Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

19 Juli 2009

Pada Sebuah Titik Saya Terhenti



Banyak orang yang saya kenal telah melaju selangkah demi selangkah dalam hidup mereka. Jenjang karier yang telah ditapaki, pernikahan yang telah dijalani, keluarga yang telah dimiliki dan berbagai kesempatan hidup yang telah didapati. Maka saya lantas bertanya pada diri sendiri, kapan saya seperti itu? Kenapa saya masih seperti ini, tanpa suatu perubahan yang berarti. Dari waktu ke waktu hanya sekedar mencoba untuk mengejar sesuatu yang baru. Begitu banyak yang harus dipahami dan didalami, seperti sumber air yang tidak pernah mati.


Saya menginginkan banyak hal yang belum sempat saya pelajari. Saya tidak ingin sesuatu yang setengah-setengah. Saya serius. Saya berkorban dan saya memulai semuanya dari nol. Saya habiskan sekian waktu dari saya untuk mendalami itu semua, menggapai mimpi-mimpi yang menggantung sangat tinggi di angkasa. Saya jatuh dan bangun. Saya terhimpit lalu mencoba lepas. Saya tidka mau menyerah. Saya hanya tahu satu hal, saya pasti bisa. Tapi impian itu masih tetap terlihat begitu jauh untuk diraih. Saya berpikir, kapan waktu itu tiba bagi saya mencapai, setidaknya, satu dari mimpi-mimpi di depan sana. Ketika saya tersadar, saya telah melupakan sekeliling. Saya telah menghabiskan waktu tanpa hasil yang pasti. Maka saya berpikir,

Apakah ini sebuah kesalahan besar?

Kadang saya menginginkan saat di mana saya tidak perlu bermimpi dan berambisi. Hidup damai mengikuti arus seperti para ahli spiritual itu. Tapi bukankah mereka memang telah mencapai ujung ambisi dan impian mereka? Saat di mana tak ada lagi sebuah ambisi. Kadang terpikir untuk apa berambisi bila pada akhirnya tidak akan pernah mencapai titik yang memuaskan. Kenapa harus memilih mengikuti kata hati yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru? Kenapa harus mengais tanah dan membuat jalan sendiri bila sudah ada jalan lurus yang siap ditapaki walaupun tidak menarik hati? Mengapa harus berambisi bila tidak bisa memiliki?

Satu-persatu mereka mendahuli saya, membuat saya mempertanyakan untuk apa perjuangan selama ini. Kenapa saya tidak memilih mengikuti jalan yang mereka tempuh. Ketika seorang teman berkeluarga, ketika mereka mapan dalam bekerja, ketika mereka melalui jalan yang dulu ingin saya lalui, salahkah saya bila merasa iri dan tidak tidak adil? Saya merasa hidup sekedar berputar seperti gasing tanpa tujuan yang jelas. Apakah yang sebenarnya saya cari?

Kenapa? Ada apa dengan saya?

Apakah saya tengah menjalani sebuah karma ketika saya selalu dibenturkan pada kenyataan selalu ada langit di atas langit yang telah saya daki. Kapan pencapaian ini berakhir? Apakah kekalahan-kekalahan harus terus saya jalani? Apakah sudah saatnya saya untuk berhenti? Menyerah dan putus asa?

Apa yang harus saya lakukan?

Saya tahu meratap tidak menyelesaikan masalah. Saya mengerti putus asa dan menyerah adalah sebuah kekalahan besar. Saya paham batas antara mawas diri, ikhlas menerima dan menyerah hanyalah layaknya benang yang sangat tipis. Saya tahu saya harus bangkit dari kegagalan dan mencoba untuk terus berjuang. Saya sadar doa (mungkin) bisa membantu mempermudah segalanya. Tapi sampai kapan saya akan terus berlari mengejar ambisi-ambisi ini?

Maka akhirnya saya berpikir,

akan jauh lebih baik bila sejak awal saya tidak pernah memikirkan sebuah ambisi.



Read More..

