi slow pisan. Gw setress dan akhirnya memutuskan untuk meneror dia supaya mengembalikan koneksi seperti semula. Alhasil sang provider menyerah dan berkata kalo bandwidth dibebaskan setiap hari MINGGU ! YESSS!!! Hari ini hari Minggu dan gwpun kembali mendonlot dengan amat sangat brutal!

Kiprah gw di dunia maya nggak terlalu mengesankan kok. Bertahun-tahun deal with internet, gw masih buta soal hacker. Membobol kartu kredit orang lewat internet cuma jadi sebuah mimpi yang nggak akan kesampaian (dulu gw pikir kayaknya bakal keren bisa nyatut kartu kredit orang, tapi sekarang berhubung gw udah punya kartu kredit sendiri, gw jadi mikir. Gila aja kalo kartu gw dibobol orang. Makanya gw sekarang menghapus keinginan itu dari otak gw). tapi setidaknya gw dah punya account standart bagi para netter. Hohohoho... pe-de.

Email : Gw dah punya di yahoo dan hotmail
Profil n blog : gw punya beberapa profile di FS, mySpace, k.com dan blogspot...lumayanlah...
Forum : Gw gabung beberapa forum
URL : Akhirnya gw punya website sendiri

Lumayan kan...... Paling nggak gw dah nggak segaptek dulu...
Read More..

Terharu..hiks..hiks..

Hari ini gw terharu deh... Yaitu waktu gw baca komik berjudul "Hamada Piano Salon". Sumpah ! menurut gw komiknya bagus.

Ceritanya ada seorang pianist yang berhenti jadi pianis terus memutuskan buat ngajar di rumahnya. Terus ceritapun bergulir dan dibagi menjadi beberapa episode. Tiap episode menceritakan Pak Hamada dengan satu muridnya. dengan metode mengajar yang unik dia berhasil mengatasi masalah-masalah murid-muridnya itu. Dan yang asyik lagi, semua murid yang pernah dia tangani terus jadi teman dan sahabat dia. Hoo... sumpah!! Tuh novel inspiratif banget!


Secara gw juga berprofesi sebagai guru piano (amatir..wew!). Habis baca komik itu gw jadi seolah dapet pencerahan mengenai motivasi nilai gw sebagai seorang guru.

Menjadi guru piano bukan hanya sekedar mengajarkan bagaimana memainkan lagu dengan benar atau bagaimana cara membaca not. Tapi lebih dari itu. Sebagai guru piano kita juga harus memahami murid kita. Apa sebenarnya yang menjadi kendala si anak dan itulah yang harus diatasi sebelum kita benar-benar memberikan materi lagu-lagu atau partitur (Thank you so much Mr. Hamada..). Satu hal lagi yang bener-bener gw pelajari dari komik itu adalah kalo kita mengajari anak piano, maka si anak harus "ingin" dan "suka" dulu. Tanpa itu, mau belajar berbulan-bulanpun nggak akan ada hasilnya. Nah mebangun ke"ingin"an dan ke"suka"an akan piano itulah yang harus dilakukan oleh seorang guru sebelum dia mengajarkan lagu. Nah, itu tuh... yang sulit banget dilakuin.

BTW, gw dulu kayaknya pernah loh punya ide untuk bikin cerita kayak gitu. maksudnya lakonya itu guru piano. Terus tiap serinya bercerita tentang pengalaman dia mengajar murid-murid yang berbeda. Dan satu lagi. Dia ada hubungan spesial dengan murid pertamanya.. hehehe. tapi ternyata semua itu udah tertuang di Hamada piano Salon. Jadi ya udah deh... Nggak tau suatu saat mau ditulis apa enggak. Takutnya malah memplagiat isi komik Hamada piano salon (karena saking terpengaruhnya...hahahaha).

Bicara soal piano, gw akhir-akhir ini agak malas latian (hooo...). Tapi gw sedang merasakan skill progress dalam kemampuan piano gw. Guru gw yang baru sangat membantu gw mencapai progress itu (i really admire you, madamme...). Sementara setelah liburan Lebaran ini, gw ngerasa semangat mengajar gw juga lagi naik lagi. Apalagi ditambah habis baca komik Hamada Piano Salon. Rasanya jadi tambah semangat deh buat ngajar.. Gw tau gw masih harus banyak belajar. tapi gw bisa nge-rate kalo sekarang gw jadi lebih baik dari yang dulu. Dan pemikiran itu bikin gw bahagia banget. Gw nggak peduli gimana situasi di sekolah musik tempat gw kerja (kapan-kapan gw ceritain deh about "hell" in there).

Oya, kemaren gw mampir ke kosan temen. Di sana dia cerita kalo temen kita berdua (satu kantor) ada yang mo cerai sama istrinya. Dan guess what?? Temen kita itu ternyata naksir sama temen gw..!! Hohohoho.. marriage is so complicated yah?? Gw jadi mikir ntar kalo gw nikah apa juga bakal dapat masalah serius semacam itu? Bisakah gw menghadapinya??

Makanya, Yos.. Cepetan nikah biar bisa segera meraskan misteri kehidupan berumah tangga.. Hahahaha! (Bagus bener yah buat dijadiin judul cerita...)
Read More..

Menulis = Aaaarrggghhhhh...!!!!

Terakhir gw posting berapa hari yang lalu yah?? (lupa....hiks!) Ini postingan kedua. Udah beberapa hari mulai masuk kerja lagi. Ngajar sana-ngajar sini. Be-te abis waktu mendapatkan murid yang dateng cuma separo. Untungnya bawa partitur buat latihan en buku-buku yang bisa dibaca. Paling hepi kalo dah jam pulang. Dua hari ini pulang gasik terus. Hari Kamis kemaren pulang jam 6 karena dah ngga ada murid. hari ini pulang gasik karena nggak ada kelas Korea.. huahh... bahagianya!


Habis ngecek accaount di Kemudian.com. Ada beberapa komentar dan semuanya.. hiks! ngasih koreksi yang nggak tanggung-tanggung. Gw sedih banget waktu ada yang komentar "Ceritanya kaku..." Huu..huu.. serasa mau mati deh.. Gw langsung ngerasa nggak berbakat banget buat nulis. Terus kenapa juga pas posting cerita-cerita pertama gw bisa dapet point 9- 10 gitu yah?? Point perfect yang diberikan kepada orang yang tepat ngga sih?? Ternyata masih banyak hal yang harus dipelajari kalo mau bener-bener jadi penulis. Yang paling utama adalah bagaimana cara menulis yang romantis dan mendayu-dayu... huuhh!! Nggak tahu kenapa ternyata gw bego banget sama soal yang satu itu. Kok selama ini gw nggak nyadar yah ??

Jadi bagaimana keputusan anda? Apakah akan tetap keep on fighting pada jalur menulis ? Mewujudkan ambisi lama yang belum kesampaian. satu ambisi udah terwujud loh.. yaitu, berkecimpung di dunia musik. Masih jelas banget di otak dulu waktu SD gw tergila-gila sama musik klasik, balet dan piano. mana pernah kepikiran kalo kelak gw bisa jadi guru piano. Punya piano sendiri pula. Nasib itu nggak bisa ditebak. Bahkan jadi apa kamu satu menit kedepan juga nggak akan ada yang tahu. Yang bisa dilakukan hanya berusaha dan terus berharap. Keyakinan dan kerja keras selalu membuahkan hasil yang maksimal... huah !! JAIYO !!
Read More..