19 April 2009

Secangkir Moccachino



Hampir setiap hari saya bekerja tanpa jeda selama beberapa jam, dari kelas satu ke kelas yang lain. Berjumpa dengan murid satu ke murid yang lain. Menyampaikan materi satu ke materi lain. Kadang seolah lupa dengan kebutuhan diri demi melayani para klien kecil saya tersebut. Waktu makan siang berlalu begitu saja, bahkan sholatpun jadi terburu-buru. Masih lebih baik kalau jadwal saya menyatu dalam satu lokasi....Yang repot adalah kalau harus mengejar di beberapa tempat yang berbeda dalam satu hari. Bayangkan harus menempuh jarak sekian km dalam menit seminimal mungkin. Beruntung saya tinggal di kota kecil tanpa momok macet yang menghantui lalu lintasnya. Setiap lokasi memang bisa dijangkau dalam hitunagn menit. Tapi harus meminimalisir menit yang dibuang selama perjalanan ke lokasi lumayan membuat gugup juga.

Hari inipun tidak jauh beda. Saya harus mengajar di tiga tempat berbeda tanpa waktu toleransi untuk perjalanan. Akibatnya saya seperti berkejaran dengan waktu demi memuaskan para klien saya (Waktu yang terbuang selama perjalanan kadang menghasilkan keluhan dari mereka). Saya tiba di sekolah musik itu sekitar 7 menit kemudian. Begitu datang, murid sudah menunggu di kelasnya. Kejadian sama terjadi di sekolah musik sebelumnya dan di rumah murid privat saya sebelumnya lagi. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan rekan selain tersenyum ramah dan menyapa mereka sekilas. Harus segera masuk kelas untuk mengajar, meminimalisir waktu yang terbuang karena jam berikutnya harus "terbang" lagi ke tempat yang lain. Tidak ada saat untuk bersantai bahkan sekedar beristirahat mengatur nafas.

Tapi hari ini sesuatu membuat saya menyadari satu hal penting di tengah kejaran waktu tersebut. Saat itu saya baru menyelesaikan setengah sesi mengejar saya. Saya minta ijin pada murid saya untuk ke toilet dan memberinya tugas untuk melatih lagu yang barusan kami pelajari bersama. Keluar dari toilet, seorang teman tiba-tiba mendekati saya.

"Mbak, belum makan siang, kan?"

Saya menggeleng.

"Itu saya buatkan kopi. Diminum, ya?"

Saya memandang arah yang ditunjuk teman saya. Sebuah baki bundar terhidang di atas meja transit para guru. Ada dua cangkir di situ. Satu berisi kopi hitam (saya kira itu milik teman saya, karena dia penggemar berat kopi), satu berisi moccacino (saya tebak itulah minuman yang teman saya tawarkan untuk saya). Terdorong rasa tidak enak, saya mengiyakan, mengucapkan terima kasih dan segera mendekati minuman yang ditawarkan teman saya. Mungkin murid saya bersedia berlatih semenit dua menit lagi sementara saya mencoba menghargai perhatian teman saya itu.

Di luar dugaan, ketika menyesapnya, moccacino itu terasa begitu nikmat mengalir di lidah saya. Moccacino itu tidak memiliki ramuan khusus. Hanya moccacino instan yang biasa saya lihat di warung-warung atau gerai supermarket. Tapi entah kenapa, mungkin karena takaran air yang pas, atau kehangatan air seduhnya yang tepat, atau mungkin juga karena otak saya sedang membutuhkan "colling downer" (^_^ istilah apa pula itu...), saya merasa moccacino ini begitu enak. Rasa manisnya dengan segera menenangkan syaraf saya yang tegang setelah bekerja dari pagi. Kehangatannya membuat saya nyaman. Sesaat saya seolah lupa kalau sedang mengajar. Alih-alih kembali ke kelas, saya justru menyempatkan diri untuk duduk dan menyesap habis moccacino tersebut sedikit demi sedikit sambil memandang keramaian lalu lintas di depan sekolah musik saya. Oh, rasanya menyenangkan sekali. Walhasil saya kembali ke hadapan murid saya sekitar 7 menit kemudian. Cukup lama, namun saya kembali dengan suasana yang lebih fresh.

Tanggung jawab memang perlu dalam tugas. Berusaha memuaskan customer atau klien juga penting. Tapi jauh lebih penting dari semua itu adalah menyempatkan sedikit waktu untuk menenangkan diri sejenak dan menyegarkan pikiran di tengah-tengah kesibukan yang melelahkan sepanjang hari. Bukan dilihat dari kuantitas waktu yang diluangkan, namun lebih kepada kualitas refreshing yang dilakukan. Mungkin hanya sekedar duduk memandang lalu lintas selama beberapa menit sambil menyesap secangkir moccacino sudah cukup untuk memulihkan energi dan suasana hati yang mulai terkuras selama setengah hari.

Mungkin saya patut berterima kasih dengan teman saya yang sudah berbaik hati "mengingatkan" saya pentingnya refreshing diri melalui Moccacino buatannya.


. Read More..

Study Tour Seorang Steve

“Miss, kemarin aku jalan-jalan ke sawah,”

Pemberitahuan itu disampaikan oleh salah satu murid saya, Sebut saja namanya Steve tadi siang. Sepintas tidak ada yang istimewa dengan pengumuman “pergi ke sawah” itu. Tapi ceritanya jadi lain kalau yang berkata adalah seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah swasta elit dengan fasilitas tiga bahasa pengantar, kurikulum standar internasional, bertempat tinggal di real estate paling elit di kota ini, memiliki orang tua yang keduanya pengusaha super sibuk, setiap hari diantar jemput supir dan kemana-mana ditemani pengasuh. Begitulah gambaran sosok seorang Steve kecil.


Tidak heran kegiatan “berjalan-jalan ke sawah” menjadi sebuah pengalaman baru baginya karena dia memang belum pernah melakukannya. Sebagai salah satu program pendidikan tahunan di sekolah Steve, berkunjung ke sawah bukan lagi menjadi kegiatan tidak penting. Porsinya menjadi sejajar dengan acara-acara studi tour atau field trip macam berkunjung ke balai penelitian, museum, institusi-institusi pendidikan dan tempat-tempat edukatif lainnya yang nilainya mampu menunjang nilai akademik siswa.

Steve lalu dengan antusias bercerita betapa menyenangkan berjalan di atas pematang sawah. Ketika saya tanya mengenai kerbau dan Pak tani (gambaran yang entah kenapa selalu diasosiasikan dengan sawah), maka Steve mengiyakan dengan gembira. Dia bilang dia sudah melihat sendiri kerbau dan Pak tani. Dia juga berkata bahwa dia takut naik kerbau. Menurut Steve, setelah puas berkeliling sawah, dia lalu berkumpul bersama teman-teman (beserta pengasuh atau orang tua masing-masing) dan guru-gurunya di sebuah gubuk yang lebar untuk bersantap siang. Entah kenapa saya jadi membayangkan sebuah suasana akrab yang sederhana. Bagi anak-anak yang terbiasa dimanjakan dengan fasilitas lengkap dan permainan modern, atau terbiasa dengan hiburan berduit macam TimeZone, Kidsania, Pameran dinosaurus atau minimal makan-makan di food court mall atau restoran elit bersama keluarga, saya yakin acara makan siang bersama di tengah sawah menjadi sebuah pengalaman yang berkesan.

Saya jadi ingat cerita murid saya yang lain, sebut saja Lia, yang bersekolah di sekolah dasar berstandar internasional lain di kota ini. Dia juga bercerita tentang kegiatan sekolahnya yang tidak kalah unik, yaitu berbelanja ke pasar tradisional. Bersama gurunya, Lia dan kawan-kawan mengadakan studi tour ke pasar tradisional terdekat (lagi-lagi tentu saja bersama pengasuh atau orang tua masing-masing). Masing-masing siswa diwajibkan membeli sayuran dan buah dibawah Rp 5.000,-. Setelah itu bahan-bahan yang dibeli dikumpulkan dan dimasakn bersama untuk makan siang bersama.

Mungkin di kota lain, kegiatan semacam itu bukan hal baru. Tapi informasi dari murid-murid saya itu memberi wawasan baru bagi saya mengenai perkembangan kurikulum dan kegiatan pendidikan Sekolah dasar, khususnya di sekolah-sekolah swasta berstandar internasional, yang belakangan sedang tumbuh subur di sini. Dibandingkan dengan materi pelajaran Sekolah Dasar konservatif yang saya terima ketika saya duduk di bangku SD, kegiatan berkunjung langsung ke sawah atau pasar tradisional terasa jauh lebih menyenangkan untuk dipelajari. Seorang murid yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah dasar di Australia bercerita pada saya kalau dia tidak harus membaca dan menghafal banyak buku pelajaran. Kegiatan yang paling sering dia lakukan dalam proses belajar mengajar adalah “membuat sesuatu”, “mengamati sesuatu” dan “bercerita” yang jauh lebih mengasyikan dibanding menghafal.

Memberikan metode-metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan memang bukan hal yang mudah. Saya sendiri mengalami masalah-masalah tersebut ketika harus menyampaikan materi-materi saya pada murid-murid saya. Namun bagaimanapun membangun antusiasme dan ketertarikan murid utnuk mempelajari dan memahami suatu materi adalah hal yang penting untuk diupayakan utnuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.

Yang lebih membuat saya salut lagi adalah usaha-usaha sekolah-sekolah elit itu untuk tetap memperkenalkan kepada siswa-siswanya kehidupan dan lingkungan awam di sekitar mereka. Setidaknya dengan begitu diharapkan anak-anak polos itu bisa merasakan sebuah kepedulian social, lebih menyatu dengan lingkungan dan masyarakat. Lega sekali mendengar kisah Steve dan Lia yang sama-sama merasa senang dan gembira dengan kegiatan itu. Anak-anak itu memang polos dan mudah sekali dibentuk. Bagaikan sebuah botol, mereka benar-benar masih memiliki banyak ruang kosong untuk diisi dengan air-air pengetahuan dan nilai moral positif. Menjadi tanggung jawab kita para pendidik dan orang yang lebih dewasa dan mengerti untuk menyediakan isi-isi positif itu.

Sedikit percakapan lanjutan saya dengan Steve berikutnya.
“Steve, kamu suka bahasa Inggris?”
“Nggak terlalu.”
“Paling sebel pelajaran apa?”
“Bahasa indonesia.”
“Paling mudah pelajaran apa?”
“Bahasa Mandarin.”
“Berarti suka bahasa Mandarin?”
“Enggak.”
“Terus sukanya pelajaran apa?”
“Math sama bahasa daerah.”
Betapa saya ingin mencubit pipi Steve yang montok itu karena gemas.

Read More..

Obat stress

Seorang teman tiba-tiba bertanya pada saya, "Mbak, obat stress apa ya?"

Sejenak saya termangu diam, bingung, atau lebih tepatnya ragu untuk menjawab. Dalam jeda waktu sekian detik itu saya berpikir, apa obat stress saya?
Jawaban umum yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah tertawa. Itu yang sering saya baca. Tertawalah, maka anda akan bisa terbebas dari stress. Maka saya nyaris menyarankan agar teman saya banyak membaca cerita humor atau menonton film bertema komedi. Atau bahkan (bila memungkinkan) mengikuti terapi tertawa. Saya segera menyadari itu bukan ide yang brilian. Teman saya tidak terlalu suka membaca dan dia jelas tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama menonton televisi. Lalu tentang saran terapi tertawa, mengalokasikan waktu dan dana untuk mengikuti terapi semacam itu jelas tidak masuk dalam kamus pegawai sekelas buruh seperti kami.

Maka saya pikirkan obat yang lain. Musik. Itu yang terkadang saya butuhkan ketika saya sedang banyak pikiran. Saya memutuhkan musik untuk menenangkan hati dan pikrian. Saya memerlukan musik untuk membantu saya menghilangkan pikiran negatif dan membuai saya ke alam mimpi. Saya memakai musik untuk membangkitkan inspirasi. Saya menggunaka musik sebagai obat stress. Tapi itu adalah saya bukan teman saya. Teman saya itu tidak terlalu gemar musik. Teman saya itu tidak tahu bagaimana musik yang bisa menenangkan jiwa. Teman saya adalah seseorang yang menganggap musik yang bagus adalah musik yang banyak digemari orang dan musik yang aneh adalah musik yang tidak digemari orang. Teman saya tidak pernah setuju dengan pendapat saya yang mengatakan bahwa Vivaldi dan Mozart bisa membawa ketenangan jiwa. Jadi, saya sampai pada kesimpulan musik bukanlah obat yang dia cari.

Ada resep lain yang terkadang saya pakai ketika saya mengalami stress berat. Saya suka ke dapur untuk membuat secangkir cappucino atau mencari cokelat dan biskuit manis di lemari persediaan. Gula dan cokelat bisa jadi obat yang mujarab untuk menjernihkan pikiran ruwet. Tapi obat itu bukan favorit saya. Alasannya sederhana. Saya takut kalap dan semakin berat. Teman saya itu mempunya sifat genetik yang tidak jauh beda dengan saya. Kami sangat responsif dengan gula dan karbohidrat. Jadi saya rasa, saran makanlah yang manis-manis kemungkinan besar hanya akan menambah beban stressnya.

Merasa berhutang atas sebuah jawaban, saya akhirnya balik bertanya, "Stress kenapa?" Maka sesi tanya jawab berubah menjadi sesi curhat. Tiba-tiba saja teman saya mulai berkeluh kesah tentang beban pekerjaan, tentang omelan atasan, tentang ketidak adilan dan tentang lainnya. Sejenak saya kembali termangu. Tiba-tiba saya tersadar beban pekerjaan itu tidak hanya cukup diatasi dengan cerita lucu, musik atau cokelat karena teman saya memang berbeda dengan saya. Masalah dia terlalu kompleks. Saya buntu, tidak tahu harus berkomentar apa.

Maka saya mengatakan sesuatu yang selalu menjadi senjata andalan saya ketika saya merasa buntu dan tidak tahu lagi harus berpikir apa. Di luar dugaan, ternyata teman saya memandang saya dengan lega. Katanya, "Mbak benar. memang itu satu-satunya obat stress yang paling mujarab."

Hanya ada satu jawaban yang bisa kita pikirkan ketika kita sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa dan berpaling kemana. Ikhlas, berserah diri dan berdoalah pada Yang Maha Kuasa.
Read More..

Mengenai Kesetaraan Gender

Dalam sesi kelas conversation tadi saya meminta siswa saya untuk bercerita tentang hal-hal menarik yang mereka alami belakangan ini. Salah seorang dari mereka menceritakan sebuah cerita yang menarik yang membuat saya berpikir mengenai sebuah tema yang tidak pernah ada habisnya untuk saya renungkan, yaitu mengenai masalah kesetaraan gender.

Siswa saya bercerita tentang sebuah diskusi menarik yang dilakukan bersama kelompok diskusinya kemarin. Diskusi diawali dengan sebuah cerita mengenai seorang laki-laki di Cina yang memiliki seorang istri dan seorang anak yang lumpuh. Dengan penuh kesabaran dan kesetiaan dia merawat istri dan anaknya. Suatu hari gempa melanda kotanya. Karena dia tidak mampu menyelamatkan istri dan anaknya sekaligus, maka dia memutuskan untuk mendampingi mereka di dalam rumah dan berserah diri kepada Tuhan sepenuhnya mengnai nasib mereka sekeluarga. Ajaib. Laki-laki itu selamat bersama anak dan istrinya dari deraan gempa. Berikutnya, laki-laki tersebut mendapat penghargaan dari pemerintah Cina karena ketulusan dan kesetiannya merawat istri dan anaknya.

Hal yang menarik muncul ketika diskusi mengenai cerita itu berlangsung. Siswa saya berpendapat bahwa pemerintah Cina terlalu berlebihan dalam menghargai perbuatan laki-laki dalam kisah itu. Menurutnya, merawat keluarga dengan tulus ikhlas adalah sebuah hal biasa bagi perempuan (siswa saya itu seorang perempuan). Selama ini tidak pernah terdengar apresiasi berlebihan terhadap seorang perempuan atas ketulusannya merawat dan memberikan kasih sayang pada keluarganya. Kenapa tindakan laki-laki itu bisa mengusik perhatian pemerintah akan sebuah ketulusan? Pertanyaan itu kemudian ditanggapi balik oleh sebuah pertanyaan lain, "Mengapa harus ada penghargaan bagi para perempuan yang bekerja dan dianggap sebagai seorang Srikandi, padahal bermata pencaharian itu adalah sebuah hal yang sangat biasa di mata laki-laki?"

Perdebatan itu membuat saya berpikir,
"Mengapa harus ada penghargaan ketulusan untuk para pria dan pengahargaan atas karier untuk para perempuan yang berkarya?"

Jawaban yang paling umum yang terlontar ketika saya coba balik menanyakan pendapat para siswa saya mengenai hal tersebut adalah bahwa sikap tulus dan setia seperti yang ditunjukkan oleh pria Cina itu adalah hal yang spesial bagi seorang laki-laki sementara soal karier cemerlang adalah hal yang spesial bagi para perempuan. Jawaban tersebut secara tidak langsung telah menunjukkan sebuah stigma mengenai pembagian hal "yang biasa dilakukan oleh perempuan" dan hal "yang biasa dilakukan oleh laki-laki". Penghargaan tersedia bagi mereka-mereka yang mampu melakukan hal-hal di luar kebiasaan itu.
Maka berikutnya muncullah pertanyaan dalam benak saya,
"Kalau begitu, tidakkah penghargaan itu semakin memperjelas perbedaan (yang sebetulnya ada) pada pria dan wanita?"

Read More..

A God's hand

Seorang teman bercerita kalau dirinya baru saja kehilangan uang di dalam bis kota. Dia baru sadar kalau uangnya hilang ketika dia mengisikan bensin untuk motornya di pos bensin dekat kantor. Teman saya langsung lemas dan berusaha untuk menceritakan keadaanya pada petugas pos bensin. Petugas yang merasa kasihan menyarankan dia untuk meninggalkan kartu identitas dan mempersilahkannya pulang untuk mengambil uang.


Tiba-tiba datang sebuah mobil (cukup berkelas). Pengendaranya keluar untuk membeli bensin. Ketika urusannya selesai, dia membayar dengan uang pecahan besar. (Aneh) ternyata pos bensin itu tidak punya pecahan kecil untuk mengembalikan uang si pengendara mobil (Kenapa saya bilang aneh? Karena dari dulu setahu saya pos bensin justru sasaran orang untuk menukar uang pecahan besar. masa lembar sepuluh ribu saja tidak ada?). Lalu si pengendara mobilpun berkata,

"Ya sudah, mas. Kembaliannya dipakai untuk membayar bensinya bapak itu saja," katanya sambil menunjuk teman saya. Pengendara itupun masuk ke dalam mobilnya dan berlalu. Teman saya terlongo sejenak. Biaya yang dia butuhkan untuk membayar bensinya (lagi-lagi kebetulan) sama besar dengan kembalian untuk si pengendara mobil tadi. Ketika tersadar teman sayapun mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Ini bukan cerita fiktif. Ini nyata. Beberapa hal yang membuat saya terhatu dalam kisah ini adalah: masih adanya orang-orang yang peduli untuk berbagi dengan orang lain seperti bapak pengendara mobil itu. Kemudian, segala kebetulan yang terjadi dalam rangkaian kisah ini, mulai dari masalah teman saya, lalu kemunculan pengendara mobil itu, bagaikan sebuah skenario kebaikan yang begitu indah yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Bagi saya, kemunculan se pengendara mobil yang (tanpa sengaja) telah membantu kesulitan teman saya bagaikan perpanjangan tangan Tuhan dalam menolong umatnya.

Tuhan selalu siap membantu umatnya dalam bentuk apapun, melalui siapapun dan pada saat kapanpun bagi mereka yang percaya.
Read More..

Single or Double

Ide ini muncul pas gw lagi mandi (hohoho....sepeti biasa, kamar mandi selalu penuh dengan inspirasi). Kepikiran aja sebenarnya enak mana sih being single (a.k.a jomblo) or being double (a.k.a in relation).

Bagaimana dengan yosi pribadi? Oh, kalo gw dengan bangga tetap bertahan dengan status jomblo bahagia (kaleee...).


Habis jomblonya lamaaaa.. banget. Berarti kan emang betah ngejomblo, so pantaslah mengaku sebagai jomblo bahagia. Jadi, apakah saya lebih menyukai "Being single"? Ouww... tidak semudah itu kesimpulannya ternyata. Being single enggak banget ketika kita mulai kerasa kesepian. Memang sih ada teman, ada internet, ada film, ada piano, ada yang lainnya yang bisa menghibur dan menemani kesendirian itu. Tapi tetep tuh yang namanya loneliness selalu muncul di hati. Parahnya, loneliness sekecil apapun akan terasa sangat pedih bagi seorang single. Bayangkan aja saat sendiri, nggak ada yang bisa diajak berbagi. Rasanya kok jadi depresi banget sampe pengen bunuh diri....hahaha, ya nggak sampai segitunya lah saya (nggak tau kalo orang lain sih...)

Tapi emang jadi single itu ada enaknya kok. Setidaknya kita tidak perlu memikirkan orang lain, cukup diri kita sendiri. Mau ngapa-ngapain bebas-bebas aja. Mau begini-begitu tidak ada yang melarang. Hidup milik sendiri, segala sesuatu untuk sendiri. Waduh, kedengaran sangat egois yah? Tapi memang begitulah perasaan seorang jomblo. Kalo sedang bahagia-bahagianya, rasanya pengen deh hidup solitaire terus. Nggak perlu mikirin suami atau anak-anak. Well, at least nggak perlu mikir pacar deh.. hehehe.

Lah, terus gimana kalu being "double"? Berarti double tuh jauh lebih nggak enak yah? Dipikir-pikir sekali lagi sih... (dari kaca mata seorang jomblo seperti saya..hiks..hiks... kacamatanya burem, jadi dilap dulu..) terkadang justru ingin jadi double (secara gw dah bosen ngejombo!! huu..huu...). Jadi double tuh enak. Hidup milik berdua. Segala sesuatu bisa dilakukan berdua, merasakan indahnya berbagi segalanya. Iri deh kalo memikirkan hal-hal seperti itu. Indahnya suatu relationship, yang saling mengisi. Rasanya begitu lengkap deh hidup ini. Capek ada yang mijitin, sedih ada yang nemenin, marah ada yang dengerin... hohoho.. such a sweet live (eh.. gitu kan yah kira-kira?). Kalo begitu apakah dirimu ingin menjadi double? Nggak juga sih. Dipikir-pikir lagi, jadi double itu nggak enak karena harus berkompromi.

Kalo gitu mending yang mana dong? Being double or being single? Jawabannya "tergantung kali ya...". Pendapat adalah suatu yang sangat relatif. Single or double juga pendapat yang relatif. Seorang single pasti akan berpendapat double lebih enak dan sebaliknya. Itu seperti dua hal yang tidak dipisahkan.

Kalo buat gw pribadi sih, double or single, dua-duanya sama-sama ada enaknya dan tidak ada enaknya. Single itu enak karena ke"single"annya sekaligus nggak enak karena ke"single"anya. Sementara double itu enak karena ke"double"anya dan tidak enak karena ke"double"annya. Lagipula manusia itu memang ditakdirkan untuk menjalani dua-duanya. Manusia pasti akan jadi "double" karena manusia tidak mungkin menjalani hidup ini sendirian. Dan manusia pasti akan menjadi "single" ketika dia baru menapaki hidup dan menghadap kepada-Nya.

Jadi asyik mana? Being single or being double? Kalo gw bilang, "ASYIK DUA-DUANYA!"
Read More..

25 hours a day, please...

Huaaa... selalu saja berpikir andaikan gw bisa punya waktu lebih banyak dalam sehari. Rasanya 24 jam sehari kuraaannggg... banget untuk memberesi semua urusan dan tugas yang berjibun. Setiap ahri berangkat pagi dan pulang malem. udah gitu masih harus bagi waktu buat piano practising, garap tugas kuliah, belajar bahasa asing, nyiapin materi ngajar, baca-baca, bersosialisasi.. aduh, urusan gw kok banyak bener sih??


tapi setelah dipikir-pikir lagi, bener nggak sih sebenarnya kalau gw tuh butuh waktu 25 jam sehari untuk menangani semua urusan itu? kalod ipikir-pikir lagi, begitu banyak orang yang punya kesibukan jauh melampaui gw dan ternyata mereka tetap bisa menjalaninya dengan baik dan maksimal. Mungkin nggak kayak gw kali ya, yang selalu telat kalo berangkat kerja, selalu telat kalo ngumpulin tugas, nggak pernah briliant di pelajaran piano dan sebagainya dan sebagainya.

Kadang gw mikir aja, ketika gw berkeluh kesah tentang masalah waktu, itu sebetulnya hanyalah kemanjaan gw terhadap diri sendiri. Mungkin sebetulnya kalau mau ditelusuri lagi, waktu sebetulnya nggak pernah kurang untuk gw. Hanya gw aja yang mungkin terlalu banyak membuang waktu itu.

Let see the case, gw telat ngajar pagi. Biasanya gw menggerutu, itu gara-gara gw semalem ngelembur ngegarap tugas n bangun kesiangan. Padahal kalo dipikir ke belakang lagi, kenapa juga nggarap tugasnya sambil ngelembur? Ternyata oh ternyata, itu karena gw ngegarapnya sambil chatting!! (pantesan aja lama lah, yos!). Itu dia. Sebenarnya bukan karena waktunya yang sempit. tapi karena gwnya sendiri masih belum bisa mendisiplinkan diri dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Banyak orang super duper sibuk di dunia ini yang telah berhasil memanage waktu mereka yang hanya sebanyak 24 jam sehari untuk melakukan banyak hal. Gw jadi minder sama mereka. memang nggak pantas rasanya kalau kita merengek minta tambahan waktu menjadi 25 jam sehari. Justru terbatasnya waktu itulah yang harus membuat kita (dalam hal ini gw) terpacu untuk menghargainya. Kalau waktu bisa ditambah jadi 25 jam, pasti gw bakal minta "Tambah lagi dunk jadi 26 jam perhari..." Hell! manusia emang nggak pernah ada puasnya

Gw berpikir, konsep berkeluh kesah seperti ini justru tidak hanya berlaku untuk masalah waktu saja, melainkan juga berpengaruh untuk urusan-urusan lainnya di segala aspek kehidupan. Kalai dipikir-pikir, berapa kali kita berkeluh kesah dengan keadaan yang membenturkan kita pada suatu keterbatasan? "Kenapa ya gw nggak bisa ini nggak bisa itu?", "Kenapa gw nggak sekaya dia?" dan segudang kenapa yang lainnya. Pertanyaan semacam itu hanya akan membawa kita kepada kondisi penyalahan habis-habisan terhadap kondisi dan keterbatasan kita. Kenapa ya pertanyaanya nggak diubah aja jadi "Gimana ya gw biar bisa kayak dia?" dengan begitu diri ini bsia jadi termotivasi untuk berkreasi mensiasati keadaan dan menemukan solusi terbaik. Bukankah mendapatkan sesuatu yang melampaui keterbatasan kita adalah sesuatu yang manis?? Jadi kenapa nggak mulai sekarang "berhenti mengeluh" dan beralih ke "mencoba"?

Halah, Yos! Kamu ngoceh kayak yang ahli aja? Lha kamu sendiri piye???? Hehehehe, nyadar sesadar-sadarnya kalau diri ini masih jauh dari sempurna dan tulisan di atas hanyalah sebuah renungan diri yang pada akhirnya akan dipakai oleh diri sendiri (ceritanya dari sendiri, oleh sendiri untuk sendiri) Hehehehe....

Jadi, berhentilah meminta hari menjadi 25 jam. Perbaikilah diri agar bisa melakukanya hanya dalam waktu 24 jam! GANBATTE !!
Read More..

Keranjingan Chatting, Penasaran atau Narsisme??

Hari-hari belakangan ini berlalu dengan begitu aneh bagi gw. Maksudnya, gw ngerasa kalo schedule yang sudah tertata dengan rapi tiba-tiba saja jadi morat-marit nggak karuan. Bukan! Bukan karena gw lagi fall in love berat sama seseorang, atau gw lagi punya masalah yang bikin kepala seperti mau pecah (secara gw ngerasa kalo kepala mau pecah hampir setiap hari) atau karena gw lagi ga enak badan. Tapi ini karena keasyikan gabung sama sebuah komunitas yang ditujukan bagi orang-orang yang hobi menulis dan suka tulisan.


Pertama-tapa adalah memposting cerita. Kebijaksanaan point bikin gw selalu penasaran pengen melihat "Sudah berapakah point yang gw peroleh di sana?" Apakah sudah mencapai si A. si B atau si C. Berikutnya gw mulai kecanduan untuk posting cerita sering-sering. Waktu dan energi hanya digunakan untuk memikirkan tulisan macam apa yang akan gw posting berikutnya (panas nih...). Nah, segala daya dan upaya yang menuju ke arah situ telah memaksa gw mengorbankan semua energi, tenaga, pikiran dan waktu untuk menuli dan memeriksa. Terbengkalailah tugas, project dan orderan yang harus gw selesaikan saat itu.
Kekacauan semakin menjadi-jadi pas gw mulai kenal sama teman-teman baru di sana dan kita berchatting-chatting ria. Bisa lupa waktu tuh. Ini kali ya yang disebut sebagai keranjingan chatting.

Nah, kalau sudah gini, gw jadi mikir aja. Sebenarnya kenapa sih gw jadi begitu lupa daratannya? Setelah berpikir, ternyata itu semua dikarenakan oleh sebuah kehausan akan eksistensi diri (huahahaha.. bahasa yang sangat nge-sok!). Sosialisasi gw tidak bisa dibilang enggak bagus. Internet adalah salah satu pelampiasan kebutuhan akan eksistensid an aktualisasi diri (poor gw!). Makanya kalo udah chatting rasanya nikmat sekali. Dan masalah negokin point, bisa jadi itu karena rasa penasaran yang nggak bisa dikendalikan aja. Penasaran bagaimanakah orang-orang itu menilai gw yang menurut gw bagus ini. dan pemikiran itu disebut NARSISME yang sangat menghibur... hohoho.

Puyeng yah?? Soalnya pas nulis ini gw juga lagi puyeng berat.
Read More..